SUMBAWA BESAR, samawarea.com (13 September 2022)–Universitas Samawa (UNSA) berkomitmen untuk menjadikan Desa Boal Kecamatan Empang, sebagai Desa Budaya. Desa tersebut dinilai memiliki potensi budaya yang cukup beragam dan tetap lestari. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan bagi UNSA untuk menempatkan mahasiswanya untuk melaksanakan kuliah kerja lapangan (KKL) di desa tersebut.
Dosen Pembimbing Kelompok 6 KKL Tematik UNSA, Jhon Kenedy, M.Pd yang ditemui di sela-sela Prosesi Budaya Nimung Rame di Desa Boal, Selasa (13/9) mengatakan, bahwa salah satu tema KKL mahasiswanya adalah menjadikan Desa Boal sebagai desa budaya.
Disebutkan Jhon—sapaannya, ada tiga budaya yang sangat kental dan selalu dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Boal secara turun temurun. Yaitu, Nimung Rame yang digelar pada Hari Selasa Bulan September, pasca panen maupun menjelang musim tanam.
Kemudian Sorong Barang—ritual tolak bala. Tradisi ini dilaksanakan untuk mengantisipasi adanya bencana atau serangan hama terhadap tanaman petani. Semua hama pengganggu seperti babi, tikus, belalang, ulat, dan lainnya ditempatkan dalam satu wadah lalu dialirkan ke laut.
Tradisi lainnya adalah Mangan Roa. Ini biasanya dilaksanakan pada peringatan hari besar keagamaan. Semua tradisi ini representasinya menyatukan masyarakat Desa Boal.
Menjadikan Boal sebagai Desa Budaya, Jhon mengaku sudah menyusun sinopsis dan narasi dari budaya setempat untuk dipatenkan. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kabid Kebudayaan Dinas Dikbud Sumbawa agar dapat diusulkan menjadi salah satu Desa Budaya ke Kementerian terkait. Selain itu menandatangani MoU dengan Pemerintah Desa Boal bagi pengembangan desa budaya yang akan dilaunching pada 15 September 2022.
Hal senada dikatakan Wakil Rektor III UNSA, Dr. Syafruddin, SE., ME. Dikatakannya, kampus menerjunkan mahasiswa untuk KKL Tematik dengan focus mengangkat dan mengemas budaya lokal sebagai langkah untuk mewujudkan desa budaya.
“Konsep yang ditawarkan kampus sudah ada, agar potensi yang dimiliki Desa Boal dapat berkembang, sehingga bernilai produktif dan berdampak positif terhadap ekonomi, social dan budaya masyarakat,” ungkapnya, seraya berharap hak itu terus dikawal, melalui MoU dari kedua belah pihak antara pihak kampus dan pemerintah desa.
Komitmen UNSA untuk mewujudkan Boal menjadi Desa Budaya, disambut gembira Andi Azis, budayawan setempat. Potensi yang ada di Desa Boal untuk menjadikannya sebagai desa budaya, menurutnya, sudah sangat mendukung. “Kami menyambut gembira, karena ini merupakan harapan pemerintah dan masyarakat Boal. Semoga dengan kolaborasi jajaran UNSA dan masyarakat di sini, mimpi kami bisa menjadi kenyataan,” pintanya. (SR)






