MATARAM, SR (21/12/2018)
Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa untuk perluas program rintisan INOVASI terus ditingkatkan. “Kami menyiapkan anggaran yang tidak banyak namun juga tidak sedikit, mulai 2019 kita akan replikasi dan memperluas bukan hanya di kelas awal tapi juga kelas lanjutan pada tiap-tiap gugus,” kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa Ir H Iskandar, M.Ec., Dev saat menjadi pembicara Talkshow Pendidikan Temu INOVASI NTB di Ballroom Rinjani Lombok Raya, belum lama ini. Menurutnya, inovasi pebelajaran itu harus lahir dari keterbatasan, kalau diistilahkan the power of kepepet. “Saya pernah jadi guru fisika dan matematika selama 20 tahun, dalam situasi tidak ada buku, kalau tidak ada kreasi dan proses yang saya lakukan maka mustahil bisa bertahan sampai sekarang,” imbuhnya.
Karena itu Haji Ande—sapaan akrabnya, menyebutkan, keberlanjutan program INOVASI itu bukan hanya memerlukan anggaran besar namun juga kreasi dari guru, kepala sekolah dan pengawas. Inovasi pembelajaran dalam konteks kearifan lokal mustahil bisa dipikirkan apabila dalam keadaan serba berkecukupan. Sebagai program untuk meningkatkan mutu pendidikan anak di NTB, INOVASI kerjasama Pemerintah Australia dan Indonesia sudah dimulai dari tahun 2016 dan akan berakhir pada Desember 2019. Apakah diperpanjang atau tidak INOVASI di NTB ini tambahnya, Kabupaten Sumbawa akan tetap melaksanakan program tersebut terutama dalam bidang literasi numerasi seperti guru BAIK. “Banyak contoh orang yang lahir dari keterbatasan malah sukses ciptakan inovasi, sehingga para Fasda (Fasilitator Daerah) dalam melatih guru lainnya semangat belajar harus dari motivasi untuk menjadi lebih baik,” tukasnya.
Lebih jauh dijelaskan Haji Ande, inovasi harus lahirkan uang, bukan malah terbalik uang melahirkan Inovasi. Ia mencontohkan Pariri Si Desa dari Kecamatan Lantung yang berhasil menjuarai Inovasi Pelayanan Publik Nasional (Sinovik) tahun 2018 dan mendapatkan uang Rp 9 Milyar.
Sementara itu, lanjutnya, Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai wadah dan media untuk meningkatkan kemampuan guru selama ini sudah dirintis INOVASI dengan sangat baik, sehingga untuk keberlanjutan KKG itu semata-mata bukan hanya persoalan anggaran. “Intinya KKG tidak butuh anggaran banyak, 3 hal yang harus diperhatikan yakni fokus, konsisten dan berguna,” paparnya.
Selanjutnya, H. Ande mengungkapkan lomba inovasi pembelajaran untuk guru akan dimulai tahun depan. “Inovasi pendidikan lombanya akan kita kembangkan, saat ini dewan riset daerah sedang menyiapkan instrumennya untuk Lomba Inobel karena lomba Liga Inovasi Daerah (Lida) terutama pelayanan publik tidak bisa disamakan dengan pendidikan,” ungkapnya.
Disisi lain, untuk mendukung pendidikan inklusi, Sumbawa juga komit untuk mereplikasi program INOVASI tidak hanya di SD tetapi juga pada Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Sumbawa. “Bisa diperluas program seperti guru BAIK (Belajar, Aspiratif, inklusif dan kontekstual) itu ke SLB juga, tentu untuk terus mendukung perluasan pendidikan inklusi,” tutupnya. (SR)






