SUMBAWA BESAR, samawarea.com (1 Februari 2026) – Tradisi luhur Sedekah Ponan kembali digelar di Unter Ponan Orong Rea, Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Ahad (1/2) pagi. Kegiatan tahunan yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur Tau Samawa ini dihadiri berbagai unsur masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta jajaran pemerintah daerah.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP yang diwakili Asisten I Setda Sumbawa, Jaya Kusuma, S.Sos, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, lembaga adat, serta masyarakat Desa Poto, Lengas, Malili, dan sekitarnya yang terus menjaga tradisi ini agar tetap hidup dan bermakna.
“Sedekah Ponan bukan sekadar agenda tahunan dan bukan pula seremoni biasa. Ini adalah cara masyarakat berbicara dengan alam, cara petani menyampaikan rasa syukur dan harapan melalui bahasa budaya yang sederhana namun penuh makna,” ujar Jaya Kusuma membacakan sambutan Bupati.
Ia menegaskan, tradisi ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak berdiri sendiri. Sawah yang hijau bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga buah dari doa, kebersamaan, serta kesadaran menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan lingkungan.
Yang menarik, lanjutnya, Sedekah Ponan sarat dengan pesan ekologis yang diwariskan leluhur. Jenis kuliner yang disajikan seperti petikal, buras, dange, dan onde-onde dimasak dengan cara direbus atau dibakar, serta dibungkus dengan daun pisang dan daun kelapa.
“Ini bukan tanpa alasan. Nenek moyang kita telah mengajarkan keselarasan dengan alam. Daun pisang dan kelapa mendorong masyarakat untuk menanam dan melestarikan tanaman tersebut. Cara memasak dengan direbus dimaknai sebagai simbol doa yang menguap ke langit, harapan agar hujan turun mengairi sawah,” jelasnya.
Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan petuah Lawas Tau Samawa: “Kle tu sabalong desa, na sarusak tani tana, sanuman nanta tu mudi” yang bermakna bahwa pembangunan tidak boleh merusak sawah dan lingkungan, karena di sanalah masa depan disemai.
Ia menilai, pesan moral ini sangat relevan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang kini banyak digaungkan. Adat, kata dia, telah lebih dulu mengajarkannya jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas.
Selain sebagai ruang silaturahmi, berbagi, dan gotong royong tanpa sekat sosial, Sedekah Ponan juga menjadi ruang pewarisan nilai budaya kepada generasi muda. Keterlibatan pemuda dalam seni budaya dan pelaksanaan kegiatan menjadi bukti bahwa tradisi ini terus berjalan ke masa depan.
Lebih jauh, Pemkab Sumbawa melihat Sedekah Ponan memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya di Kecamatan Moyo Hilir. Lokasinya yang sarat sejarah, keberadaan makam para ulama dan leluhur, termasuk Makam Haji Batu yang dikeramatkan, menjadi kekayaan budaya yang unik.
“Jika dikelola dengan bijak tanpa menghilangkan nilai sakralnya, Sedekah Ponan dapat menjadi magnet wisata budaya yang menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menjadi ruang edukasi tentang kearifan lokal Tau Samawa,” pungkasnya. (SR)






