When the youth involves in a ballot box matter
Oleh : A n i t a (Dusun Ai Puntuk, Desa Serading Kec. Moyo Hilir – Sumbawa Besar)
Hai kaulah muda kau punya gairah
Hai kaulah muda kau punya tenaga
Gunakan masa muda untuk bekerja
Sebelum menjadi tua dan tak berdaya
Hai kaulah muda
Kau punya keringat
Kobarkan api juang mencegah maksiat
Jangan selalu jadi sasaran nasihat
Hai kaulah muda kau punya tantangan
Hai kaulah muda kau punya harapan
Dari itu janganlah kau berpangku tangan
singsingkan lengan baju raih kemenangan
Kaulah muda kau punya potensi
Kaulah muda kau punya kreasi
singsingkan lengan baju raih kemenangan
Kaulah muda kau punya potensi
Kaulah muda kau punya kreasi
Manfaatkan sebelum menyesal nanti
Masa muda takkan perna terulang lagi
(Rhoma Irama, Kaulah Muda)
Penggalan Lirik lagu “Kaulah Muda” yang didendangkan Sang Raja Dangdut Bang Haji Rhoma Irama kurang lebih secara jelas mengajak para kaum muda untuk mampu membentuk dan mengambil sikap yang benar untuk meniti kehidupan yang akan kaum muda jalani dan pada ujungnya juga akan berpengaruh terhadap eksistensi mereka dalam mengikuti derap langkah peradaban dan nafas pembangunan serta demokrasi yang sehat di negara yang kita cintai secara makro.
Kaitan dengan penggalan lirik lagu di atas tentang “kaum muda” maka fokus tulisan sederhana ini akan membahas tentang keterlibatan mereka, terutama sekali dalam pesta demokrasi yang sebentar lagi akan segera kita laksanakan, sukseskan dan saksikan. Seperti kita ketahui bahwa “Pemuda”, merupakan fondasi penopang peradaban yang baik secara kuantitatif dan kualitatif berpengaruh secara signifikan. Oleh karena itu, alangkah baiknya apabila keberadaan mereka dalam ‘hak pilih’ harus kita guide dengan benar. Karena pada dasarnya, meminjam kalimat emas dari seorang tokoh pergerakan di Mesir, Hasan al-Banna, yang mengatakan bahwa “Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya. Di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya”.
27 Juni 2018 sebagai hari bersejarah dalam pesta demokrasi yang hanya menghitung minggu rupanya mulai mengundang suasana iklim politik kian terasa. Sejumlah simpatisan dari masing–masing kandidat baik tua maupun kaum muda sudah secara terang–terangan memainkan perannya menjadi perpanjangan tangan dalam membawa tawaran–tawaran politik pasangan yang diusungnya. Dalam pesta demokrasi Pilgub NTB tahun 2018 seperti yang telah terdata dalam KPU Provinsi, menyatakan bahwa terdapat 3.545.106 daftar pemilih tetap (DPT) yang akan dilaksanakan secara serentak di 10 kabupaten 116 kecamatan 1.137 Desa/Kelurahan yang tersebar dalam 8.336 TPS. Dengan nominal yang signifikan berpengaruh ini, tentunya menimbulkan rasa ‘Harap–Harap Cemas’ terutama dari pihak–pihak dan masyarakat yang benar–benar peduli terhadap proses jalannya demokrasi itu sendiri. ‘Harap’nya adalah harapan akan kebijaksanaan para kaum muda terutama dalam menggunakan hak pilihnya dengan bijak dan benar, harapan akan kepekaan para pemuda dalam menangapi segala hal yang berbau “mengajak” mereka untuk masuk ke ranah politik tertentu, serta harapan akan kepiawan para pemuda dalam menyikapi segala arus politik yang begitu keras mendatangi mereka. ‘Cemas’ nya adalah kecemasan akan hak pilih yang tidak digunakan dengan baik dan cemas akan sikap mereka yang rentan dengan berbagai godaan dan guncangan kaitannya dengan keterlibatan mereka di pesta demokrasi.
Hal ini mengingatkan kita pada beberapa fakta yang keberadaanya bukanlah suatu yang tabuh dan baru bahwa banyaknya suara dari kaum muda, saudara/i kita yang dibeli dengan harga yang hanya mengeyangkan perut semalam, bukanlah suatu yang baru dan tabu apabila banyak dari suara kaum muda kita yang hanya dimonopoli oleh orang–orang yang tidak peduli dengan arti demokrasi, dan bahkan tidak jarang dari suara kaum muda kita yang oknum yang hanya bertanggung jawabnya untuk kalangan dan kepentingan tertentu certain interest. Diakui atau tidak inilah fakta. Fakta yang menjadi sudah dan selalu penyakit pada setiap pesta demokrasi yang keabsahannya sangat kita junjung tinggi dan kita hargai baik proses maupun hasilnya.
Karena itu semua pihak harus mengambil bagian terutama pihak–pihak yang mempunyai kewenangan lebih untuk setiap menguide para pemilih kaum muda dan teristimewa ‘pemilih pemula’ yang jumlahnya 7%-10% dari jumlah DPT. Keterlibatan mereka sebagai tamu baru dan lembaran baru dalam sejarah penerapan jiwa demokrasi yang mereka miliki harus benar–benar diperhatikan. Supaya mereka sedini mungkin kita tanamkan jiwa demokrasi yang bersih. Sehingga pada ujungnya mereka akan secara bijak, cerdas dan amanah menggunakan hak pilih yang mereka miliki. Sangat diakui bahwa merubah hal–hal yang selama ini sudah berakar dan mendarah daging (rampant and ingrained) adalah suatu hal yang sangat tidak mudah atau bahkan secara pesimis “tidak mungkin” tetapi apabila kita berhasil, bukankah hal ini akan menjadi sebuah hadiah yang sangat luar biasa dalam sejarah demokrasi kita. Redesingning those practices that is might not be easy, but it would be a great prize. Kita bisa mulai dari kita pribadi, keluarga kita, sanak family kita, masyarakat di lingkungan kita, kerabat kita, masyarakat kita hingga seterusnya. Sebut saja, dalam cakupan yang sangat kecil ada keluarga yang mempunyai peran yang sangat erat untuk saling mengisi para anggota keluarga satu sama lain, di intansi sekolah terutama tingkatan sekolah yang siswa/i-nya sudah mempunyai hak pilih ada pihak sekolah terhormat yang bisa mengambil bagian, di lingkungan Kampus ada para dosen serta keluarga besar kampus yang bisa menjadi penerangan bagi mahasiswanya. Dalam cakupan bermasyarakat ada aparat pemerintah desa yang bisa mengambil bagian lebih yang secara keseluruhannya mempunyai peran secara umum untuk memberikan edukasi dan bimbingan yang tepat terhadap penggunaan hak pilih yang mereka miliki (“bukan mengajak memilih salah satu pasangan tetapi mengajak untuk berpikir yang bijak untuk memilih”). Bukankah hal ini merupakan salah satu langkah kecil untuk mewariskan generasi–generasi yang demokratis? Bukankah hal ini merupakan langkah sederhana untuk menciptakan generasi yang optimis bahwa demokrasi yang bersih memang ada? Kalau tidak sekarang kapan lagi dan kalau bukan kita siapa lagi. Hematnya, ketika kita peduli dengan proses demokrasi yang sehat berarti kita menghargai arti dan pengamalan demokrasi itu sendiri, sebaliknya apabila kita mengabaikannya maka hal tersebut menandakan bahwa krisis mental demokrasi telah merajai hati kita. Na’udzubillah.
Berbicara tentang siapa yang akan menjadi pemenang adalah hal yang penting. Tetapi yang sangat penting sekarang adalah keikhlasan kita para pemilih untuk mau menjalani dan menghargai proses dan prosedur yang sehat. Karena keberadaan beliau semua sebagai ‘calon’ merupakan hasil dari proses yang selektif (dari bakal calon menjadi calon) yang pastinya consern terhadap pembangunan NTB yang nantinya akan diwujudkan dalam bentuk ‘aktualisasi kerja’ dalam melayani kepentingan masyarakat yang sangat azazih public interest yang sebelumnya terumuskan dalam tawaran–tawaran politiknya. Wallahu a‘lamu bish-showab.
Seperti kita ketahui bahwa pemilu adalah pesta demokrasi yang berarti sekaligus menjadi hari jadi penentuan nasib arah perjalanan pembangunan selama kurang lebih 5 tahun ke depan. Jadi, ‘pemilih pintar’ seperti yang selalu menjadi jargon dalam pesta demokrasi adalah hal yang mutlak adanya. Untuk menjadi pemilih pintar maka kita harus saling mengisi satu sama lain supaya hak pilih yang kita miliki dapat kita manfaatkan dan gunakan dengan baik dan benar. Mengorbankan 5 tahun hanya dengan semalam adalah hal yang sangat keliru, mengorbankan nasib 5 tahun hanya dengan sembako yang akan habis selama beberapa hari adalah hasil dari pikiran buntu. Harga diri dalam hak pilih yang kita miliki adalah harga mati yang tidak akan mudah untuk ditahluki hanya dengan iming–imingan semu.
Sekali lagi, just an appeal mari kita sukseskan pesta demokrasi ini dengan menunjukkan kepedulian kita dengan memanfaatkan hak pilih dengan bijak dan benar. Mengikuti jalan yang lama, penuh dengan batu dan berdebu adalah salah satu pilihan tetapi bukanlah pilihan utama ketika ada jalan yang lebih baik dan baru, maka demikian pula dengan jalan demokrasi kita. Tunjukkan semangat muda kita, tunjukkan bahwa kita generasi mellenial yang akan meluruskan tonggak sejarah yang pernah terpatri suci oleh para pendahulu kita, tunjukkan bahwa kita adalah generasi tidak akan mudah ditaklukan serta tunjukkan dan tanamkan bahwa demokrasi generasi kita bersih. Insya Allah.
Kehadiran tulisan sederhana ini merupakan hasil rekaman–rekaman pengalaman yang menyimpan kebenaran pernah singgah dan syukurnya sempat terproses menjadi sebuah renungan untuk disyiarkan. Dan kehadiran sebuah pandangan sederhana dengan harapan bermanfaat dalam safar demokrasi di Negeri yang kita cintai ini keberadaannya jauh dari maksud menggurui, mendikte atau alasan yang lainnya. Insya Allah. (*)






