SUMBAWA BARAT, samawarea.com (17 Agustus 2026) —Bagi banyak orang, menekan sakelar lalu lampu menyala adalah hal yang biasa. Namun, bagi warga Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang, cahaya yang menerangi rumah mereka setiap malam memiliki cerita panjang yang tak pernah mereka lupakan.
Ada masa ketika malam datang begitu cepat. Begitu matahari tenggelam di balik perbukitan, aktivitas warga ikut berhenti. Lampu minyak menjadi satu-satunya penerang. Asapnya memenuhi ruangan, cahayanya redup, dan anak-anak harus memicingkan mata saat belajar.
“Kalau dulu, setelah shalat Isya biasanya kami langsung tidur. Mau belajar susah, mau bekerja juga terbatas karena gelap,” kenang Ibu Hadijah (58) warga setempat.
Kenangan itu juga masih melekat dalam ingatan Buhanuddin (65), tokoh masyarakat Desa Tongo.
“Kalau mengingat masa sebelum ada listrik, rasanya seperti kembali ke zaman yang serba terbatas. Anak-anak belajar memakai lampu minyak, sementara aktivitas masyarakat berhenti setelah salat Isya. Sejak Newmont menghadirkan listrik dan kemudian diteruskan AMMAN, kehidupan kami berubah total. Desa menjadi hidup selama 24 jam. Kami berharap kepedulian ini terus berlanjut karena manfaatnya benar-benar kami rasakan,” ujarnya.
Semuanya mulai berubah ketika PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) menghadirkan pasokan listrik bagi masyarakat Tongo sebagai bagian dari komitmen perusahaan kepada desa-desa di sekitar wilayah operasional tambang Batu Hijau.
Sejak saat itu, malam di Tongo tidak lagi sama. Rumah-rumah mulai terang. Warung tetap buka hingga malam. Anak-anak bisa belajar dengan nyaman. Ibu-ibu tidak lagi memasak dengan penerangan lampu minyak. Televisi, kipas angin, kulkas, hingga berbagai peralatan elektronik mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Perubahan itu langsung dirasakan para pelaku usaha kecil. Arastika (45), pemilik warung kelontong, mengaku listrik membuka peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dibayangkan.
“Dulu saya tidak berani menjual minuman dingin atau es krim karena tidak punya kulkas. Sekarang, berkat listrik yang selalu menyala, saya bisa menambah jenis dagangan. Pendapatan keluarga ikut meningkat. Kami sangat terbantu karena tidak perlu memikirkan biaya listrik setiap bulan,” tuturnya.
Ketika pengelolaan tambang beralih kepada PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), masyarakat sempat berharap-harap cemas. Akankah layanan listrik gratis itu tetap ada?
Kekhawatiran itu akhirnya sirna. AMMAN memilih melanjutkan program tersebut sehingga sampai sekarang warga Desa Tongo masih menikmati listrik gratis selama 24 jam setiap hari.
Bagi generasi muda, keberadaan listrik bukan sekadar penerangan, melainkan jembatan menuju pendidikan yang lebih baik. Johari Ramdani (19) dan Rohit Purnama, mahasiswa asal Tongo yang kuliah di UIN Mataram dan UTS, mengaku merasakan langsung manfaatnya.
“Orang tua sering bercerita kalau dulu mereka belajar dengan lampu minyak. Saya bersyukur sekarang bisa belajar kapan saja, mengerjakan tugas sekolah menggunakan laptop, bahkan mencari bahan pelajaran melalui internet. Listrik membuat kami punya kesempatan belajar yang lebih baik,” katanya.
Manfaat yang sama juga dirasakan para ibu rumah tangga. Siti Aminah (39) menilai kehadiran listrik telah membuat pekerjaan sehari-hari jauh lebih ringan.
“Pekerjaan rumah sekarang jauh lebih ringan. Saya bisa mencuci pakaian menggunakan mesin cuci, menyimpan bahan makanan di kulkas, dan memasak dengan lebih nyaman. Anak-anak juga bisa mengaji dan belajar pada malam hari tanpa khawatir gelap,” ujarnya.
Tidak hanya di sektor rumah tangga, listrik juga meningkatkan produktivitas masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Syamsuddin (51), seorang nelayan, mengatakan keberadaan freezer membuat hasil tangkapannya memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Sebelum ada listrik, kami harus segera mengolah hasil tangkapan karena tidak bisa disimpan lama. Sekarang kami memiliki freezer sehingga ikan tetap segar lebih lama. Itu sangat membantu meningkatkan nilai jual hasil tangkapan kami,” jelasnya.
Listrik juga menghadirkan peluang bagi lahirnya usaha-usaha baru. Fatimah (34), pelaku UMKM kue tradisional, mengaku usahanya berkembang karena pasokan listrik yang stabil.
“Saya memulai usaha dari rumah. Dengan listrik yang tersedia sepanjang hari, saya bisa menggunakan mixer dan oven listrik tanpa khawatir. Produksi kue meningkat dan pesanan semakin banyak. Kehadiran listrik memberi peluang usaha bagi ibu-ibu seperti saya,” ungkap Fatimah.
Pada malam hari, jalan-jalan desa kini terlihat lebih hidup. Lampu-lampu menerangi lingkungan, memberi rasa aman bagi warga yang masih beraktivitas. Masjid, sekolah, dan berbagai fasilitas umum dapat dimanfaatkan hingga malam hari.
Bagi Muhammad Daud (70), sesepuh Desa Tongo, perubahan itu bukan hanya soal terang dan gelap.
“Terang lampu yang kita lihat setiap malam bukan sekadar cahaya. Itu adalah simbol perubahan. Dulu desa kami sunyi ketika malam datang, sekarang masyarakat bisa beraktivitas, belajar, beribadah, dan bekerja dengan lebih nyaman. Kami bersyukur perubahan itu tetap dijaga hingga sekarang,” katanya penuh haru.
Tokoh muda sekaligus akademisi asal Tongo, Dr. Muhammad Khadafi, melihat keberlanjutan program listrik gratis tersebut sebagai contoh bagaimana pembangunan memperoleh maknanya ketika manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Bagi masyarakat Tongo, listrik bukan hanya soal rumah yang menjadi terang ketika malam. Listrik telah membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, dan bagi keluarga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik,” ujar Doktor Muda yang dikenal dengan sebutan Raja Tongo.
Menurutnya, manfaat listrik harus dilihat sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Akses energi memungkinkan anak-anak belajar lebih lama, menggunakan laptop, mengakses internet, hingga mengikuti perkembangan pendidikan yang semakin bergantung pada teknologi.
“Kalau seorang anak Tongo hari ini bisa belajar menggunakan laptop, mengakses internet, mengikuti perkuliahan, dan mengembangkan pengetahuan tanpa terkendala penerangan, maka manfaat listrik itu sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar penghematan biaya bulanan. Kita sedang berbicara tentang investasi terhadap kualitas manusia dan masa depan desa,” kata salah satu Dosen Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ini.
Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana perjalanan Tongo tidak berhenti pada perubahan dari lampu minyak menuju listrik. Cahaya yang dahulu hanya membuat ruangan terlihat kini membuka jalan bagi transformasi yang lebih luas.
Di satu sisi, listrik memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, ia memberi generasi muda kesempatan untuk memasuki ruang digital dan pendidikan yang lebih luas.
Karena itu, Khadafi berharap keberadaan listrik gratis dapat menjadi fondasi bagi program pemberdayaan yang lebih besar.
“Ke depan, saya berharap listrik yang sudah tersedia ini dapat menjadi fondasi untuk program pemberdayaan yang lebih luas. Misalnya penguatan UMKM, digitalisasi pendidikan, pengembangan usaha berbasis hasil laut, pelatihan keterampilan, dan pemanfaatan teknologi,” ujarnya.
Ia menilai, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memastikan lampu tetap menyala, melainkan memastikan masyarakat mampu memanfaatkan energi tersebut untuk meningkatkan taraf hidup.
“Tongo tidak hanya membutuhkan listrik yang menyala, tetapi juga membutuhkan ekosistem pembangunan yang membuat masyarakat mampu memanfaatkan listrik itu untuk meningkatkan taraf hidup. Karena itu, keberlanjutan listrik gratis harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Pesan itu menjadi semakin relevan karena Tongo kini memasuki fase kehidupan yang jauh berbeda dibanding dua dekade lalu. Ketika malam dahulu identik dengan berhentinya aktivitas, kini rumah, warung, masjid, sekolah, dan berbagai fasilitas umum tetap dapat digunakan.
Menurut Kepala Desa Tongo, Idham Halid, manfaat program listrik gratis tidak hanya dirasakan oleh sebagian warga atau masyarakat di wilayah tertentu, tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan seluruh masyarakat Desa Tongo.
Saat ini, Desa Tongo dihuni sekitar 439 Kepala Keluarga (KK) atau 708 jiwa yang terdiri dari 340 laki-laki dan 368 perempuan. Jumlah tersebut tersebar di tiga dusun, yakni Dusun Tongo, Dusun Sejorong, dan Dusun Temalang.
Seluruh kepala keluarga di Desa Tongo menjadi penerima manfaat aliran listrik yang disediakan perusahaan tambang. Program tersebut telah berlangsung sejak 1999, ketika masih dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT), dan terus berlanjut hingga saat ini di bawah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).
“Semua warga Desa Tongo mendapat manfaat dari aliran listrik ini. Tidak ada warga yang dibedakan atau hanya wilayah tertentu saja yang menerima, karena program ini memang dirasakan oleh seluruh masyarakat desa,” ujar Idham.
Ia menjelaskan, dalam program tersebut tidak terdapat batasan kapasitas daya tertentu yang ditetapkan secara khusus untuk masing-masing rumah warga. Dengan demikian, masyarakat dapat menggunakan listrik sesuai dengan kebutuhan rumah tangga masing-masing.
“Tidak ada batasan khusus terkait kapasitas daya untuk masing-masing rumah. Penggunaannya menyesuaikan kebutuhan setiap warga,” jelasnya.
Menurut Idham, masyarakat juga tidak dibebani aturan khusus mengenai batas maksimal penggunaan listrik atau larangan menggunakan peralatan rumah tangga berdaya besar. Warga dapat memanfaatkan listrik sesuai kebutuhan sehari-hari.
“Tidak ada aturan yang membatasi penggunaan listrik di rumah warga. Masyarakat menggunakannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” katanya.
Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, pemeliharaan jaringan dan penanganan apabila terjadi gangguan maupun kerusakan listrik telah ditangani oleh kontraktor atau vendor yang ditunjuk oleh AMMAN. Dengan adanya pihak yang bertanggung jawab terhadap operasional dan pemeliharaan tersebut, masyarakat dapat melaporkan gangguan untuk segera ditindaklanjuti.
Program listrik gratis ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tongo selama lebih dari dua dekade. Sejak pertama kali dinikmati warga pada 1999 melalui PT NNT, layanan tersebut tetap berlanjut setelah pengelolaan tambang beralih kepada AMMAN.
Idham mengatakan, perpindahan pengelolaan tambang dari PT NNT kepada AMMAN tidak membawa perubahan terhadap pelayanan listrik yang diterima masyarakat. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas pasokan, menurutnya, pelayanan tetap berjalan seperti sebelumnya.
“Sejak tahun 1999, masyarakat sudah menikmati listrik dari PT NNT dan sampai sekarang terus berlanjut bersama AMMAN. Setelah terjadi peralihan pengelolaan, pelayanan tetap sama, tidak ada perubahan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas listrik yang diterima masyarakat,” ungkapnya.
Keberadaan listrik tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Sejumlah fasilitas umum di Desa Tongo juga mendapatkan manfaat dari pasokan listrik AMMAN, termasuk masjid, sekolah, kantor desa, serta berbagai fasilitas publik lainnya.
Namun, untuk fasilitas kesehatan, Puskesmas Desa Tongo menjadi satu-satunya fasilitas yang menggunakan listrik dari PLN. Sementara fasilitas umum lainnya mendapatkan pasokan listrik dari AMMAN.
“Listrik dari AMMAN juga digunakan untuk berbagai fasilitas umum di desa. Hanya puskesmas yang menggunakan listrik PLN, sedangkan fasilitas umum lainnya menggunakan listrik dari AMMAN,” jelas Idham.
Bagi masyarakat, keberadaan listrik gratis juga memberikan manfaat ekonomi karena warga tidak perlu mengeluarkan biaya rutin untuk membayar penggunaan listrik rumah tangga. Meski demikian, besarnya penghematan yang dirasakan setiap keluarga berbeda-beda, tergantung pada tingkat penggunaan listrik di masing-masing rumah.
“Besarnya penghematan tentu berbeda pada setiap rumah tangga karena tergantung besar kecilnya penggunaan listrik. Semakin besar kebutuhan listrik, semakin besar pula biaya yang dapat dihemat,” katanya.
Menurut Idham, manfaat program ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi penghematan biaya, tetapi juga dari kemudahan masyarakat dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Listrik telah mendukung kebutuhan rumah tangga, pendidikan, kegiatan sosial, pelayanan pemerintahan, hingga aktivitas fasilitas umum di desa.
Karena itu, Pemerintah Desa Tongo berharap keberadaan listrik gratis dari AMMAN dapat terus dipertahankan. Idham menilai, apabila program tersebut suatu saat dihentikan, dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat akan cukup besar.
“Kalau listrik dari AMMAN tidak ada lagi, dampaknya tentu sangat besar bagi masyarakat. Mau tidak mau, solusinya adalah beralih menggunakan listrik PLN, dan tentu hal itu akan menambah beban pengeluaran masyarakat,” ujarnya.
Bagi Desa Tongo, listrik bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Selama lebih dari dua dekade, keberadaan listrik gratis telah memberikan kemudahan bagi warga sekaligus mendukung berbagai aktivitas sosial dan ekonomi desa.
Listrik yang mungkin dianggap sebagai kebutuhan biasa di kota-kota besar, bagi masyarakat Desa Tongo menjadi salah satu bentuk nyata perubahan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menghadirkan kenyamanan, mendukung aktivitas masyarakat, serta membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Kehadiran listrik gratis selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Program yang dirintis PT Newmont Nusa Tenggara dan diteruskan PT Amman Mineral Nusa Tenggara telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Desa Tongo menuju kehidupan yang lebih baik.
Kini, setiap kali malam tiba dan ribuan lampu menyala serentak di Desa Tongo, cahaya itu seolah mengingatkan satu hal: sebuah kepedulian yang dijaga dengan konsisten mampu mengubah wajah sebuah desa. Dari desa yang dahulu tenggelam dalam gelap, Tongo menjelma menjadi desa yang hidup selama 24 jam—tempat harapan, pendidikan, ekonomi, dan masa depan tumbuh bersama cahaya yang tak pernah padam. (SR)






