Dari pasokan pangan di Lombok, menyeberangi Selat Alas, hingga menjadi makanan bagi anak-anak di Sumbawa, ada rantai panjang yang bergantung pada konektivitas laut.
ZAINUDDIN, Wartawan Samawarea
Pukul 04.30 Wita, ketika sebagian besar rumah masih gelap dan aktivitas pasar baru mulai bergerak, Ahmad sudah menyalakan mesin truknya.
Ia memeriksa kembali muatan di bak kendaraan. Keranjang sayuran ditata agar tidak rusak selama perjalanan. Buah-buahan ditempatkan sedemikian rupa. Beberapa bahan mentah untuk kebutuhan dapur juga telah dimuat sejak dini hari. Tujuannya Sumbawa.
Namun perjalanan Ahmad bukan sekadar perjalanan seorang pengemudi truk membawa barang dari satu pulau ke pulau lain. Sebagian muatan yang dibawanya akan berakhir di dapur yang menyiapkan makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari kebun, pasar, dan pemasok di Lombok, bahan pangan itu harus melewati jalan darat menuju Pelabuhan Kayangan. Dari sana, muatan kembali bergantung pada laut. Kapal akan membawanya menuju Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat.
Setelah itu perjalanan berlanjut melalui jalan raya menuju titik distribusi dan dapur penyedia makanan MBG. Dari dapur, makanan kemudian dibawa ke sekolah-sekolah. Dan di ujung perjalanan itu ada anak-anak yang menunggu.
Rantai tersebut dapat diringkas dalam satu garis panjang: Lombok – Kayangan – kapal penyeberangan – Pototano – SPPG – sekolah – anak-anak penerima manfaat. Satu bagian saja tersendat, bagian lain ikut terdampak. Di situlah kisah tentang transportasi penyeberangan berubah menjadi cerita tentang ketahanan rantai pasok program nasional.
Laut yang Menjadi Jalan Pangan
Bagi NTB, laut bukan sekadar pemisah geografis. Laut adalah jalan. Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa berada dalam satu provinsi, tetapi dipisahkan oleh Selat Alas. Perjalanan darat dari satu pulau ke pulau lainnya harus disambung dengan penyeberangan. Lintasan Kayangan–Pototano menjadi salah satu penghubung utama tersebut.
ASDP menyebut lintasan Kayangan–Pototano sebagai jalur vital yang menghubungkan Lombok dan Sumbawa sekaligus menopang mobilitas masyarakat dan distribusi logistik. Pada Januari–Agustus 2025, lintasan tersebut melayani 889.682 penumpang dan 252.973 unit kendaraan. Angka itu menggambarkan besarnya arus manusia dan kendaraan yang bergantung pada jalur tersebut.
Di dalamnya terdapat kendaraan pribadi, sepeda motor, bus, hingga kendaraan logistik. Sebagian membawa barang dagangan. Sebagian membawa kebutuhan rumah tangga. Sebagian lainnya membawa bahan pangan. Dan dalam rantai pasok MBG, kendaraan-kendaraan tersebut berpotensi menjadi penghubung antara sumber pangan dan dapur-dapur penyedia makanan di Sumbawa.
Dari Lombok, Bahan Pangan Menyeberang
Lombok memiliki jaringan perdagangan dan produksi pangan yang menjadi salah satu sumber pasokan bagi kebutuhan wilayah lain di NTB. Dalam skema yang digambarkan melalui perjalanan Ahmad, sayuran, buah, dan bahan mentah dikumpulkan dari pemasok di Lombok sebelum dikirim menuju Sumbawa.
Perjalanan bahan pangan itu berbeda dengan perjalanan barang biasa. Sayuran dan buah memiliki batas waktu. Kualitasnya dapat menurun jika terlalu lama berada dalam perjalanan. Karena itu, ketepatan waktu menjadi bagian penting dari rantai distribusi.
Bagi pemasok, kapal bukan sekadar alat angkut. Kapal adalah bagian dari jadwal distribusi. Bagi pengemudi truk, jadwal kapal menentukan kapan perjalanan berikutnya dapat dilakukan. Bagi dapur MBG, kedatangan bahan menentukan kapan proses memasak dapat dimulai. Dan bagi anak-anak penerima manfaat, seluruh rantai tersebut pada akhirnya menentukan apa yang tersaji di meja makan mereka.
Satu Truk, Banyak Kepentingan
Ahmad mungkin hanya mengemudikan satu truk. Namun truk itu membawa kepentingan banyak pihak. Ada petani yang menanam sayuran. Ada pedagang yang membeli hasil produksi. Ada pemasok yang mengumpulkan dan mengemas bahan. Ada pengemudi yang membawa muatan ke pelabuhan. Ada petugas yang mengatur kendaraan. Ada awak kapal yang menjalankan penyeberangan. Ada distributor di Sumbawa. Ada pengelola SPPG yang menerima bahan. Dan ada anak-anak yang akhirnya menyantap makanan tersebut.
Karena itu, satu perjalanan logistik sesungguhnya merupakan perjalanan ekonomi yang panjang. Jika salah satu mata rantai terganggu, efeknya dapat bergerak hingga ke hilir. Dalam program MBG, hilir itu adalah penerima manfaat.
[DATA PENTING: jumlah penerima manfaat MBG di Pulau Sumbawa]
[DATA PENTING: jumlah SPPG aktif di Pulau Sumbawa]
Dua angka tersebut penting untuk menunjukkan besarnya skala kebutuhan yang harus ditopang oleh sistem distribusi. Sebab semakin banyak anak yang harus dilayani, semakin besar pula kebutuhan bahan pangan yang harus tersedia secara rutin.
Jika Kapal Tidak Berangkat
Bayangkan sebuah kapal tidak dapat berangkat sesuai jadwal. Truk yang membawa sayuran masih berada di Kayangan. Buah yang seharusnya tiba di Sumbawa masih berada di Lombok. Dapur MBG menunggu. Pengelola distribusi harus mencari solusi. Menu mungkin harus disesuaikan. Dan jika gangguan berlangsung lebih lama, persoalannya dapat berkembang menjadi masalah pasokan. Di sinilah kerentanan wilayah kepulauan menjadi nyata.
Transportasi laut merupakan kekuatan karena mampu menghubungkan pulau-pulau. Tetapi pada saat yang sama, ia juga menjadi titik yang harus dijaga karena ketika konektivitas terganggu, distribusi antarpulau ikut terganggu. Karena itu, program nasional yang berjalan di wilayah kepulauan membutuhkan lebih dari sekadar dapur. Ia membutuhkan rantai pasok yang tangguh.
ASDP di Tengah Rantai yang Panjang
ASDP tidak memasok sayuran. ASDP tidak memasak makanan. ASDP juga bukan pengelola program MBG. Namun operator penyeberangan memiliki fungsi penting pada salah satu mata rantai: memindahkan kendaraan dan barang dari satu pulau ke pulau lainnya. Itulah yang membuat peran ASDP dalam konteks MBG menjadi menarik untuk dilihat.
Ketika truk logistik dapat menyeberang, distribusi dapat dilanjutkan. Ketika perjalanan tertata, pemasok dapat menyusun jadwal. Ketika pelabuhan berjalan lancar, kendaraan dapat segera melanjutkan perjalanan setelah tiba di Sumbawa. Dengan kata lain, transportasi menjadi infrastruktur yang mendukung program yang berada di luar sektor transportasi itu sendiri.
ASDP sendiri menyebut Kayangan–Pototano tidak hanya penting bagi mobilitas masyarakat, tetapi juga menopang distribusi logistik dan rantai pasok pangan di NTB.
Digitalisasi Mengubah Cara Orang Menyeberang
Rantai pasok modern membutuhkan kepastian. Karena itu, digitalisasi layanan penyeberangan menjadi bagian penting dalam transformasi transportasi. Kayangan dan Pototano termasuk pelabuhan yang telah menggunakan sistem reservasi tiket online ASDP. Sistem tersebut memungkinkan pengguna merencanakan perjalanan sebelum tiba di pelabuhan.
Bagi kendaraan logistik, kepastian jadwal memiliki nilai ekonomi. Semakin terencana perjalanan, semakin mudah pemasok memperkirakan waktu keberangkatan dan kedatangan.
ASDP juga menjelaskan bahwa digitalisasi tiket membantu mendistribusikan arus kedatangan pengguna jasa, mempercepat proses pelayanan, dan mengurangi antrean di pelabuhan. Data manifest yang lebih akurat juga mendukung aspek keselamatan.
Pada 2025, ASDP melaporkan Ferizy telah memiliki 3,23 juta pengguna hingga Agustus, naik 24,7 persen dibandingkan periode pembanding yang disebut perusahaan. Sistem tersebut juga memungkinkan pembelian tiket hingga H-60 sebelum keberangkatan.
Teknologi dalam konteks ini bukan sekadar aplikasi. Ia menjadi bagian dari bagaimana mobilitas manusia dan barang diatur agar lebih terprediksi.
Laut Tidak Selalu Bersahabat
Ada faktor yang tidak bisa dikendalikan oleh aplikasi. Cuaca. Angin. Gelombang. Keselamatan selalu menjadi pertimbangan utama dalam transportasi penyeberangan.
Dalam kondisi tertentu, perjalanan dapat mengalami penyesuaian atau penundaan demi keselamatan. Bagi penumpang biasa, penundaan mungkin berarti perjalanan yang tertunda. Bagi kendaraan yang membawa bahan pangan, konsekuensinya bisa lebih kompleks. Sayuran dan buah membutuhkan penanganan yang baik. Waktu tempuh memengaruhi kualitas. Dan semakin lama kendaraan tertahan, semakin besar pula tantangan distribusinya.
Karena itu, kepentingan menjaga pasokan MBG tidak boleh diterjemahkan sebagai tuntutan agar kapal selalu berlayar dalam kondisi apa pun. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu menjaga keselamatan sekaligus kontinuitas distribusi.
Berapa Lama Stok Bisa Bertahan?
Di titik inilah satu pertanyaan penting perlu dijawab oleh pengelola MBG di Sumbawa. Berapa lama persediaan bahan pangan di dapur dapat bertahan jika pasokan dari Lombok terganggu?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menunjukkan seberapa tangguh rantai pasok MBG. Jika dapur memiliki cadangan beberapa hari, risiko gangguan dapat diredam. Jika cadangan hanya cukup untuk satu hari, ketergantungan terhadap kelancaran distribusi menjadi jauh lebih besar.
[WAWANCARA SPPG: stok rata-rata bahan pangan]
[WAWANCARA SPPG: berapa hari dapur dapat beroperasi tanpa pasokan baru]
[WAWANCARA BGN: skema mitigasi ketika distribusi antarpulau terganggu]
Dari Lombok, Menyeberang Laut untuk Sepiring Makanan Bergizi
Pagi belum benar-benar ramai ketika aktivitas di dapur SPPG Uma Beringin, Kecamatan Unter Iwis, dimulai. Di dapur ini, sayuran dan buah bukan sekadar bahan masakan. Keduanya menjadi bagian penting dari menu yang setiap hari disiapkan untuk ribuan penerima manfaat.
Namun, sebagian besar bahan pangan itu harus menempuh perjalanan cukup panjang sebelum tiba di dapur.
Kepala SPPG Uma Beringin, Kecamatan Unter Iwis, Ardi Kurnia, mengatakan sebagian besar pasokan logistik, terutama sayur dan buah, masih didatangkan dari Pulau Lombok.
Kebutuhannya tidak sedikit. Untuk melayani sekitar 3.940 penerima manfaat, dapur yang dipimpinnya membutuhkan sekitar 120 hingga 150 kilogram sayuran setiap hari. Jika dikalkulasikan dalam sebulan, kebutuhan tersebut mencapai sekitar 2 hingga 3 ton.
Wortel, kol, buncis, dan labu siam menjadi beberapa jenis sayuran yang hampir seluruhnya didatangkan dari Lombok. Bukan semata karena persoalan harga atau ketersediaan, tetapi karena komoditas tersebut belum banyak ditanam oleh petani lokal Sumbawa.
Begitu pula dengan buah. Hampir seluruh kebutuhan buah untuk dapur SPPG Uma Beringin masih bergantung pada pasokan dari Lombok.
Di titik inilah perjalanan logistik menjadi persoalan tersendiri.
Sayuran dan buah adalah bahan pangan yang tidak bisa terlalu lama menunggu. Semakin panjang perjalanan dan semakin lama berada dalam proses pengiriman, semakin besar pula risiko penurunan kualitas. Bahkan, keterlambatan pasokan bisa membuat sebagian bahan tidak lagi layak digunakan.
Bagi dapur SPPG, persoalannya bukan hanya kerugian bahan baku. Ketika sayur atau buah terlambat dan mengalami kerusakan, dapur juga harus mencari pengganti agar kebutuhan gizi penerima manfaat tetap terpenuhi.
Ardi mengatakan, idealnya pasokan dari Lombok sudah tiba di Sumbawa paling lambat dalam waktu satu hari. Karena itu, kelancaran mobilisasi dari Lombok menjadi sangat menentukan keberlangsungan dapur.
Untuk mengantisipasi risiko kerusakan selama perjalanan, SPPG yang dipimpinnya juga telah membuat komitmen tertulis dengan pihak pemasok. Jika bahan pangan rusak dalam proses pengiriman, pemasok berkewajiban menggantinya.
Namun, persoalan logistik menjadi lebih menantang ketika dapur yang dilayani berada jauh di pelosok Sumbawa.
Ardi juga dipercaya memimpin SPPG Lunyuk Ode, di Kecamatan Lunyuk, wilayah paling selatan Kabupaten Sumbawa. Dapur tersebut memiliki catatan khusus karena merupakan dapur SPPG pertama yang beroperasi di Kabupaten Sumbawa.
Jarak yang lebih jauh membuat perjalanan logistik dari Lombok menuju Lunyuk membutuhkan waktu lebih panjang. Untuk menjangkau daerah tersebut, pasokan dari Lombok memanfaatkan bus Damri, angkutan umum milik negara dengan trayek perintis yang menjangkau wilayah-wilayah pedalaman.
Perjalanan logistik yang panjang membuat dapur harus memiliki rencana cadangan. Terutama untuk buah yang lebih rentan mengalami kerusakan selama perjalanan.
Jika buah yang sudah direncanakan dalam menu belum tiba, dapur tidak mungkin menghentikan pelayanan. Menu harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.
“Jika buahnya telat datang, kita terpaksa mengganti buah yang sudah direncanakan dengan buah lain. Mentok-mentoknya kita pakai pisang atau semangka,” kata Ardi.
Di balik sepiring makanan bergizi yang sampai ke tangan penerima manfaat, rupanya ada perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat. Ada sayuran yang harus menyeberangi laut, buah yang bergantung pada jadwal angkutan, serta dapur yang harus sigap mencari alternatif ketika pasokan tersendat.
Bagi SPPG, memastikan makanan tetap tersedia setiap hari bukan hanya soal memasak. Ada rantai pasok yang harus bergerak tepat waktu—dari petani dan pemasok di Lombok, menyeberangi Selat Alas, hingga akhirnya tiba di dapur-dapur SPPG di Sumbawa.
Sebab, ketika satu mata rantai terlambat, yang dipertaruhkan bukan hanya kesegaran sayur dan buah, tetapi juga keberlangsungan pemenuhan gizi ribuan penerima manfaat.
Data tersebut akan menjadi salah satu bagian paling penting dalam mengukur ketahanan program.
Bukan Hanya Soal Transportasi
Di balik persoalan pasokan, terdapat pertanyaan yang lebih besar. Mengapa bahan pangan untuk kebutuhan Sumbawa harus didatangkan dari Lombok? Apakah produksi lokal belum mencukupi? Ataukah persoalannya terletak pada kapasitas pengumpulan, standar kualitas, kontinuitas produksi, atau jaringan distribusi?
Jika sebagian kebutuhan sayur, buah, dan bahan mentah masih bergantung pada Lombok, maka program MBG sekaligus membuka peluang untuk memperkuat produksi pangan lokal Sumbawa. Artinya, solusi jangka panjang tidak cukup hanya memastikan kapal tetap berjalan.
Produksi lokal juga perlu diperkuat. Petani dan peternak Sumbawa dapat didorong menjadi pemasok. Pelaku UMKM pangan dapat masuk ke rantai pengadaan. Sistem distribusi lokal dapat diperkuat. Dengan begitu, MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi. Ia juga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah.
Dari Petani Lombok ke Anak Sumbawa
Bayangkan satu kilogram sayuran. Ia mungkin bermula dari kebun di Lombok. Dipanen pagi hari. Dikumpulkan oleh pemasok. Dimasukkan ke truk. Dibawa menuju Kayangan. Menunggu giliran masuk kapal. Menyeberangi Selat Alas. Keluar di Pototano. Kemudian dibawa menuju dapur. Dicuci. Dipotong. Dimasak. Dikemas. Dibawa ke sekolah. Dan beberapa jam kemudian, berada di piring seorang anak.
Perjalanan itu panjang. Namun hampir seluruh proses tersebut terjadi tanpa diketahui anak yang menerima makanan. Ia hanya melihat makanan yang sudah tersaji. Padahal sebelum makanan itu sampai kepadanya, terdapat jaringan manusia dan infrastruktur yang bekerja.
Sebuah kapal bukan sekadar kapal. Sebuah truk bukan sekadar truk. Sebuah pelabuhan bukan sekadar tempat kendaraan masuk dan keluar. Semuanya adalah bagian dari sistem yang membuat kebutuhan dasar masyarakat dapat bergerak.
NTB dan Wajah Negara Kepulauan
Kisah Lombok–Sumbawa juga menunjukkan persoalan yang lebih besar dalam pembangunan Indonesia. Indonesia adalah negara kepulauan. Jarak antarwilayah tidak selalu dapat diatasi dengan jalan raya. Ada laut yang harus diseberangi.
Karena itu, transportasi penyeberangan menjadi bagian integral dari konektivitas nasional. ASDP memasukkan Kayangan–Pototano dalam daftar lintasan vital dengan mobilitas tinggi yang dipantau dalam jaringan penyeberangan nasional.
Dalam konteks NTB, jalur tersebut menghubungkan dua pulau utama dan memungkinkan aktivitas ekonomi, sosial, serta distribusi barang bergerak. Konektivitas itu menjadi semakin penting ketika program nasional seperti MBG membutuhkan pasokan yang rutin. Program gizi bertemu dengan infrastruktur transportasi. Dapur bertemu dengan pelabuhan. Petani bertemu dengan sekolah. Dan Lombok bertemu dengan Sumbawa.
Kapal yang Membawa Lebih dari Kendaraan
Menjelang siang, truk Ahmad akhirnya keluar dari kapal di Pototano. Mesinnya kembali meraung. Ia melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Bagi Ahmad, pekerjaannya mungkin terlihat sederhana: membawa barang dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi jika perjalanan itu ditarik lebih panjang, terlihat bahwa ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia membawa hasil kerja petani. Ia membawa kebutuhan dapur. Ia membawa bagian dari rantai pasok MBG. Dan pada akhirnya, ia membawa makanan menuju anak-anak. Sementara itu, kapal yang baru saja ditinggalkannya akan kembali ke Kayangan. Kendaraan lain akan masuk. Penumpang lain akan menyeberang. Barang lain akan bergerak. Siklus tersebut terus berlangsung. Itulah nadi konektivitas. Bukan sesuatu yang selalu terlihat, tetapi terasa ketika berhenti.
Ketika Pasokan Berarti Masa Depan Anak
Program MBG berbicara tentang pemenuhan kebutuhan gizi. Namun di wilayah kepulauan, pemenuhan gizi juga berbicara tentang logistik. Tentang bagaimana bahan pangan bergerak. Tentang bagaimana jalan dan pelabuhan terhubung. Tentang bagaimana kapal beroperasi. Tentang bagaimana pemasok dan dapur berkoordinasi. Dan tentang bagaimana negara memastikan sebuah pulau tidak tertinggal hanya karena dipisahkan oleh laut.
Karena itu, penguatan transportasi penyeberangan di NTB memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memperlancar perjalanan. Ia dapat menjadi bagian dari upaya menjaga rantai pasok pangan tetap hidup. Dari Lombok ke Sumbawa, perjalanan bahan pangan mungkin hanya memerlukan satu penyeberangan.
Tetapi di balik penyeberangan itu terdapat perjalanan yang jauh lebih panjang: dari petani menuju dapur, dari dapur menuju sekolah, dan dari sekolah menuju masa depan anak-anak Indonesia. Pada akhirnya, ketika seorang anak menerima makanan bergizi di sekolah, ia mungkin tidak pernah memikirkan kapal yang membawa sayur dan buah dari pulau lain.
Namun di balik makanan itu ada satu kenyataan yang tidak boleh dilupakan. Sebelum MBG tersaji, ada rantai pasok yang harus bergerak. Dan di NTB, sebagian rantai itu harus menyeberangi laut.
=======================
Data yang masih perlu diisi sebelum diterbitkan
Saya sengaja tidak mengarang angka MBG. Bagian yang paling perlu Anda verifikasi di lapangan adalah:
jumlah penerima manfaat MBG di Sumbawa;
jumlah SPPG di Sumbawa;
berapa persen bahan pangan yang berasal dari Lombok;
volume sayur, buah, dan bahan mentah yang diseberangkan setiap hari/minggu;
jumlah pemasok dari Lombok;
jumlah kendaraan logistik yang membawa bahan MBG;
berapa lama stok SPPG mampu bertahan jika pasokan Lombok terhenti;
pernah atau tidaknya terjadi gangguan MBG akibat keterlambatan pasokan;
serta apakah ada skema pasokan alternatif dari Sumbawa.
Saya menemukan data ASDP yang cukup kuat untuk menopang sisi transportasinya: Kayangan–Pototano melayani 889.682 penumpang dan 252.973 kendaraan pada Januari–Agustus 2025, dan ASDP secara eksplisit menyebut lintasan tersebut menopang distribusi logistik serta rantai pasok pangan NTB.
A
ASDP
Namun saya belum menemukan sumber resmi yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa “sebagian besar bahan MBG Sumbawa berasal dari Lombok” atau bahwa “jika pasokan Lombok terhenti, MBG pasti berhenti.” Dua klaim itu sebaiknya justru dijadikan pertanyaan investigatif utama kepada BGN, SPPG, pemasok, dan Pemprov NTB. Dengan begitu, tulisan Anda akan lebih kredibel dan memiliki nilai jurnalistik yang lebih tinggi.
Data dan informasi resmi ASDP tentang lintasan Kayangan–Pototano
A
Sumber






