SUMBAWA BESAR, samawarea.com (19 Juni 2025) – Presidium Aliansi PPS Kabupaten Sumbawa menggelar kegiatan bertajuk PASAMADA sebagai bentuk pernyataan sikap dan seruan kedaulatan terhadap lambannya respons pemerintah pusat terkait perjuangan pemekaran Kabupaten Sumbawa menjadi Provinsi Pulau Sumbawa (PPS).
PASAMADA yang berlangsung di Lapangan Pahlawan Sumbawa Besar, Kamis (19/6/25) ini dihadiri ratusan orang yang berasal dari Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Bima dan Kota Bima.
Ketua Aliansi PPS Kabupaten Sumbawa, Iying Gunawan SE, dalam pernyataan tegasnya menyampaikan keresahan dan tuntutan masyarakat Sumbawa atas ketimpangan yang terjadi selama ini. “Aspirasi kami untuk membentuk Provinsi Pulau Sumbawa yang diperjuangkan sejak 2006 tidak kunjung diindahkan,” ungkap Iying Gunawan.
Iying menyoroti adanya ketimpangan pembangunan antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa baik dari segi pembangunan infrastruktur maupun ekonomi. Padahal Pulau Sumbawa memiliki kontribusi besar dalam pembentukan dan kemerdekaan NKRI. Karena itu sudah seharusnya Pulau Sumbawa berdiri sendiri secara otonom, dan sudah disuarakan sejak 2006 lalu.
“Secara administrasi, kita sudah lengkap dan memiliki skor tinggi sejak tahun 2011. Namun, saat Sumbawa ingin membangun dirinya sendiri, justru dipersulit. Ini bukan lagi sekadar pengabaian, tapi bentuk penjajahan dalam rupa baru,” tegasnya.
Dalam orasinya, Iying juga mengancam akan menutup Pelabuhan Poto Tano jika aspirasi pemekaran terus diabaikan. “Jangankan penjara, nyawa pun kami taruhkan ketika martabat kami dilecehkan. Kami menuntut kedaulatan untuk menentukan arah pembangunan kami sendiri,” lanjutnya.
Kegiatan PASAMADA ini ungkap Iying, juga menjadi momen penting untuk menyosialisasikan rencana aksi lanjutan sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah pusat. Aksi Jilid IV akan digelar pada 1–3 Juli, dilanjutkan dengan Aksi Jilid V pada 14–15 Juli 2025 mendatang. Lokasinya di Pelabuhan Poto Tano.
“Ketika tidak ada aksi, kita dianggap enteng. Maka aksi ini akan terus kita lakukan hingga suara Sumbawa benar-benar didengar,” tandasnya Iying seraya meminta doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar perjuangan ini dapat membuahkan hasil dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Pulau Sumbawa.
Di panggung yang sama, pengurus Aliansi PPS lainnya, Dr. Sofyan Krebi, menegaskan bahwa perjuangan ini adalah momentum penting menuju masa depan yang lebih baik dan berdaulat. “Aksi ini menjadi momentum untuk perjuangan selanjutnya. Mari kita satukan barisan berjuang dan bergerak maksimal untuk PPS. Kami tidak ingin lepas dari Indonesia, tapi kami ingin berdaulat secara otonomi,” cetusnya. (SR)






