SUMBAWA BESAR, samawarea.com (13 Januari 2026) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa melalui Bidang Pembinaan SMP hari ini, Selasa (13/1), menyelenggarakan rapat teknis di Aula Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa.
Pertemuan ini difokuskan pada persiapan pelaksanaan Uji Sosiometri bagi siswa kelas VIII di lima sekolah pilot project, yakni SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, SMPN 4, dan SMPN 5 Sumbawa.
Kepala Bidang Pembinaan SMP, Junaidi, S.Pd., M.Pd., dalam pemaparan materinya menjelaskan bahwa uji sosiometri merupakan instrumen strategis untuk memetakan struktur hubungan sosial siswa. Hal ini dilakukan guna mendeteksi secara dini dinamika kelompok yang berpotensi mengganggu iklim belajar.
Rapat teknis tersebut merumuskan poin-poin utama dalam pelaksanaan survei, termasuk Pemanfaatan Data Hasil Sosiometri yang mencakup berbagai pihak:
Bagi Satuan Pendidikan: Menjadi rujukan bagi Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam melakukan intervensi klinis, penataan sosial kelas, serta perlindungan siswa rentan.
Bagi Dinas Pendidikan: Menjadi basis data makro untuk memetakan indeks keamanan sekolah dan merumuskan kebijakan pencegahan kekerasan di tingkat kabupaten.
Bagi Orang Tua Siswa: Sebagai alat deteksi dini bagi orang tua untuk mengetahui posisi sosial anak di sekolah. Data ini membantu orang tua memahami apakah anak cenderung berada dalam lingkungan pergaulan yang berisiko (geng) atau justru mengalami isolasi sosial (potensi korban bullying), sehingga langkah pendampingan di rumah dapat dilakukan secara lebih tepat dan kolaboratif bersama sekolah.
Alasan Strategis Pemilihan Siswa Kelas VIII Dalam pemaparannya, Junaidi menegaskan mengapa siswa kelas VIII menjadi fokus utama. Berdasarkan tinjauan psikologis, siswa pada tingkat ini berada pada fase transisi sosial yang paling dinamis.
“Siswa kelas VIII memiliki kecenderungan membentuk kelompok sebaya yang lebih kuat dibandingkan kelas lainnya. Dengan melakukan pemetaan di fase ini, sekolah memiliki kesempatan untuk melakukan intervensi dini yang lebih efektif sebelum pola perilaku negatif menjadi permanen atau terbawa hingga kelas IX,” jelas Junaidi.
Melalui rapat teknis ini, Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa berkomitmen memastikan setiap Guru BK memiliki kesiapan teknis dalam mengolah data sosiogram demi mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan melalui sinergi antara sekolah, dinas, dan orang tua. (SR)






