Tepis Stigma Kuno, Museum Daerah Sumbawa Dijadikan Pusat Edukasi dan Entertaint

oleh

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (25 Juli 2022)–Museum Daerah Sumbawa akan dijadikan sebagai sarana edukasi dan entertainment (edutainment). Salah satu upaya untuk mewujudkannya, UPT Museum Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa menggelar Sosialisasi Pemanfaatan Museum dan Kajian Koleksi Museum, Senin (25/7).

Kegiatan tersebut diikuti puluhan kepala sekolah di Kabupaten Sumbawa dan menghadirkan narasumber dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), praktisi kebudayaan, serta budayawan asal Kabupaten Sumbawa.

Dipandu Yuli Andari Merdikaningtyas selaku moderator yang juga Ketua Yayasan Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu, sosialisasi berlangsung dinamis. Para peserta antusias untuk menyampaikan berbagai pertanyaan maupun harapan.

Kepala Dinas Dikbud Sumbawa yang diwakili Kabid Kebudayaan, Sutan Syahril saat membuka kegiatan itu mengatakan sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang museum yang pemanfaatannya dihajatkan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015.

Museum memiliki beberapa tugas di antaranya bidang pengkajian, pendidikan dan entertaint. Dengan tugas ini dapat menepis stigma yang menganggap museum itu kuno.

Disebutkan, ada dua materi yang disampaikan narasumber dalam sosialisasi yaitu pemanfaatan museum dan kajian. Dipilihnya kepala sekolah sebagai peserta, kata Sutan Syahril, karena dalam kurikulum merdeka belajar terdapat enam dimensi, yang salah satunya ada kebhinekaan global, yang masuk dalam elemen mengenal dan menghargai budaya. Sedangkan sub elemennya mendalami budaya dan identitas budaya.

“Sengaja kami undang Kepala Sekolah, setelah berakhirnya kegiatan ini ada referensi pada saat sekolah membuat project P5. Nanti bisa ambil tema kearifan lokal,” imbuhnya.

Sementara Yeni Asmawati dari dari Kemenristekdikti menjelaskan museum bisa dijadikan sarana edukasi dan entertaint. Karena itu keberadaan museum bukan hanya untuk tempat belajar bagi anak sekolah, guru dan kepala sekolah, tapi juga bagi masyarakat umum.

Baca Juga  Wabah Corona, Gubernur Minta Bupati/Walikota Jangan Abai Dampak Sosial Ekonomi

Karena itu pengenalan anak didik terhadap museum sangat penting. Karena di museum bisa menjadi sumber pendidikan terkait kebudayaan. “Harus kita kenalkan anak didik dengan museum. Harus ada guru juga yang mengajarkan muatan lokal di sekolah,” sarannya.

Yeni juga menyarankan di Museum Daerah Sumbawa lebih meningkatkan pelayanan public guna menambah angka kunjungan. Dalam meningkatkan kunjungan ke museum, dapat dilakukan dengan menambah koleksi benda, kerjasama dengan sanggar tari, komunitas teater, dan lainnya.

Hal senada dikatakan Praktisi Kebudayaan, Serius Zibua. Menurutnya, museum bukan hanya tempat konservasi benda-benda sejarah yang memiliki nilai kebudayaan yang tinggi. Tapi juga berfungsi sebagai  pusat pendidikan, sarana pengenalan budaya bangsa, pusat penelitian serta pusat rekreasi dan pariwisata.

Sebagai pusat rekreasi museum menyajikan dua manfaat sekaligus yakni rekreasi dan edukasi. Keberadaan museum akan memberikan ruang bagi pelaku budaya untuk berkreatifitas di bidang seni dan budaya. Selain itu menjadikannya sebagai pusat kebudayaan.

“Datang ke museum bukan hanya sekedar melihat benda sejarah, tapi bisa sebagai pusat edukasi. Museum dikemas secara luar biasa agar orang tertarik untuk datang. Perlu buat pojok literasi. Sediakan buku dongeng yang isi dan kalimatnya gampang dimengerti oleh anak, ada ruang teater, ruang menyalurkan bakat. Ini bisa jadi terobosan di museum. Supaya tercapai museum sebagai tempat yang mengedukasi,” bebernya.

Selama ini museum kerap diidentikkan sebagai tempat menyimpan barang-barang masa lampau. Pada masa kini, diperlukan adanya edukasi dengan membuat program dan menjadikannya sebagai pusat kajian, sehingga museum bisa menjadi tempat pembelajaran dan rekreasi.

Baca Juga  Presiden: Pemilu Ajang Kontestasi Ide dan Program

Sebagai pusat kajian, diperlukan strategi bagaimana daya tarik museum sebagai tempat wisata bagi masyarakat. Bagaimana peran pengelola dalam memperkenalkan museum sebagai pusat kajian budaya dan pendidikan, serta bagaimana program untuk menarik kunjungan wisatawan. Selain itu mengidentifikasi hambatan yang dialami pihak museum dalam menarik wisatawan.

“Tentu dari strategi ini diharapkan masyarakat mendapatkan pemahaman tentang edukasi dan kepuasan batin, serta terlayaninya pemenuhan hak-hak dan keinginan pengunjung secara optimal,” ujarnya.

Di bagian lain Serius Zibua mengatakan, museum juga harus memberikan tempat bagi kaum milenial. Sebab generasi millennial merupakan agen of change. Generasi ini mampu melakukan gerakan sosial dan memiliki kemampuan yang mumpuni dalam memunculkan gerakan perubahan yang secara masif. Dengan kemampuan yang mumpuni ini membuat perubahan sosial di masyarakat yang lebih positif dalam berbagai sektor.

Sementara Budayawan Sumbawa, Aries Zulkarnain S.Pd., M.M.Inov menegaskan, keberadaan museum tidak disalahartikan dengan hal-hal yang tua dan tidak berfungsi. Karena museum saat ini bisa dijadikan sebagai tempat belajar bagi semua kalangan.

“Tidak semua benda tua, benda jelek, benda tidak bermanfaat harus masuk museum. Itu harus kita kaji, lihat dari bentuknya, itu benda apa, sejarahnya apa. Ngapain masuk museum kalau tidak ada sejarah. Juga harus ada unsur budayanya,” tukasnya.

Diungkapkan, ada tiga nilai yang bisa masuk dalam museum. Yaitu nilai sejarah, nilai estetika dan nilai budaya. “Yang kita liat di museum ini semua belum lengkap, belum sempurna. Benda-benda di museum masih ada yang bisa dipakai bahkan bisa dibuat. Perlu ditata ulang museum ini menurut bidangnya masing-masing,” pungkasnya. (SR)

Bappenda Azzam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *