MATARAM, SR (19/12/2018)
Awal kepemimpinan Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat, terbukti membawa gebrakan dan perubahan. Gaya kepemimpinan pendiri Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) tersebut memang bagi sebagian kalangan dianggap tidak biasa, namun di mata Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Muhammad Saleh Ending, style pria yang akrap disapa Bang Zul tersebut memiliki nilai sosial tersendiri.
Doktor Alek—demikian dia disapa, menilai lompatan sang Gubernur NTB tersebut patut diapresiasi lantaran mencoba untuk membangun NTB melalui sumber daya manusia (SDM). Dia membandingkan dengan Negara Singapura yang membangun sumber dayanya lebih dulu daripada bangunan fisik. Sebab, sumber daya manusia dianggap sebagai investasi jangka panjang. “Tidak bisa hari ini kita bisa melihat hasilnya. Ini pengamatan saya sebagai seorang antropolog, bahwa pembangunan SDM adalah sebuah investasi panjang dan harus dimulai. Termasuk untuk NTB. Jadi apa yang digagas oleh Zul itu tidak salah. Apa yang dilakukan ini juga tidak berorientasi menggunakan APBD mengirim para pelajar ke Negara Eropa dan sebagainya. Yang digunakannya adalah kemampuan melobi dan relasi,” ungkap Doktor Alek.
Menurut Saleh Ending, kemampuan lobi dan relasi tersebut sulit didapati dan tidak semua orang mampu. Bahkan orang pintar sekalipun tapi tidak memiliki relasi tidak akan bisa melaksanakannya. Hal inilah memang membutuhkan kearifan berpikir secara jernih untuk memahaminya. Doktor Alek juga menyentil tidak digelarnya upacara peringatan HUT NTB oleh Gubernur NTB. Dia menilai bahwa peringatan HUT NTB tidak memiliki implikasi luas bagi masyarakat dan cenderung hanya elitis. Paling yang diundang adalah pejabat-pejabat dan menjadi rutinitas selama tujuh puluh tahun. Jika upacara selesai maka selesai juga kegiatannya. “Saya mengatakan peringatan HUT ini harus melibatkan orang banyak. Bayangkan orang banyak berdatangan ke Pendopo. Mereka makan dan sebagainya. Ada ruang perjumpaan antara seluruh elemen masyarakat. Si miskin datang, orang kaya datang dan bertemu di situ. Semua di situ dengan tidak lagi memperhatikan strata sosial. Itulah yang disebut nilai kultur kita sesungguhnya sebagai orang Indonesia dengan membangun NTB melalui integrasi sosial,” paparnya.
Memang tidak banyak orang memahami maknanya karena terbiasa dengan kebiasaan lama. Seperti peringatan HUT tapi tidak memiliki implikasi apapun. Misalnya peringatan HUT dibuat dengan rangkaian kegiatan Gubernur masuk ke sungai menggunakan perahu karet yang mengandung pesan moral dan nilai positif ingin mengubah perilaku atau imej. Ada ajakan dari Gubernur kepada warganya agar merasa peduli dan mau ikut berperan merubah fisik dan tampilan sungai tersebut. “Contohnya, dulu Kali Jodoh adalah kali yang jelek di Jakarta tapi sekarang menjadi indah karena ada suntikan yang diberikan oleh pemimpinnya. Pemimpinnya mengajarkan masyarakatnya,” ujar Saleh Ending.
Mengenai gaya kepemimpinan Bang Zul lanjutnya, memang ada pada setiap orang. Gaya kepemimpinan selama ini dari Gubernur pertama hingga sebelum Dr Zul seolah dipuja. Kalau Gubernur Zul (saat ini) lebih sederhana, apa adanya dan suka pakai sandal. Itu kan hal yang biasa. Doktor Alek menceritakan pengalamannya selama di Amsterdam—Belanda. Gubernur setempat datang menggunakan sepeda tanpa protokoler, berbaur dengan masyarakat tanpa ada sekat. “Dia datang kemudian menonton film bersama kami para pelajar Indonesia. Kemudian dia bercengkrama dengan kami. Setelah itu dia pulang pakai sepeda juga. Suatu hal yang biasa saja. Kalau saya melihat Gubernur kita ini ingin mengajak bahwa tidak ada lagi kelas sosial,” tambah Saleh Ending.
Adanya polariasi pendapat dan pemikiran merupakan hal yang biasa di dalam masyarakat. Masyarakat memang tidak terbiasa dengan hal yang baru. Yang ada di dalam memory berpikir masyarakat selama ini adalah sesuatu yang memang sudah tercipta sedemikian rupa dan rutinitas. “Saya melihat Gubernur ini ingin membuat sebuah lompatan perubahan berpikir kita. Termasuk perubahan mindset kita. Kan tidak ada salahnya. Misalnya ketika kita bicara tentang HUT NTB yang upacaranya tidak dilaksanakan, sekarang pertanyaannya adalah apakah ada dampak bagi masyarakat? HUT dilakukan, apakah ada dampaknya? Tapi kita tidak mampu merefleksikan ini lho NTB yang sudah berumur tujuh puluh tahun,” tutupnya. (SR)






