Tindaklanjuti Laporan Nyonya Lusi, Satgas Mafia Tanah Kejati NTB Turun ke KSB

oleh
Salah satu lokasi lahan milik Nyonya Lusi yang berlokasi di Desa Sekongkang Bawah, yang didatangi Satgas Mafia tanah untuk melakukan pendataan.

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (8 Desember 2022)–Setelah upaya hukum yang dilakukan Nyonya Lusi untuk mengungkap dugaan mafia tanah di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terutama wilayah Kecamatan Maluk dan Sekongkang, tak dilanjutkan polisi setempat, kini muncul secercah harapan.

Surat pengaduan Nyonya Lusi ke Presiden RI, Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi NTB, akhirnya direspon. Hal ini ditandai dengan turunnya Tim Satgas Buru Mafia Tanah Kejaksaan Tinggi NTB, ke Kabupaten Sumbawa untuk menyelidiki persoalan tersebut, mulai Rabu (7/12/2022) kemarin hingga beberapa hari ke depan.

Hanura

Obyek yang dijadikan bahan penyelidikan ada 4 di wilayah Kecamatan Maluk, dan tiga lokasi di Kecamatan Sekongkang. Semuanya milik Slamet Riyadi Kuantanaya (Almarhum) yang dikuasakan kepada ahli warisnya, Nyonya Lusi. Semua obyek tersebut telah dikuasai orang, bahkan di atasnya telah terbit beberapa sertifikat, yang dalam penerbitannya diduga menggunakan dokumen palsu.

Dari informasi yang diperoleh samawarea.com, Satgas ini mendatangi Pemda Sumbawa meminta keterangan pejabat setempat. Selain itu meminta keterangan pelapor (Ny. Lusi), para pemilik tanah asal, warga yang menempati lahan, kepala desa dan beberapa saksi lainnya.

Tak hanya itu, Satgas juga melakukan pengecekan lokasi tanah yang menjadi obyek penyelidikan. Satgas sudah mengantongi beberapa dokumen penting, yang menjadi bahan penyelidikan lebih lanjut.

Baca Juga  Anggaran Rendah, Kinerja Kejaksaan Sumbawa Meningkat

Upaya tim yang dikomandani Agung Raka SH ini dilakukan secara marathon selama beberapa hari. Namun sebelumnya Satgas ini juga telah turun melakukan hal yang sama, termasuk meminta keterangan Kepala BPN KSB dan jajarannya.

Kajati NTB melalui Kasi Penerangan Hukum (Penkum), Efrien Saputra SH, Kamis (8/12/2022), membenarkan hal itu. Dikatakannya, Satgas mafia tanah gerak cepat merespon laporan warga dan langsung turun ke lapangan dengan sasaran pertama yakni Pulau Sumbawa tepatnya ke Kabupaten Sumbawa Barat.

Tim yang dibentuk sejak 2021 lalu dan merupakan gabungan dari Bidang Pidum, Pidsus, Intelijen dan Datun ini melakukan investigasi, pengumpulan data dan mengecek informasi dari masyarakat.

“Memberantas mafia tanah merupakan atensi dari Kejaksaan Agung secara langsung kepada Kejati di seluruh Indonesia, salah satunya Kejati NTB,” ungkapnya.

Ia mengakui, sejak dibentuknya Satgas Buru Mafia Tanah ini banyak laporan dari warga di hampir semua wilayah NTB. Satgas sudah mulai bergerak pada minggu ini. Efrien—sapaan akrabnya, berharap masyarakat bersabar.

“Berikan kami waktu, karena kami memiliki personel terbatas dengan jangkauan wilayah yang luas dan banyaknya laporan yang masuk,” pintanya.

Secara terpisah, Nyonya Lusi menyambut gembira kehadiran Satgas Mafia Tanah Kejati NTB. Ia mengaku nyaris putus asa setelah sejumlah laporannya terkait dugaan mafia tanah yang dilaporkan ke polisi baik tingkat Polsek maupun Polres di KSB, tak satupun yang berlanjut dan tidak ada perkembangan penanganan yang signifikan.

Baca Juga  Dua Tersangka KUA Labangka Segera Dibawa ke Pengadilan Tipikor

“Semoga melalui langkah yang dilakukan kejaksaan melalui Satgas Buru Mafia Tanahnya, para mafia terungkap dan tertangkap,” tegasnya.

Disebutkan Nyonya Lusi, hampir semua lahan miliknya dikuasai orang lain. Seperti di Maluk, ada empat obyek yang bermasalah. Obyek ini sebelumnya dibeli dari Mesran seluas 18.240 M2, Kiran 20.100 M2,

Sapruddin 10.750 M2, dan Imran 19.695 M2. Semua obyek ini di atasnya telah terbit beberapa sertifikat. Demikian di wilayah Sekongkang. Ada tiga obyek tanah milik Nyonya Lusi yang sebagian dan seluruhnya dikuasai orang lain, termasuk telah terbit beberapa sertifikat di atasnya.

Adalah tanah seluas 8,6 hektar berlokasi di Blok Tulu atau samping Hotel Yoyo, lahan seluas 4,5 hektar dikuasai oleh seorang pengusaha, serta lahan seluas 8,6 hektar di dekat Townsite dan Bandara Sekongkang.

“Sudah berjalan setahun lebih saya berjuang untuk mengungkap aksi para mafia tanah ini. Semoga ikhtiar ini tak sia-sia,” ujarnya lirih. (SR)

Dikes PTSJR Nasdem Azzam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *