Mengelola Hulu, Merawat Hilir: Strategi Mitigasi Banjir Berbasis Konservasi Lahan di Sumbawa

oleh -308 Dilihat

Oleh: Dr. Didin Najimuddin, S.T., M.T. – Dosen Fakultas Teknik UNSA

Musim hujan selalu disambut dengan dua sisi mata uang yang kontras. Bagi sektor pertanian, curah hujan adalah anugerah yang menjamin ketersediaan air irigasi, yang vital untuk keberhasilan panen. Namun, di sisi lain, peningkatan intensitas hujan, terutama yang ekstrim, membawa ancaman serius berupa bencana hidrometeorologi, yang paling dominan adalah banjir.

Data hidrologi menunjukkan adanya korelasi langsung antara tingginya curah hujan dan potensi bencana. Apabila debit air melebihi kapasitas saluran drainase dan sungai (kondisi banjir rancangan terlampaui), limpasan permukaan (run-off) yang masif akan memicu banjir di daerah hilir, menimbulkan kerugian sosial, ekonomi, dan infrastruktur yang tak ternilai.

Akar Masalah

Cepatnya Limpasan Permukaan (Run-off) dari Hulu

Banjir seringkali hanya dipandang sebagai masalah di daerah perkotaan atau hilir. Padahal, solusi yang paling efektif harus dimulai dari daerah hulu (catchment area). Isu krusial di hulu adalah kecepatan dan volume run-off yang tidak terkendali.

Saat hujan lebat, air harusnya memiliki waktu yang cukup untuk meresap ke dalam tanah (proses infiltrasi). Namun, akibat degradasi lahan, alih fungsi hutan menjadi permukiman atau perkebunan monokultur, serta minimnya struktur penahan air alami, kemampuan lahan untuk menyerap air berkurang drastis. Akibatnya, air bergerak cepat di permukaan, membentuk aliran yang besar, yang dalam ilmu hidrologi disebut dengan quickflow atau limpasan permukaan cepat. Inilah yang menjadi kontributor utama lonjakan debit sungai dan akhirnya memicu banjir di hilir.

Solusi Saintifik

Mengurangi Koefisien Limpasan dengan Konservasi Vegetasi

Langkah mitigasi banjir yang paling mendasar dan berkelanjutan adalah dengan merekayasa ulang tata kelola lahan di hulu untuk memaksimalkan infiltrasi dan memperlambat laju run-off.

Secara keilmuan, langkah ini bertujuan untuk mengurangi koefisien limpasan (C), yaitu rasio antara volume run-off dengan volume curah hujan. Semakin kecil nilai C, semakin besar air yang meresap dan semakin kecil risiko banjir.
Salah satu infrastruktur hijau yang terbukti sangat efektif dan efisien biaya adalah tutupan vegetasi (tanaman). Tutupan tanaman bekerja melalui beberapa mekanisme hidrologi:

– Penyangga Aliran (Interception): Tajuk pohon dan vegetasi menyerap dan menahan sebagian air hujan, mengurangi energi kinetik tetesan air, dan memberikan waktu bagi air untuk berinteraksi dengan permukaan tanah secara perlahan.

– Peningkatan Infiltrasi: Akar tanaman menciptakan pori-pori dan jalur air alami di dalam tanah, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, sehingga lebih banyak air hujan yang tersimpan sebagai air tanah (groundwater recharge).

– Memperlambat Laju Aliran: Vegetasi berfungsi sebagai retarding factor (faktor perlambat) alami. Daun, ranting, dan serasah di permukaan tanah (lapisan mulsa) secara fisik menghambat pergerakan air, memperpanjang waktu konsentrasi aliran, dan meratakan puncak debit.

Rekomendasi Aksi Nyata

Untuk mewujudkan strategi mitigasi banjir yang efektif, Dr. Didin merekomendasikan tiga langkah aksi yang terintegrasi, yang harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan partisipasi publik:

– Rehabilitasi Lahan Kritis di Hulu: Melakukan program reboisasi dengan tanaman keras yang memiliki sistem perakaran dalam dan tutupan tajuk yang rapat, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu dan kawasan dengan kemiringan lahan curam.

– Penerapan Teknik Konservasi Tanah dan Air (KTA): Menerapkan teknik sipil sederhana seperti pembuatan terasering, rorak (parit buntu), dan dam penahan (check dam) di lahan pertanian miring. Struktur ini dirancang untuk menahan sementara air hujan, memfasilitasi infiltrasi, dan mencegah erosi.

– Integrasi Tata Ruang Berbasis Hidrologi: Kebijakan tata ruang harus ketat melarang pembangunan di sempadan sungai dan kawasan resapan air yang secara hidrologi sensitif.

Perlu dilakukan perhitungan ulang kapasitas run-off berdasarkan perubahan tata guna lahan terkini.
Dengan memprioritaskan konservasi di hulu, kita tidak hanya mencegah banjir di hilir, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber daya air di musim kemarau. Mengelola hulu adalah investasi terbaik untuk merawat keselamatan dan keberlanjutan wilayah hilir. (*)

nusantara pilkada NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *