SUMBAWA BESAR, SR (25/12/2018)
Kerusakan hutan di wilayah Kecamatan Labangka Kabupaten Sumbawa cukup parah. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan sejumlah pihak. Salah satu upayanya dengan menghijaukan kembali hutan dan lahan setempat. Karena itu Kelompok Tani Hutan Jurang Terjang Desa Labangka 4 yang diinisiasi KPH Ampang Plampang Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB bersama Rumah Zakat, menanam sekitar 500 bibit. Bibit tanaman yang terdiri dari Bibit Kemiri, Klengkeng, Nangka, Duren dan Rambutan ini merupakan hasil shadaqah dari sejumlah dermawan.
Kepala KPH Ampang Plampang yang juga inisiator program ini, Julmansyah, S.Hut., M.A.P yang dihubungi SAMAWAREA, menyebutkan lokasi penanaman bibit ini berada di Hutan Produksi eks Perum Perhutani Labangka. Hutan ini sejak 3 atau 4 tahun terakhir telah rusak parah. Tanaman Jati yang siap tebang dijarah oknum yang tidak bertanggung jawab sejak 2015–2016 lalu. Kini lahan-lahan tersebut ditanami jagung oleh masyarakat. Kerusakan hutan dan lahan yang dipicu oleh penanaman tanaman semusim jagung semakin meluas di Pulau Sumbawa. Sementara upaya rehabilitasi hutan dan lahan tersebut lambat dan banyak tantangannya. Kadang setelah bibit tanamam ditanam, para penggarap ketika penyiapan lahan, rumput dan gulma disemprot dengan pembasmi sehingga bibit yang baru ditanam akan terkena semburan senprotan dan akan mati. Atau lahan ketika musim tanam jagung dimulai dilakukan pembersihan lahan dengan cara pembakaran, maka semua tanaman di lahan tersebut mati terbakar. “Begitulah situasi yang dihadapi oleh KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) di Pulau Sumbawa. Dibutuhkan kesadaran baru di masyarakat akan pentingnya pohon dan hutan,” kata Julmansyah.
Karena itu Balai KPH Ampang Plampang Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB bersama Lembaga Rumah Zakat menginisiasi program Sadaqah Bibit (Sabit) untuk Hutan dan Lahan. Dibutuhkan cara baru untuk rehabilitasi lahan agar bisa sukses. Tanpa kesadaran dan partisipasi masyarakat secara genuine agaknya berat kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan bisa sukses. Apalagi proses penyiapan sosialnya dan skill sosial tenaga lapangan yang sangat terbatas.
Menurutnya ada nilai dan keyakinan Umat Islam yang sangat baik dikombinasikan dengan kegiatan ini. Bahwa buah-buahan yang dihasilkan dari proses sadaqah bibit akan menjadi amal jariyah yang sepanjang pohon tersebut berbuah akan mengalir amalnya. Saatnya nilai-nilai keagamaan menjadi bagian dari kerja-kerja restorasi hutan dan alam ini. “Kita berharap ada kesadaran baru dan partisipasi publik untuk membantu menghijaukan hutan dan lahan. Karena anggaran pemerintah sangat terbatas dan dibatasi juga dengan tahun anggaran,” pintanya.
Hal tersebut disambut baik oleh Koordinator Relawan Rumah Zakat Nusa Tenggara Barat, Repi S. Menurutnya inovasi ini layak didukung dan Rumah Zakat sebagai lembaga yang konsen pada pemberdayaan masyarakat siap membersamai gerakan itu. Kegiatan shadaqah bibit ini diistilahkan dengan Shadaqah Pemberdayaan. Semangatnya ada dua, pertama menjadikan bersedekah sebagai gaya hidup, dan kedua, memberdayakan masyarakat sehingga mendapatkan nilai tambah dari sisi sosial ekonominya. Kedepan Rumah Zakat akan menyiapkan aplikasi android untuk menampung sadaqah atau donasi guna mendukung keberlanjutan program sedekah pemberdayaan atau sedekah bibit ini. “Dengan aplikasi itu nantinya, setiap kita dapat berkontribusi dengan sangat mudah,” ujar Repi panggilan akrab relawan ini.
Pada kesempatan yang sama Ustadz Syukri Rahmat, S.Ag selaku Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Sumbawa memberikan Tausyiah Alam. Ustad Syukri menyampaikan tentang peran dan pentingnya hutan. “Mencermati kondisi hutan kita di Sumbawa saat ini sungguh memprihatinkan. Sementara hutan memiliki peran penting. Ya melihat fungsi hutan yang demikian luar biasa, katakanlah sebagai penyedia oksigen, penahan erosi, penahan banjir, penahan/penyanggah air, penyerap racun.
Bisa dibayangkan jika hutan rusak, maka berbagai bencana akan menimpa manusia. Ketika kita kehilangan hutan, maka sudah pasti kita kehilangan sumber air. Sementara di dalam al Quran pada beberapa surat dan ayat ditegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan. Jangan lupa juga bahwa seluruh makhluk hidup yang ada,diciptakan oleh Allah SWT dari air. Sementara hutan berfungsi menyediakan air,” ujar Ustadz Cuk—sapaan akrabnya.
Dalam perspektif lain, sambungnya, seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah SWT berdzikir kpd Allah SWT. Sehingga setiap manusia menebang pohon dan melakukan kerusakan, sesungguhnya telah melakukan perbuatan dosa. Selain menghilangkan hak-hak kayu itu untuk bertasbih, juga mengundang bencana seperti banjir dan kekeringan. Untuk itu hadirnya MUI dan Rumah Zakat serta masyarakat Labangka atas ajakan KPH Ampang Plampang, merupakan wujud dari kepedulian terhadap kondisi hutan. “Kami mengajak dengan sungguh-sungguh, mari kita jaga hutan kita, kita pelihara pohon-pohon yang ada ini. Serta kita bermohon kepada Allah SWT agar bibit pohon yang akan ditanam ini akan tumbuh dengan baik, dan kelak masyarakat akan memanen hasilnya dengan baik pula,” ujarnya. (SR)








