Cari Bibit Tahan Penyakit, Dosen Bioteknologi dan Konservasi SDA UTS Teliti Bawang Merah Sumbawa

oleh -522 Dilihat

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (15 Desember 2025) — Upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas bawang merah di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat terus dilakukan. Dua dosen Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), yaitu Kurniawan Eka Putra dari Program Studi Bioteknologi dan Marselianti dari Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam, bersama sejumlah mahasiswa bioteknologi, tengah melaksanakan penelitian untuk menemukan bibit bawang merah unggul yang lebih tahan penyakit, khususnya jamur Fusarium.

Penelitian ini berlangsung sejak Mei hingga Desember 2025 dengan dukungan hibah dana riset Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui program Penelitian Dosen Pemula. Penelitian ini melibatkan pengambilan sampel dari seluruh lokasi utama budidaya bawang merah di dua kabupaten tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan simple sequence repeat (SSR), sebuah metode marka molekuler yang sangat akurat dalam mendeteksi variasi genetik antar tanaman. Teknik ini memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi sifat-sifat unggul seperti ketahanan terhadap penyakit, potensi hasil tinggi, dan kualitas umbi yang lebih baik. Dengan SSR, proses seleksi calon bibit unggul dapat dilakukan lebih cepat dan efisien dibandingkan metode tradisional yang membutuhkan waktu lama dan mengandalkan pengamatan fisik semata.

Menurut Kurniawan Eka Putra, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani bawang merah di Sumbawa adalah serangan jamur Fusarium. Serangan jamur ini dapat menyebabkan tanaman layu, gagal tumbuh, dan menurunkan hasil panen secara signifikan. Ketika bibit tidak memiliki ketahanan alami terhadap jamur tersebut, petani terpaksa menggunakan pestisida dalam jumlah besar untuk mencegah kerusakan.

“Penggunaan pestisida berlebih bukan hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga berdampak buruk bagi lingkungan dan kualitas tanah. Karena itu, menemukan bibit yang secara genetik tahan jamur adalah solusi jangka panjang yang jauh lebih efektif,” jelasnya.

Dengan memahami variasi genetik bawang merah dari berbagai kecamatan, tim peneliti berharap dapat menemukan bibit yang secara alami memiliki ketahanan lebih kuat. Bibit-bibit inilah yang nantinya dapat digunakan sebagai tetua persilangan untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul.

Proses penelitian dimulai dengan pengambilan sampel di berbagai kecamatan di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Setiap sampel diambil langsung dari lahan para petani, baik berupa umbi maupun daun bawang merah, kemudian diberi penandaan khusus sesuai lokasi asalnya. Setelah dikumpulkan, sampel dibawa ke Laboratorium Sumbawa Techno Park dan laboratorium Fakultas Ilmu dan Teknologi Hayati UTS untuk dilakukan pengujian berbasis SSR.

Marselianti menjelaskan bahwa teknik SSR dilakukan dengan mengekstraksi DNA dari setiap sampel, kemudian menganalisis pola genetiknya melalui proses amplifikasi.

“Setiap tanaman punya pola genetik yang unik. Lewat SSR, kita bisa melihat seberapa dekat hubungan kekerabatan antar bibit dari berbagai kecamatan, dan mana yang memiliki keragaman genetik tinggi yang berpotensi menjadi kandidat unggul,” katanya. Data tersebut kemudian akan dianalisis untuk menghasilkan peta kekerabatan genetik sebagai dasar penentuan strategi pemuliaan.

Keragaman genetik yang tinggi merupakan modal penting dalam penyusunan varietas baru bawang merah. Varietas yang memiliki perbedaan genetik signifikan umumnya mampu menghasilkan keturunan yang lebih adaptif dan tahan terhadap kondisi lingkungan. Karena itu, penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan regional, terutama di Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu lumbung bawang merah nasional.

Selain menghasilkan data untuk program pemuliaan, penelitian ini juga memberi manfaat besar bagi mahasiswa UTS yang terlibat. Mereka memperoleh pengalaman langsung mengenai teknik biologi molekuler, analisis genetika, hingga pengolahan data lapangan.

“Kami ingin mahasiswa belajar dari proses nyata, bukan hanya teori di kelas. Keterlibatan mereka dalam penelitian ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas SDM lokal,” tambah Marselianti.

Dengan dukungan teknologi PCR dan marka molekuler, penelitian ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan varietas bawang merah lokal Sumbawa yang lebih tangguh, produktif, dan ramah lingkungan. Temuan ini diharapkan akan membantu menghasilkan bibit bawang merah yang unggul dan mengurangi ketergantungan pada pestisida, menekan biaya produksi, dan meningkatkan hasil panen.

“Jika kita bisa menemukan bibit unggul yang benar-benar tahan penyakit, maka itu akan menjadi terobosan besar bagi petani di Sumbawa, sehingga dapat membawa perubahan positif dalam sistem budidaya bawang merah di daerah,” ujar Kurniawan.

Penelitian yang memadukan teknologi modern dan kearifan lokal ini menjadi bukti bahwa kerja sama antara akademisi, mahasiswa, dan petani dapat menghasilkan inovasi nyata untuk memperkuat sektor pertanian di Sumbawa. Dengan pemanfaatan marka molekuler SSR, langkah menuju pengembangan bibit bawang merah unggul semakin dekat dan diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. (SR)

 

 

hpn2026 nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *