SUMBAWA BESAR, samawarea.com (16 Februari 2023)–Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pamunga adalah sekolah satu-satunya tempat menimba ilmu masyarakat di tiga dusun. Namun setiap musim penghujan, kondisinya selalu menyedihkan karena menjadi langganan banjir dan genangan.
Dampak dari banjir ini membuat terganggunya aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut. Selain itu guru dan murid kewalahan sebab harus berulang kali melakukan kegiatan bersih-bersih bekas lumpur baik di dalam maupun luar kelas. Mungkin ini disebabkan juga karena posisi sekolah yang berada tepat di tikungan sungai kecil (kokar).
Kepala SDN Pamunga, Mustamin, S.Pd kepada Wartawan Samawarea Biro Sumbawa Timur, Rabu (15/2) mengakui bahwa dirinya baru dua bulan menjabat kepala sekolah. Namun dia kaget melihat kondisi tersebut dan menganggapnya sesuatu yang baru.
Ternyata berdasarkan keterangan warga sekitar bahwa setiap musim hujan, sekolahnya tersebut selalu diterjang banjir. Sejauh ini belum ada solusi untuk menanganinya. Menurut Mustamin, kejadian ini bukan sekedar bencana melainkan gangguan bagi anak-anak dan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Ia mengusulkan agar dilakukan normalisasi dan pembangunan tanggul pemgaman di belakang sekolah. “Kami berharap DPRD, pemerintah daerah dan dinas terkait dapat memperhatikan nasib SDN Pamunga ini,” pintanya.
Sementara Ketua Komite SDN Pamunga, Arifin Ishak, mengaku prihatin dengan kondisi SDN Pamunga yang kerap menjadi sasaran banjir setiap musim hujan. Selain sekolah tergenang juga jalan hancur dan berlumpur.
“Anak anak dan guru harus menenteng sepatu melewati jalan pendidikan, karena tergenang dan berlumpur. Atas nama masyarakat dan orang tua murid SDN Pamunga kami minta wakil rakyat memperhatikan kondisi ini,” harapnya.
Ketua Komunitas Pecinta Alam Plampang (PETANG) Burhanuddin menilai Pemerintah Desa Usar tidak tanggap dengan kejadian bencana di wilayah desanya. Seharusnya Kades membaca situasi cuaca, mengecek wilsyah desa, mengingat Desa Usar adalah titik rawan banjir.
“Pihak Desa harus cepat dan tanggap mendata dan melaporkan dalam waktu 2X24 jam ke BPBD, ini buktinya Pemdes yang tidak tanggap, sehingga menjadi penyakit bertahun-tahun dialami ratusan anak didik di SDN Pamunga hingga saat ini,” sesalnya.
Bur juga menyinggung adanya sampah yang dibuang sembarangan di Kokar (sungai kecil). Dengan tidak sadarnya masyarakat terhadap lingkungan ini berdampak terjadi penumpukan sampah yang menyumbat gorong-gorong jembatan menyebabkan air meluap menggenangi pemukiman penduduk yang berada di hilir, termasuk SDN Pamunga. (BUR/SR)






