SUMBAWA BESAR, samawarea.com (20 Februari 2025) – Hari ini, Kamis, 20 Februari 2025, pemerintahan Drs. H. Mahmud Abdullah dan Hj. Dewi Noviany S.Pd., M.Pd berakhir, bertepatan dengan pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarifuddin Jarot MP – Drs. H. Mohamad Ansori. Namun pada kepemimpinan baru ini, banyak tantangan yang dihadapi Jarot Ansori dalam mewujudkan visi misinya, menyusul adanya efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat.
Dosen Fisipol Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar, Dr, Ardiyansyah, M.Si, mengungkapkan bahwa, kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat terus berlanjut hingga mencapai tiga putaran, dengan total target penghematan mencapai Rp 750 triliun, termasuk efisiensi dana transfer ke daerah sebesar 50,5 triliun.
Hal ini ungkap Ardiyansyah, memunculkan kekhawatiran besar apabila mitigasi kebijakan efisiensi anggaran ini tidak dilakukan dengan baik. Efek dominonya akan membuat ekonomi masyarakat terpuruk dan mengganggu pelayanan public.
Terutama bagi daerah dengan tingkat kapasitas fiskalnya masih rendah dan terbatas, akan semakin sulit, apalagi postur anggaran pemerintah daerah rata-rata sekitar 40 persen APBD terpakai untuk belanja pegawai.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintahan baru Kabupaten Sumbawa. Harus ada perubahan prioritas dari pemerintahan Haji Syarafuddin Jarot dan Haji Mohammad Ansori, terkait dampak efisiensi anggaran terhadap berbagai program yang menjadi fokus dalam mewujudkan janji politik dan visi misi di tengah keterbatasan fiskal.
Dampak paling nyata akibat efisiensi anggaran adalah, pemotongan dana alokasi khusus (DAK) Kabupaten Sumbawa turun hingga Rp 40.311.323.000. Dampaknya, beberapa program yang semula di rencanakan selesai tahun ini terpaksa ditunda atau batal dilaksanakan.
Kemudian menurunnya kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi layanan dasar dengan baik, terutama pendidikan dan kesehatan, penundaan program yang membutuhkan anggaran besar seperti infrastruktur fisik dan penyelesaian pembangunan RSUD Sumbawa.
“Efisiensi anggaran juga berdampak pada pemangkasan anggaran pada sektor-sektor produktif, kalau tidak bisa dikelola dengan baik, bisa berdampak terhadap perekonomian daerah,” ujar akademisi yang disapa Doktor Ar.
Untuk mewujudkan visi misi Bupati Haji Syarafuddin Jarot dan Wakil Bupati Haji Mohammad Ansori di tengah keterbatasan anggaran, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam memaksimalkan potensi daerah, di samping memanfaatkan peluang pihak swasta menanamkan investasi di Sumbawa, serta lobi kepada pemerintah pusat untuk menarik berbagai program pusat ke Sumbawa.
”Kalau hanya mengandalkan APBD dan dana transfer daerah yang terbatas dan sudah jelas peruntukannya, maka daerah akan sulit berkembang,” kata Doktor Ar.
Ia menilai dengan keterbatasan ruang fiskal yang ada, Jarot–Ansori harus melakukan terobosan dan inovasi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan bertambahnya pendapatan, paling tidak bisa mengurangi ketergantungan dengan pemerintah pusat.
Pemerintahan Sumbawa yang baru, harus berani melakukan strategi jitu dalam menghadapi kebijakan efisiensi anggaran. Jarot-Ansori memiliki kemampuan untuk menyiasati dampak dari efisiensi anggaran. Keduanya sangat mahir membangun jejaring dengan pihak swasta. Dengan latar belakang dari kalangan profesional dan pengusaha sukses, keduanya sangat paham untuk menarik pihak swasta dan mengelola investasi di Sumbawa.
“Menciptakan kepastian agar sektor swasta dapat berkembang dengan baik, sehingga bisa memberikan kontribusi bagi PAD Sumbawa,” imbuhnya.
Jarot–Ansori sambungnya, memiliki modal politik sangat kuat untuk menjalin komunikasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, karena didukung oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam konteks politik, ada keselarasan atau linear antara pemerintahan kabupaten, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, menjadi keuntungan dan nilai plus pemerintahan Jarot-Ansori.
“Kalau relasi ini bisa di optimalkan, ada ruang fiskal yang bisa dimanfaatkan, tinggal ruang komunikasi dan kordinasi yang solid dengan pemerintah pusat menjadi kunci menarik anggaran pusat ke daerah,” tegas Doktor Ar.
Meski ada kebijakan efisiensi anggaran, setidaknya program yang ada harus mampu menyentuh apa yang menjadi visi misi bupati dan wakil bupati Sumbawa lima tahun kedepan.
“Adanya semangat, keyakinan dan ekspetasi tinggi dari masyarakat, kita berharap pemerintahan baru Haji Syarafuddin Jarot dan Haji Mohammad Ansori (Jarot-Ansori) dapat membawa Sumbawa lebih baik lagi,” pungkasnya. (SR)






