Kisah Tragis Bendungan Bintang Bano, APBD Kolaps dan Proyek Mangkrak

oleh -90 Dilihat

SUMBAWA BARAT—Diresmikannya Bendungan Bintang Bano di Bangkat Monte, Desa Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) oleh Presiden Jokowi, Jumat (14/1/2022) tadi, memantik rasa bahagia dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Hadirnya bendungan yang menghabiskan anggaran negara sebesar Rp 1,44 triliun ini, berkat perjuangan panjang yang cukup dramatis, bahkan tragis.

Mulai dari habisnya dana APBD membuat Kabupaten Sumbawa Barat nyaris kolaps, hingga mangraknya mega proyek yang mulai dikerjakan pada Tahun 2008 tersebut. Kisah tragis ini diungkapkan Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM didampingi Wakil Bupati, Fud Syaifuddin ST di lokasi peresmian Bendungan Bintang Bano, siang tadi.

Duduk semeja dengan Menteri PUPR, Dr. Ir. M. Basuki Hadimuljono, M.Sc serta dua Anggota DPR RI, H. Muhammad Syafruddin ST dan Surya Jaya Purnama, Bupati Musyafirin menceritakan bahwa pembangunan bendungan yang kini menjadi kebanggaan pemerintah dan masyarakat KSB itu sempat mangkrak.

Berawal dari adanya wacana pembangunan bendungan terbesar di KSB yang tercetus pada Tahun 2003 lalu bersamaan dengan terbentuknya Kabupaten Sumbawa Barat. Wacana ini benar-benar diwujudkan pada Tahun 2008, sekaligus awal dimulainya pengerjaan.

Untuk membiayai pembangunannya, Pemerintah KSB memberanikan diri menggunakan dana APBD. Ketika pengerjaan telah berjalan 4 tahun (2008—2012), Pemda KSB kehabisan uang. Bayangkan, uang yang sudah digelontorkan untuk mewujudkan ambisi tersebut mencapai Rp 122 miliar. Angka yang sangat besar bagi daerah baru.  Kondisi ini membuat Pemda nyaris kolaps dan proyek pun mangkrak.

Baca Juga  DPB Bulan Juni Bertambah, 45 Orang Meninggal dan Pindah Domisili

Namun pemerintahan yang dipimpin Kyai H. Zulkifli Muhadli ini tak patah arang. Berbagai upaya dilakukan termasuk dengan cara ‘mengemis’ ke pemerintah propinsi maupun pusat. Tak satupun yang terketuk untuk membantu. “Tak ada yang menghiraukan kami. Apalagi mau membantu menalangi dana untuk kelanjutan pembangunan Bendungan Bintang Bano,” kenang Bupati.

Harapan yang nyaris pudar, bersemi kembali. Ini setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden RI pada periode pertama. Jokowi langsung melakukan take over, mengambil alih pembiayaan pembangunan Bintang Bano dari APBD ke APBN. Konsekwensinya, secara otomatis terjadi pengalihan aset daerah ke aset nasional.

“Kami tidak mau lagi berpikir, mau milik siapapun aset itu dan mau dialihkan kemana, terserah. Asalkan keberadaan dan manfaatnya untuk masyarakat KSB,” tandas Firin—akrab Bupati disapa.

Kebijakan Presiden Jokowi untuk mengambil alih pembangunan Bintang Bano, membuat proyek itu berlanjut dan berhasil diselesaikan pada Tahun 2022 bertepatan dengan periode kedua pemerintahan Jokowi maupun periode kedua pemerintahannya sebagai Bupati KSB.

Melihat tuntasnya pembangunan Bintang Bano, Presiden Jokowi menyatakan sangat puas. Pada saat peresmian, ungkap Firin, Jokowi berpesan agar keindahan yang ada di bendungan tersebut bisa dijaga, termasuk keberadaan alamnya yang masih alami.

Lanjut Firin, perjuangan pun tak berhenti. Pihaknya harus mengupayakan agar dana APBD sebesar Rp 122 miliar yang membiayai awal pembangunan Bintang Bano, harus kembali. Ia bersama Wakil Bupati, Fud Syaifuddin bertolak ke Jakarta menemui Menteri PUPR, Dr. Ir. M. Basuki Hadimuljono, M.Sc. Menteri kesayangan Jokowi inipun meresponnya secara positif.

Baca Juga  Perkuat Satgas Kabupaten, Pemda KSB Bentuk Satgas Desa

Menteri Basuki langsung memberikan kompensasi dengan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Bendungan Tiu Suntuk di Brang Ene. “Kami minta uang diganti, malah kita dikasih bendungan yang nilainya lebih besar daripada uang yang kami minta,” ujar Bupati sambil tersenyum melirik ke arah Menteri PUPR yang duduk di sebelahnya. (SR)

seleksi Amman Mineral Amman Mineral Azzam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.