Society 5.0 Tanpa Akar Budaya: Mengapa Kearifan Lokal Menentukan Masa Depan Teknologi

oleh -119 Dilihat

Oleh: Wahyu Haryadi (Dosen Universitas Samawa Sumbawa Besar) 

Kita sedang memasuki era yang disebut Society 5.0—sebuah fase peradaban ketika kecerdasan buatan, big data, dan teknologi digital dirancang untuk melayani manusia. Berbeda dengan era industri sebelumnya yang berorientasi pada efisiensi dan produktivitas, Society 5.0 menjanjikan kehidupan yang lebih nyaman, inklusif, dan manusiawi.

Namun, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah teknologi benar-benar membuat manusia lebih manusiawi? Atau justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri?

Di tengah derasnya digitalisasi, kita menyaksikan gejala yang paradoksal. Teknologi berkembang pesat, tetapi empati sosial melemah. Akses informasi semakin terbuka, tetapi rasa kebersamaan semakin menipis. Identitas budaya kerap tereduksi menjadi sekadar konten, sementara nilai-nilai lokal yang seharusnya menjadi penuntun justru terpinggirkan. Pada titik inilah, kearifan lokal (local wisdom) menjadi krusial—bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai fondasi etis masa depan.

Teknologi dan Krisis Nilai

Society 5.0 pada hakikatnya adalah konsep human-centered society. Teknologi tidak lagi diposisikan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, tanpa nilai, teknologi cenderung netral—bahkan berpotensi merusak. Algoritma tidak mengenal empati, data tidak memiliki nurani, dan kecerdasan buatan tidak memahami makna keadilan jika tidak diarahkan oleh manusia. Di sinilah budaya berperan. Nilai budaya memberi orientasi tentang untuk siapa teknologi digunakan, dengan cara apa, dan untuk tujuan apa. Tanpa fondasi nilai, Society 5.0 berisiko melahirkan masyarakat yang canggih secara teknologis, tetapi rapuh secara sosial dan moral.

Belajar dari Kearifan Lokal Sumbawa

Pengalaman masyarakat Sumbawa menawarkan pelajaran penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Sumbawa bukan sekadar tradisi simbolik, melainkan sistem nilai yang hidup dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Budaya saleng—yang berarti saling—misalnya, mencerminkan etika sosial yang kuat: saleng tulung (saling membantu), saleng sadu (saling percaya), saleng jango (saling menjenguk), saleng satotang (saling mengingatkan), dan saleng satinggi (saling menghormati). Nilai-nilai ini membentuk modal sosial yang nyata, bahkan menjadi penopang solidaritas ekonomi dan sosial di tengah keterbatasan. Dalam konteks Society 5.0, budaya saleng menjadi penyeimbang penting bagi kecenderungan individualisme digital. Ketika interaksi semakin dimediasi layar, nilai saleng mengingatkan bahwa relasi sosial bukan sekadar koneksi, melainkan komitmen kemanusiaan.

Tradisi, Spiritualitas, dan Kehidupan Digital

Tradisi Ponan dan Pasaji Ponan di Sumbawa juga menunjukkan bagaimana budaya lokal mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai syukur, kebersamaan, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Di era Society 5.0 yang serba cepat dan instan, tradisi semacam ini menjadi ruang refleksi yang semakin langka. Teknologi memang dapat mempercepat hidup, tetapi tidak selalu memperdalam makna. Kearifan lokal justru menawarkan ritme yang lebih seimbang—mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan kedalaman spiritual dan kebijaksanaan sosial.

Budaya dan Pendidikan Karakter

Nilai-nilai lokal juga terpatri dalam permainan tradisional Barapan Kebo dan arsitektur Istana Dalam Loka. Barapan Kebo tidak sekadar perlombaan kerbau, tetapi sarat nilai disiplin, sportivitas, kerja keras, dan religiusitas. Sementara Istana Dalam Loka merepresentasikan nilai spiritual dan moral melalui simbol-simbol arsitektural yang penuh makna. Dalam Society 5.0, warisan budaya ini tidak harus ditinggalkan atau dibekukan. Dengan dukungan teknologi digital—melalui dokumentasi, virtual tour, dan edukasi digital—nilai-nilai tersebut justru dapat diwariskan secara lebih luas kepada generasi muda, tanpa kehilangan esensi budayanya.

Etika Kekuasaan dan Teknologi

Kearifan lokal Sumbawa juga mengajarkan etika tata kelola melalui konsep Krik Salamat, yang menekankan keselamatan, keadilan, dan pertanggungjawaban kekuasaan kepada Tuhan dan manusia. Nilai ini relevan dalam era Society 5.0, ketika keputusan publik semakin dipengaruhi data, algoritma, dan sistem digital. Krik Salamat mengingatkan bahwa kekuasaan—termasuk kekuasaan teknologi—harus dijalankan secara bermoral dan transparan. Tanpa nilai semacam ini, teknologi berisiko menjadi alat dominasi baru yang jauh dari prinsip keadilan sosial.

Menjadikan Budaya sebagai Kompas

Society 5.0 bukan semata soal kecanggihan teknologi, tetapi tentang arah peradaban. Teknologi yang tidak berpijak pada nilai hanya akan mempercepat kehilangan jati diri. Sebaliknya, teknologi yang berpijak pada kearifan lokal dapat menjadi sarana pemanusiaan manusia. Kearifan lokal bukan penghambat inovasi. Ia adalah kompas moral agar inovasi tidak kehilangan arah. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, local wisdom seperti yang hidup di Sumbawa dapat menjadi fondasi penting untuk membangun Society 5.0 yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijak, adil, dan berperikemanusiaan. (*)

Yusron Hadi nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *