Bangkitkan Lagi Kejayaan Bawang Putih NTB, Inovasi Pascapanen Jadi Fokus

oleh -75 Dilihat

MATARAM, samawarea.com (15 November 2025) – “Inovasi Alsintan Berkelanjutan: Kampus Didorong Perkuat Mekanisasi Pertanian yang Adaptif dan Berkeadilan” menjadi isu strategis yang diperbincangkan hangat dalam dialog pagi RRI Jum’at (14/11). Tema ini mengemuka menyusul diskursus nasional terkait anggaran alat dan mesin pertanian (alsintan) yang mencapai Rp 10 triliun, namun sebagian besar masih bergantung pada produk impor.

Dipandu host RRI, Agus, perhatian diarahkan pada peran kampus dalam memperkuat kemandirian mekanisasi pertanian. “Walaupun anggarannya besar, kita masih bergantung pada alsintan buatan mancanegara. Kampus harus hadir memberi kontribusi agar ketergantungan ini menurun,” ujar Agus membuka diskusi.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Muhammad Riadi menyampaikan bahwa inovasi menjadi pilar penting dalam pembangunan pertanian modern. Ia mencontohkan transformasi dari panen manual menuju penggunaan combine harvester sebagai lompatan mekanisasi yang relevan.

Namun ia menegaskan bahwa tidak semua produk luar negeri langsung cocok digunakan di NTB. “Ada proses adaptasi. Karena itu peran perguruan tinggi menjadi penting untuk mendampingi petani dalam produksi dan pascapanen,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti sejarah kejayaan bawang putih NTB pada era 1980-an dan upaya mengembalikan kejayaan tersebut melalui program Upland.

“Empat tahun terakhir ini, bawang putih kembali tumbuh di Sembalun, Suela, dan Sapit. Tantangannya kini ada pada pascapanen,” jelasnya.

Ia menilai bawang putih lokal memiliki keunggulan aroma dan rasa, namun kalah dari bawang putih impor soal ukuran dan harga. Karena itu, ia mendorong diversifikasi produk melalui pengolahan menjadi pasta atau pure bawang putih.

“Kita tidak perlu teknologi mahal. Skala rumah tangga pun sudah mampu. Kalau ini berjalan, kita bisa buat pasta bawang putih, bawang merah, hingga cabai. Dampaknya besar: inflasi bisa terkendali dan petani tidak lagi merugi saat panen raya,” ujarnya optimistis.

Sementara Wakil Dekan I FATEPA UNRAM sekaligus Ketua PERTETA NTB, Murad, SP., MP. menegaskan bahwa percepatan mekanisasi menjadi salah satu fokus utama Kementerian Pertanian sejak 2014. Banyak teknologi besar yang beredar di Indonesia merupakan produk impor dengan kapasitas tinggi, namun tidak semuanya cocok dengan kondisi lahan di NTB.

“Rata-rata luas petak lahan di Lombok sekitar 10 are. Jadi yang paling relevan adalah hand traktor atau mini traktor, bukan mobil traktor. Teknologi harus menyesuaikan karakter wilayah,” jelasnya.

Ia juga menyoroti menurunnya ketersediaan tenaga kerja di sektor pertanian, sehingga penggunaan combine harvester menjadi solusi kebutuhan panen yang cepat dan efisien.

Menurut Murad, kampus dan balai mekanisasi telah menghasilkan banyak inovasi alat pertanian dalam negeri yang siap dikembangkan lebih luas. “Ada banyak produk berbasis riset perguruan tinggi yang sebenarnya sudah mampu menjawab kebutuhan petani kita,” pungkasnya. (SR)

Yusron Hadi nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *