Menghargai Ketulusan Alam: Pelindung Alami di Tanah Sumbawa

oleh -440 Dilihat

Oleh: Win Ariga Mansur Malonga (Akademisi UTS/ Mahasiswa S3 Prodi PSL IPB) 

Kita sering lupa bahwa keselamatan manusia adalah hadiah tanpa pamrih dari alam. Di Kabupaten Sumbawa, alam bekerja dalam diam sebagai pelindung yang paling setia. Ia tidak pernah mengirimkan tagihan, namun terus menyediakan layanan vital yang disebut jasa lingkungan atau jasa ekosistem. Secara sederhana, jasa lingkungan adalah kontribusi nyata dari struktur dan fungsi alam bagi kesejahteraan manusia. Jasa ini merupakan jembatan antara kesehatan ekosistem dan keselamatan nyawa kita di rumah.

Mengapa jasa lingkungan ini sangat penting? Karena alam memiliki fungsi pengatur yang menjaga stabilitas lingkungan secara mandiri. Layanan alami ini mencakup kemampuan alam dalam mengatur siklus air, menjaga kekuatan tanah, hingga mengendalikan suhu udara agar tetap seimbang. Tanpa fungsi pengatur ini, lingkungan akan kehilangan kemampuannya untuk pulih dan menjadi sangat rentan terhadap kerusakan.

Di Kabupaten Sumbawa, melalui bentang lahan seluas 665.591 hektar, alam sedang menjalankan perannya sebagai perisai bencana yang tangguh. Perlindungan alami ini merupakan jaminan utama bagi keselamatan, mutu hidup, dan keberlanjutan masyarakat kita. Memahami jasa lingkungan berarti menyadari bahwa ketersediaan perlindungan alami dari ekosistem adalah modal paling berharga yang kita miliki saat ini.

Kekuatan utama perlindungan kita terletak pada kemampuan hutan sebagai penyerap banjir alami. Secara akumulasi, lebih dari 57% wilayah Kabupaten Sumbawa masih memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap air hujan. Hutan di wilayah hulu menangkap air dan mengalirkannya secara perlahan ke dalam tanah. Proses ini memastikan air tidak langsung tumpah ke pemukiman sebagai banjir bandang. Inilah modalitas lingkungan yang memastikan warga di wilayah hilir tetap terlindungi saat musim penghujan tiba.

Ketulusan alam juga terlihat dari perannya sebagai penstabil lereng yang kuat. Sekitar 60% daratan Kabupaten Sumbawa memiliki ketangguhan alami dalam menahan pergerakan tanah. Akar pepohonan di wilayah pegunungan bekerja mengikat tanah agar tidak mudah runtuh. Pegunungan Batulanteh adalah contoh wilayah yang menjalankan fungsi ini dengan sangat baik. Alam menjaga stabilitas lereng tanpa kita sadari, sehingga risiko bencana tanah longsor yang masif dapat dicegah.

Selain itu, alam juga bekerja secara cerdik sebagai pencegah kebakaran hutan. Lebih dari 77% wilayah Kabupaten Sumbawa memiliki kinerja yang sangat baik dalam menjaga kelembapan tanah. Hutan yang terjaga menciptakan suhu yang sejuk dan menghalangi panas matahari langsung ke lantai hutan. Kondisi ini membuat bahan organik di bawahnya tidak mudah kering dan terbakar. Alam sebenarnya telah menyediakan sistem pengamanan api gratis yang sangat efektif bagi daerah kita.

Namun, kita tetap harus waspada karena alarm tanda bahaya mulai terlihat di beberapa titik. Wilayah seperti Labuhan Badas, Lape, dan Tarano kini teridentifikasi sebagai wilayah dengan kerentanan tinggi. Di pusat perkotaan seperti Kecamatan Sumbawa, alam sudah kehilangan kemampuan aslinya untuk menyerap air. Tanah yang tertutup bangunan membuat air hujan tidak lagi memiliki tempat untuk meresap. Ini adalah peringatan bahwa saat daya dukung alam menurun, risiko bencana bagi manusia akan meningkat.

Solusi terbaik bagi masa depan kita adalah melindungi area yang kinerja jasa lingkungannya masih sangat bagus. Wilayah seperti Kecamatan Lunyuk, Ropang, dan Batulanteh harus tetap dijaga sebagai kawasan lindung. Perlindungan terhadap hutan di wilayah hulu ini bersifat wajib dan tidak bisa ditawar. Jika fungsi perlindungan di area ini rusak, maka seluruh kabupaten akan menanggung kerugian bencana yang besar. Menjaga area yang masih sehat adalah investasi keselamatan yang paling murah.

Bagi wilayah yang nilai kinerja jasa lingkungannya sudah rendah, kita harus segera menyiapkan skenario darurat. Program pemulihan lahan dan pembangunan infrastruktur tambahan harus menjadi prioritas di area kritis ini. Kita tidak boleh menunggu bencana datang baru mulai bertindak. Setiap keputusan penataan ruang harus didasarkan pada kemampuan alam yang ada di lapangan. Hal ini bertujuan agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan keselamatan warga.

Sebagai penutup, artikel ini menyertakan infografis yang memetakan sebaran wilayah “perisai” dan wilayah kritis di Sumbawa. Visualisasi ini membantu kita melihat secara nyata di mana saja benteng alami kita berada dan di mana kita harus lebih waspada. Alam telah memberikan segalanya untuk kita tanpa pamrih. Sekarang, tugas kita adalah menjaga agar perlindungan alami ini tidak hilang ditelan pembangunan yang tidak terkontrol. (*)

Yusron Hadi nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *