Sumbawa Selamatkan Warisan Budaya Lewat Pengelolaan Arsip dan Kajian Koleksi

oleh -480 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (2 Desember 2025) – Kabid Pengelolaan dan Perlindungan Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumbawa, Hadijah menegaskan pentingnya pengelolaan arsip dalam menjaga keaslian dan memori sejarah suatu koleksi. Ia menyebut, arsip bukan sekadar dokumen, tetapi jejak autentik yang menentukan asal-usul, kepemilikan, dan nilai sebuah benda budaya.

“Dengan pengelolaan arsip, kita bisa menelusuri sejarah kepemilikan, keaslian, hingga proses akuisisi koleksi. Data arsip menjadi sumber riset kebudayaan yang sangat bertanggung jawab,” ujar Hadijah saat menjadi narasumber dalam Seminar Kajian Koleksi Museum di Gedung UPT Museum Sumbawa, Selasa (2/12/2025).

Menurutnya, perlindungan arsip harus dilakukan secara serius. Hadijah mengungkapkan bahwa pihaknya secara rutin turun ke kecamatan-kecamatan untuk menelusuri dan menyelamatkan arsip-arsip kuno. Program ini telah dilakukan sejak tahun 2004, termasuk membantu masyarakat yang memiliki dokumen berharga tetapi tidak tahu cara menyimpannya.

“Jika ada masyarakat yang memiliki arsip kuno, silakan hubungi kami di kantor perpustakaan. Setiap tahun kami melakukan penelusuran. Bila pemilik mengizinkan, arsip itu akan kami bawa ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk dikelola dan dilindungi,” jelasnya.

Hadijah menyebut banyak arsip bersejarah rawan hilang karena usia, bencana, hingga kelalaian manusia. Untuk itu, penyimpanan harus dilakukan di tempat yang aman dan tahan bencana.

“Di kantor kami, arsip disimpan di lemari khusus yang tahan api. nKalaupun terjadi kebakaran, arsip tetap bisa terselamatkan. Kami juga mengantisipasi kerusakan akibat air,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa penyelamatan arsip berkaitan langsung dengan pelestarian bukti autentik sejarah. Benda-benda museum dan arsip memiliki peran berbeda namun saling melengkapi.

“Pengembangan koleksi museum tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan, perlindungan, dan penyelamatan arsip. Museum menjaga bentuk fisiknya, arsip menjaga memori dan konteksnya,” kata Hadijah.

Menurutnya, setiap koleksi yang dipamerkan mulai dari foto bupati hingga benda peninggalan sultan — harus disertai arsip yang memuat cerita sejarahnya.

“Tanpa museum, arsip hanyalah cerita tanpa bentuk. Tanpa arsip, museum hanyalah benda tanpa cerita,” ujarnya.

Hadijah berharap upaya tersebut terus dilanjutkan untuk menjaga warisan budaya bangsa agar dapat dinikmati generasi mendatang.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan merawat jejak sejarah. Itu tugas kita semua,” cetusnya.

Sementara narasumber lainnya, Budayawan sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya, Aries Zulkarnain, menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam melihat benda-benda bersejarah. Menurutnya, sebuah artefak tidak cukup hanya dipandang sebagai benda tua, tetapi perlu dikaji dari empat unsur utama yaitu sejarah, bentuk, fungsi, serta makna.

“Saya selalu memulai kajian dari empat sisi. Pertama sejarah, kedua bentuk, ketiga fungsi, dan keempat makna keberadaan benda itu,” ujar Aries.
Ia menilai, banyak benda yang kerap ditemui di museum atau rumah ibadah, namun tidak semuanya otomatis menjadi benda cagar budaya. Benda-benda tersebut harus memiliki nilai sejarah, nilai budaya, dan nilai seni yang jelas.

Aries menjelaskan bahwa di berbagai masjid di dunia selalu ditemukan benda-benda yang sama, namun sering kali masyarakat melewatkan unsur budayanya.

“Kadang kita melihatnya hanya sebagai kursi kecil, tempat mikrofon, atau perabot sederhana. Padahal bentuk-bentuk itu muncul karena ekspresi budaya, pemahaman, dan pendalaman ajaran yang diyakini masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, setiap kebudayaan selalu lahir dari sistem kepercayaan dan agama yang dianut oleh masyarakat setempat. Karena itu, kajian terhadap artefak masjid bukan sekadar menilai bentuk fisiknya, tetapi juga hubungan antara manusia, keyakinan, dan proses pemaknaan yang berkembang di dalamnya.

Aries menyayangkan banyak benda bernilai budaya di masjid yang tidak dikaji secara mendalam, bahkan tidak sedikit yang dibiarkan hilang atau ditutup tanpa penjelasan.

“Benda-benda ini sarat muatan, baik fungsi maupun simbolnya. Sayang sekali kalau tidak dikaji secara benar,” katanya.seraya menunjuk sebuah mimbar peninggalan Kesultanan Sumbawa yang menjadi koleksi museum.

Ia juga menyoroti simbol-simbol dalam tata letak maupun jumlah benda tradisional yang sering ditemukan di ruang ibadah, seperti perabot dengan unsur angka tertentu. Menurutnya, hal itu menunjukkan posisi, peran, serta pemahaman masyarakat terhadap adat dan ajaran yang mereka anut.

“Semua simbol itu memiliki makna. Kadang sederhana, tetapi sebenarnya merupakan bentuk pengetahuan yang diwariskan,” tambahnya.

Aries berharap ke depan masyarakat, pemerintah desa, serta pengurus masjid lebih terbuka terhadap kajian kebudayaan. Ia menegaskan bahwa pelestarian tidak hanya dilakukan dengan menyimpan benda di museum, tetapi juga melalui pendidikan dan pemaknaan terhadap kekayaan budaya yang ada di sekitar.

“Yang penting bukan hanya benda itu disimpan, tetapi maknanya dipahami. Itulah yang menjadi perhatian kita semua,” tandasnya. (SR)

slot gacor

hpn2026 nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *