SUMBAWA BESAR, SR (10/10/2019)
Kian dekatnya pesta demokrasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa, tensi politik terus meningkat. Selain banyak bermunculan figur potensial untuk menjadi bakal calon, juga suhu politik Sumbawa saat ini diwarnai manuver dan intrik yang mengejutkan. Seperti pertemuan enam pimpinan partai politik di Kebun Jorok, Desa Jorok Kecamatan Unter Iwis, Rabu (9/10) malam. Adalah Drs. H. Jamaluddin Malik (Hanura), H. Nurdin Ranggabarani SH MH (PPP), H Asaat Abdullah ST (Nasdem), H Irwan Rahadi ST (Gerindra), H Burhanuddin Jafar Salam SH MH (PAN) dan Berlian Rayes S.Ag., M.Si (Golkar). Ikut Hadir Sekretaris DPC Hanura, M Yamin SE M.Si dan Sekretaris DPC PAN Lukmanul Hakim SAP. Pertemuan yang berlangsung hingga larut malam ini sepakat membentuk Poros Pembaharuan.
H Nurdin Ranggabarani SH MH selaku inisiator Poros Pembaharuan mengemukakan, bahwa pertemuan sejumlah pimpinan parpol ini digagas sejak awal karena melihat kondisi politik dan kepemimpinan Sumbawa saat ini. Banyak calon bermunculan, namun mereka lebih memilih jalur perseorangan atau menjadi calon independen. Selain itu banyak figur yang berani tampil bahkan giat dalam lobi-lobi politik, padahal tidak memiliki partai. Cenderung figure tersebut berspekulasi. Harusnya ketika ingin maju harus dipastikan kendaraan politiknya. Nurdin Raba—akrab politisi PPP ini disapa mengilustrasikan seseorang yang ingin menghadiri undangan pernikahan. Meski dia sudah siap tetapi ketika tidak ada kendaraan yang mengantarkannya menuju pusat acara akan menunggu ojek dan tumpangan. Itupun jika ada yang mau memberikan tumpangan. Ada yang mungkin ingin memberikan tumpangan, tapi kendaraan itu sudah penuh. Akhirnya dengan berat hati batal berangkat ke kondangan. “Meski kita sudah siap, biasanya kita batal berangkat ke kondangan karena tidak ada kendaraan atau kendaraannya sudah penuh. Inilah ilustrasi bagi orng yang tidak punya partai,” kata Nurdin Raba sekaligus juru bicara Poros Pembaharuan.
Karena itu mereka menggagas sebuah wacana untuk melahirkan sebuah koalisi besar yaitu Koalisi Perubahan atau Poros Pembaharuan. Poros ini masih menginginkan beberapa partai ikut bergabung seperti PKS, PKB, PKPI dan Berkarya. Sedangkan dua partai lainnya PDIP dan Demokrat sudah berkoalisi. “Jadi gagasan ini lahir karena kita melihat bahwa ruang politik ini sebenarnya ruang bagi partai politik, tetapi kenapa kemudian partai politik seperti ditinggalkan dan tidak menarik bagi para calon. Begitu mereka melihat parpol, sudah merinding, seolah-olah mahar yang dibicarakan, seolah-olah biaya partai politik itu mahal. Seolah-olah kami bukan pejuang yang ingin merubah dan membangun Sumbawa, dan seolah-olah mereka saja yang punya visi misi seperti itu. Padahal kita pimpinan partai politik ini tidak selalu berbicara soal itu. Jauh hari sebelum mereka memikirkan Sumbawa, partai politik inilah yang terlebih dahulu sudah memikirkan Sumbawa dan itu berkesinambungan, dan tidak putus. Kita juga ingin berbuat bagi daerah ini. Bahkan mungkin melampaui daerah lain,” jelas Nurdin Raba.
Selain mengembalikan kepercayaan masyarakat terkait figure dari partai politik, ungkap Nurdin, Poros Pembaharuan juga dibentuk untuk melahirkan kepemimpinan baru. Sebab kepemimpinan saat ini berjalan biasa-biasa saja tanpa ada lompatan yang signifikan. Jika 6 parpol ditambah 4 parpol sehingga menjadi 10 parpol bergabung dalam Poros Pembaharuan, maka ada 35 kursi di DPRD. Sehingga ketika kader dari semua parpol ini bergerak dan 35 kursi mengambil porsi dan perannya di tataran legislatif, Nurdin yakin pasangan calon yang diusung Poros Pembaharuan ini akan memenangkan Pilkada 2020 mendatang. Tentu dengan satu syarat koalisi ini digagas dengan menghindari ego partai masing-masing. “Kita serahkan kepada proses yang kita sepakati dalam koalisi ini, siapa yang akan kita calonkan, bisa orang di luar partai politik atau berada internal poros. Kita berikan ruang untuk berbuat dengan dukungan kita secara bersama-sama,” pungkasnya. (JEN/SR)






