MATARAM, SR (02/02/2018)
Pemilihan Gubernur NTB 2018 mendatang dipastikan akan menarik banyak animo masyarakat. Tingkat partisipasi politik rakyat untuk memilih calon pemimpin di daerahnya akan meningkat seiring dengan membaiknya persepsi rakyat tentang figure-figur yang mengikuti konstestasi Pilkada ini. Kecenderungan membaiknya sentimen positif dari rakyat karena pesona figur yang tampil di Pilgub NTB memiliki magnet yang kuat dengan latar belakang maupun talenta yang dimilikinya.
Terkait hal itu, Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto SH didampingi Sekretaris, Lalu Athari Fathullah SE, Jumat (2/2) mengatakan, bahwa pasangan calon (Paslon) Ali-Sakti diprediksi akan menang. Sebab Ali BD—Bacagub pasangan Sakti ini pernah mengikuti Pilkada Lotim 2013 silam melalui jalur independen dan menang. Selain itu sebagai calon independen, setidaknya Ali-Sakti memiliki loyalis votter 303 ribu lebih suara by name by adress yang siap menjadi avant garde. Sementara Paslon Suhaili-Amin yang diusung Golkar, Nasdem dan PKB dengan 19 Kursi parlemen equavalen 700 ribuan suara, pasti tidak mudah dikalahkan oleh lawan politiknya karena kekuatan mesin partai. Selain itu dukungan Jamaah Yatofa dan kaum Nahdliyin yang jumlahnya cukup signifikan menambah pundi-pundi suara Suhaeli Amin.
Baik Ali BD maupun Suhaili menyadari memiliki bargain politik kuat. Sebagai playmaker politik utama, publik akan disuguhi pesona manuver politik yang handal oleh kedua figur tersebut dalam mengatur dan menggerakan gerbongnya meraih simpati dan dukungan rakyat.
Ali Sakti dan Suhaili Amin pasti sudah mengkalkulasi secara cermat soal probabilitas maupun plus minus mengikuti perjudian politik ini. “Yang jelas mereka tidak ingin dipecundangi dengan mudah,” kata Didu—sapaan Direktur Mi6 ini.
Bagi Ali Sakti dan Suhaili Amin, konstestasi PilGub NTB ini dianggap sebagai lompatan titian karier politik ke jenjang lebih atas sekaligus prestise politik tertinggi . “Hal ini karena mereka punya track record bertarung di arena Pilkada dan sama-sama menang dua kali. Jadi wajar jika Pilgub NTB ini dijadikan final battle,” imbuhnya.
Menurut Didu, sebagai gladiator politik yang mumpuni, kedua paslon tersebut saat ini terlihat masih saling menjajaki ketahanan gerakan politiknya dalam memperebutkan simpati rakyat. “Suhaili Amin itu ibarat burung Nazar yang tetap memantau dari kejauhan setiap pergerakan rival politiknya,” selidik Didu.
Sebaliknya, Cagub NTB, Ali BD nampak makin agresif lewat kontruksi manuver politik paradoks yang kerap kontroversial. “Ali BD sengaja membangun opini kontroversi politik sebagai upaya menaikkan citra posisi tawarnya,” lanjutnya.
Bagi Didu, rangkaian kontroversi yang dicuatkan Ali BD sebagai bagian mengedukasi dan memberikan pencerahan politik. Karena rakyat harus dibangunkan kesadaran politiknya agar peduli terhadap realitas sekelilingnya. Di lain pihak, lanjut Didu, paslon Suhaili Amin justru menjauhi politik konfrontasi karena menjadi kontra produktif, jika harus menambah lawan politik di luar ring. Suhaili Amin terkesan low profile dan adem ayem di balik gesekan politik yang ekskalasinya cenderung meningkat. Tapi yang jelas kedua Paslon ini, sambung Didu, ingin menjadi yang terbaik di mata konstituen. “Semua media dipakai untuk membranding tampilannya agar makin perfect tapi berbeda strategi taktiknya,” ujarnya.
Peta Dukungan dan Taktik Strategi
Ditambahkan Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathullah bahwa dalam mengetahui dan mengukur ekspektasi persepsi publik, Ali Sakti dan Suhaili Amin memasang jaring pengaman politik yang bisa meng-update secara berkala elektabilitas maupun sisi kelemahan team worknya. “Lembaga survey dan media pasti menjadi salah satu referensi utama melihat kecenderungan isu-isu yang berkembang maupun pergerakan Paslon lain,” ungkap Athar.
Lebih jauh Athari mengulas salah satu parameter mengukur elektabilitas atau popular vote paslon, selain hasil-hasil perolehan suara dalam proses politik sebelumnya juga survey lembaga politik dalam melihat ekspektasi pemilih. Lembaga Survey oleh kedua paslon tersebut sebagai tools mengukur capaian kerja politik dalam meraih persepsi dan ketertarikan konstituen. “Survey politik penting karena memiliki mekanisme dan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, khususnya berdasarkan ilmu statistika,” ungkapnya sembari memprediksi baik Ali Sakti dan Suhaili Amin menggunakan lembaga survey sebagai acuan pergerakan politiknya di basis.
Meskipun demikian, imbuh Athar, harus dipahami bahwa survey itu hanya tools untuk mengukur tingkat elektabilitas calon pada saat itu. Survey hanya semacam petunjuk awal yang terlihat sesaat dan tidak menunjukkan jumlah perolehan suara. Namun menjadi salah satu tools untuk mengambil keputusan dan strategi politik dalam konstestasi politik ini.
Terkait peta dukungan, dengan loyalis votter by name by adress tersebut, kerja politik paket Ali Sakti di basis lebih mudah karena sudah mengetahui mapping suara pemilihnya. Guna memaksimalkan dan memperluas dukungan pemilih lainnya, Ali Sakti cukup menugaskan 303 ribu loyalis vottersnya tersebut merekrut dan merawat tiga orang pemilih saja secara intens dipastikan memenangkan PilGub NTB. “Maka dengan 1,2 juta pemilih Ali Sakti akan menjadi pemenang PilGub NTB dengan catatan tidak ada turbulensi politik yang mengganggu kinerja Ali Sakti di mata publik,” timpal Didu yang juga mantan Direktur Eksekutif Daerah Walhi NTB ini.
Paket Suhaili Amin demikian, tentu akan memaksimalkan kerja mesin politik parpol pengusung plus relawan loyalisnya, khususnya dari Jamaah Yatofa dan kaum Nahdliyin. Selain itu peran Cawagub Muh Amin dalam memback up perolehan suara Pulau Sumbawa.
Dalam kontek ini Paket Suhaili Amin untuk wilayah Mbojo perolehan suaranya kelak diprediksi cukup signifikan, khususnya di kota dan Kabupaten Bima. “Ketua Golkar Kabupaten Bima yang juga Bupati Bima tentu akan diinstruksikan memaksimalkan peran dan power politiknya. Untuk Kota Bima peran Cawalkot Bima, Lutfi yang diusung Golkar tentu tidak tinggal diam memenangkan Suhaeli Amin juga,” urainya.
Untuk Lombok Barat dan Kota Mataram mesin politik Partai Golkar akan memainkan peran strategis memenangkan Suhaili Amin karena dua wilayah ini lumbung tradisional suara utama Golkar dari masa ke masa. “Meskipun demikian tetap terbuka celah suara Golkar terbelah karena faktor Ahyar Abduh,” cetus Didu.
Selanjutnya PKB NTB, dengan melihat kecenderungan politik yang mengemuka ke publik agaknya partai ini perlu membuka dialog dengan NU maupun sayap pemuda Nahdliyin lainnya terkait sejumlah putusan politik yang dianggap tidak elok. “PKB NTB saat ini mengalami situasi yang dilematis terkait relationshipnya dengan NU maupun kaum muda NU lainnya yang mendukung paslon di luar Suhaeli Amin,” pungkasnya. (SR)






