OPINI: Pemilih Ormas dan Milenial di NTB

oleh -638 Dilihat

Penulis: Irawansyah, S.IP.,M.IP : Pengamat Politik Pulau Sumbawa & Dosen Ilmu Pemerintahan  Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea  (IISBUD SAREA)

SUMBAWA BESAR, SR (14/09/2018)

Semenjak proses penetapan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada pekan lalu di KPU, banyak hal-hal unik yang menarik perhatian publik di antara kedua kubu. Baik kubu Jokowi-Ma’ruf Amin, maupun Prabowo-Sandiaga Uno. Jika dilihat dari kacamata koalisi partai politik di antara kedua kubu sepertinya tidak jauh berbeda dengan koalisi partai yang dibangun pada Pilpres 2014. Karena aktor yang bertarung sebagai kandidat calon presiden masih tetap Jokowi dan Prabowo, yang membedakan adalah calon wakil presidennya. Kalau Tahun 2014 Jokowi menggandeng JK sebagai wakilnya, akan tetapi di tahun 2019 mendatang Jokowi menggandeng Ma’aruf Amin sebagai wakil presiden yang bagroundnya dari ormas NU. Semenetara dari tim lawan pada tahun 2014, saat itu, Prabowo dengan Hatta Rajasa kini Prabowo menggandeng Sandiaga Uno.

Menurut hasil Survey LSI bahwa karakteristik pemilih pada ormas 74 %. Dengan metode Multistage Random Sampling dengan jumlah 12.000 Responden yang dilaksanakan pada 28 Juni–5 Juli 2018. Paska Pilkada ada kenaikan elektabilitas Jokowi pada Bulan Mei 46,00% dengan kenaikan Bulan Juli 49,30 %. Meskipun elektabiltasnya di bawah 50% tapi angka ini cukup kuat bagi kubu Prabowo untuk merebut suara milenial. Karena elektabilitas lawan cukup stagnan. 44,70 % Mei dan Juli 45-20%. Sehingga tidak heran team dari Kubu Prabowo-Uno saat ini memainkan stategi politik melalui media sosial sebagai upaya menaikan elektabilitas.

Upaya strategi yang dapat diamati di media sosial saat ini adalah memainkan sosok Sandiaga Uno. Mulai dari “Partai Emak-Emak, Pengusaha Muda Yang Sukses, Taat Beragama dan Ketampanan yang dimiliki. Hal ini sah-sah saja sebagai potensi untuk menaikan popularitas calon. Tidak sampai disitu saja, keadaan kenaikan Dolar juga dimainkan oleh pasangan ini untuk menaikan popularitas.

Sementara dari hasil survey OMI pada tanggal 5-17 April 2018 yang menggunakan Metode Multistage Random Sampling dengan populasi 1.0666.851 (DPT se-Pulau Sumbawa) dengan sample 863 responden. Sebagai lembaga Survey Politik Indonesia Timur mengakui bahwa tingkat partisipasi pemilih milenia mengalami peningkatan yang signifikan 82%. Kecendrungan pemilih milenia di NTB sangat mengidolakan figure yang tampan dan cerdas. Selain itu, dari hasil metode Multistage Random Sampling, OMI juga memperkuat analisis Survey dengan Expert Judgment (kualitatif) untuk menilai kelayakan setiap capres dan cawapres untuk memenuhi terbentuknya pemerintahan yang kuat (strong government) dengan melibatkan para ahli yang mewakili dari kalangan akademisi, politisi dan birokrasi yang secara territorial mewakili kabupaten se-Pulau Sumbawa. Hasil survey OMI membuktikan bahwa 78% publik puas dengan reformasi birokrasi sistem pemerintahan dan pemerintahan yang bersih. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari peran pemerintah, baik pemerintah daerah provinsi maupun pemerintah daerah yang ada di Pulau Sumbawa. Keberhasilan NTB tidak lepas dari pengaruh dan hasil kinerja TGB selaku Gubernur NTB.

Masuknya TGB sebagai bagian dari tim Jokowi, sempat mendapat respon yang begitu besar dari publik. Tentu hal ini sangat menguntungkan tim Jokowi. Pasalnya, TGB yang pernah menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Rajasa pada tahun 2014 membuktikan bahwa perolehan suara pasangan Capres dan Cawapres tersebut unggul di NTB sebanyak 72%. Namun yang menarik pada pemilihan Capres dan Cawapres pada tahun 2019 mendatang, TGB menjadi Tim Jokowi-Ma’aruf Amin. Pengaruh politik yang dimiliki oleh TBG tentu masih kuat, jika dilihat dari keberhasilan memimpin NTB selama 10 tahun. Selain itu, kekuatan ormas NW juga tidak dapat dikesampingkan, karena selama masa pemilihan NTB sebagai calon Gubernur selalu menjadi garda terdepat dibandingkan kekuatan partai politik. Pemetaan kekuatan politik yang dimiliki oleh TGB dengan variabel keberhasilan dalam sistem pemerintahan ternyata berdampak besar pada masyarakat NTB khususnya Pulau Sumbawa.

Pengaruh ketokohan ulama dan ormas NW yang melekat di TGB ternyata juga bisa memberikan pengaruh yang besar kepada Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB pada pemilihan 27 Mei 2018 yang telah berlalu, dan hasilnya membuktikan bahwa pasangan tersebut memenangkan pemilihan tersebut. Akan tetapi pasangan calon tersebut didukung oleh partai politik yang saat ini berkoalisi dengan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. PKS dan Demokrat baru saja menyatakan sikap siap mendukung. Sehingga proyeksi kedepan untuk Pilpres 2019 di NTB akan sangat menarik. Antara kekuatan ormas, kekuatan partai politik dan kekuatan pemilih milenia. (*)

bawaslu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *