Besok, DPRD Sumbawa Nyatakan Sikap Soal Dodo-Rinti

oleh
Syamsul Fikri AR, S.Ag., M.Si, Wakil Ketua DPRD Sumbawa

SAMAWAREA PARLEMENTARIA, KERJASAMA DENGAN DPRD KABUPATEN SUMBAWA

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (13 November 2022)–Kabupaten Sumbawa terkenal dengan kekayaan sumberdaya alamnya, terutama bahan tambangnya. Salah satu yang terbesar adalah wilayah Dodo-Rinti yang memiliki kandungan tambang emas dan tembaga dengan deposit 18 kali lipat dari Batu Hijau.

Dodo-Rinti sejak 1986 lalu sudah menjadi wilayah konsesi PT. NNT kemudian diakusisi oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Hingga kini wilayah tersebut masih dalam tahap eksplorasi, belum ada tanda-tanda akan dieksploitasi.

Sepanjang itu pula belum ada konstribusi signifikan dari keberadaan Dodo-Rinti terhadap keuangan daerah (APBD) maupun kesejahteraan masyarakat Sumbawa secara umum.

Masyarakat dan pemerintah daerah mulai tersadar, setelah adanya pernyataan dan klaim sepihak Bupati KSB terhadap keberadaan smelter yang dibangun di KSB oleh PT AMNT melalui anak perusahaannya, PT AMIN, maupun kuota dan proses perekrutan tenaga kerja yang tifak melibatkan Pemda Sumbawa. Pernyataan ini menyulut reaksi dari masyarakat Sumbawa terlebih lagi kalangan DPRD.

Baca Juga  Nursalam: Atasi Pandemi, Wujudkan Sumbawa Daerah Bebas Sampah

“Senin (14/11) besok kami akan bersikap,” tegas Wakil Ketua DPRD Sumbawa, Syamsul Fikri AR, S.Ag., M.Si yang menghubungi samawarea.com, Minggu (13/11).

Pihaknya ungkap Fikri—sapaan politisi Demokrat ini, sudah sepakat untuk menggelar rapat kekeluargaan dalam menyikapi keberadaan Dodo-Rinti. Rapat ini akan memutuskan salah satunya menggelar hearing dengan Kementerian Pertambangan dan SDA, serta Komisi VII DPR RI di Jakarta.

Selain itu, pada rapat kekeluargaan, DPRD harus memastikan Dodo Rinti merupakan proyek baru, bukan kelanjutan dari Proyek Batu Hijau, sehingga semua infrastruktur terkait dapat terbangun di Sumbawa. Termasuk, pembangunan smelter atau pabrik pengolahan sejenisnya harus dibangun di Sumbawa. “Kami tidak ingin perut bumi kami dikeruk lalu dibawa tempat lain. Ibarat kami dapat buntung, yang lain dapat untung,” tukasnya.

Baca Juga  Tutup Akses Wartawan, Ketua SMSI dan PWI Kecam Sikap KPU Sumbawa

Pihaknya lanjut Fikri, perlu juga mengetahui progress penambangan di Dodo Rinti oleh AMNT. Sudah sangat lama masa eksplorasi ini berlangsung. Padahal saat dipegang PT NNT, progress penambangan di Dodo Rinti selalu dipublish. Bahkan PT NNT saat itu mengungkap kandungan tambang dari Dodo Rinti.

“Lamanya masa eksplorasi ini, membuat sumberdaya alam kami ‘tersandera’ sehingga tidak memberikan konstribusi bagi masyarakat dan daerah ini,” sesalnya.

Ketika semua ini tidak mendapat penjelasan yang komprehensif dari pihak perusahaan, Fikri mendesak DPRD secara kelembagaan untuk mengeluarkan keputusan agar kegiatan di Dodo-Rinti dihentikan, dan bisa berlanjut dengan desakan ke pemerintah pusat untuk mencabut izin perusahaan di Dodo Rinti. (SR)

Bappenda Azzam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *