Memandang Merdeka Belajar sebagai Locus Revolusi Mental 

oleh -44 views

MALANG, samawarea.com (20 November 2021)

Merdeka adalah kata yang jika ditarik pada sebuah tatanan waktu, maka terlihat sebagai bahasa mementual setiap tahunnya. Kata merdeka mungkin akrab dalam tugas-tugas sekolah, atau jargon-jargon pemuda. Namun di balik gamangnya penggunaan kata tersebut, merdeka tetaplah sebuah ghirah yang menuntun dan menuntut.

Kata merdeka perlu ada dan tertulis dalam setiap lembar peristiwa dan upaya. Kata tersebut adalah ujaran yang membentuk setiap individu menjadi mandiri dan bernilai. Dalam konteks karakter dan pengetahuan, maka kemerdekaan di ruang pendidikan adalah kuncinya.

Hal ini menjadi penting mengingat pendidikan adalah cara-cara revolusi bekerja. Revolusi sendiri akan selalu dibutuhkan karena manusia secara alamiah tetap berubah. Lebih tepatnya, ini adalah konsep hijrah Rasul yang pernah dicontohkan HOS Tjokroaminoto.

Pendidikan adalah locus revolusi yang merupakan bagian penting dari peradaban manusia. Dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, gerakan-gerakan inovatif akan bermunculan. Melalui hal tersebut, suatu bangsa akan memiliki ekstensi dimata bangsa yang lain. Itulah yang menjadi alasan mengapa sektor ini begitu diperhatikan.

Setiap individu menghendaki perubahan sosial, terutama yang menjurus pada peningkatan taraf hidup. Semua terkait adanya kenyamanan secara materiil, termasuk penghargaan publik yang disebut martabat.

Dalam mekanisme perubahan sosial, maka mau tidak mau kita harus berbicara tentang cita-cita atau goal yang lebih teknis. Katakanlah sebagai negara, kita ingin kembali menjadi penyuplai beras terbesar dunia. Atau, sebut saja kita hendak menjadi negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di Asia. Secara individu, kita mungkin juga ingin menjadi ahli komputer dan jaringan.

Dalam mencapai rencana-rencana tersebut, yang perlu dilakukan adalah memandangnya sebagai sebuah persoalan yang serius.  Hal ini dilakukan untuk memicu penentuan tindakan kedepan. Ini sejalan dengan metode problem solving yang menuntut identifikasi sebab dan akibat.

Baca Juga  PKK Berperan Strategis Bagi Pembangunan Keluarga

Dalam teknisnya, persoalan yang telah dijabarkan perlu dikenali penyebab lalu risiko potensial yang akan terjadi. Jika sudah, maka bagilah bagian per bagian untuk menentukan solusi dari tiap-tiap bagian tersebut. Dengan ini, maka persoalan akan terasa lebih mudah dan gampang dipecahkan.

Namun demikian, perlu diketahui bahwa dalam merealisasikan cita-cita besar, persoalan paling sulit adalah menyatukan persepsi publik. Maka sebagai langkah paling dasar, lingkungan dan kebijakan mesti memberikan perhatian lebih kepada mindset masyarakat. Inilah dasar pemikiran dari revolusi mental yang menggema selama ini.

Dari sini, kita memahami bahwa persoalan terbesar adalah terkait Sumber Daya Manusia (SDM). Sekali lagi, pendidikan adalah letak perbaikan permasalahan tersebut.

Pemerintah dan sistem telah memecah masalah dengan mengadakan lembaga-lembaga bersama tupoksi-nya masing-masing. Dalam hal pendidikan, Kemendikbud Ristek adalah aktor pengendalinya. Untuk itulah di tengah kompleksitas persoalan termasuk yang menjadi akibat Virus Corona, berbagai solusi coba ditawarkan.

Pemerintah membagikan kuota internet gratis, perubahan kurikulum, serta peningkatan anggaran bantuan operasional. Cara-cara ini adalah upaya menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang sedang terbatas. Langkah demikian juga menjadi bentuk pembaharuan dari metode-metode sebelumnya yang terbilang kolot. Baru-baru ini, Kemdikbud sedang berupaya menertibkan lingkungan pendidikan dari gangguan pelecehan seksual.

Pendekatan-pendekatan ini terus terbarukan sepanjang 10 tahun terakhir, untuk memahami bagaimana pola pendidikan yang dibutuhkan. Pemerintah juga mengusung proses digitalisasi pembelajaran, serta menekankan akuntabilitas terkait penggunaan anggaran. Dinamika siklus ini sekaligus menjadi rujukan perubahan mental masyarakat ke arah yang lebih kuat.

Baca Juga  Jamhur Husain, Calon Terkuat Ketua PWI Sumbawa

Ketersediaan itu adalah wujud fasilitas yang boleh digunakan dan boleh juga ditanggalkan. Karena, ini hanya persoalan hak cara pandang. Tapi sebagai bangsa atau sebagai individu yang memiliki cita-cita atas revolusi,  fasilitas pendidikan tersebut harus dipandang sebagai cara berbangsa dan menjadi manusia yang paripurna.

Di sini, Penulis ingin mengajak untuk melihat sebuah korelasi pikiran antara ide dan aksi. Revolusi adalah sebuah kepastian, namun wujudnya tetaplah buah karya yang ditentukan oleh masyarakat sendiri. Pendidikan adalah locus kebijaksanaannya. Maka untuk merevolusi bangsa menuju kemajuan, revolusi mental adalah cara yang dibutuhkan, dan akan selalu berasas pada pendidikan.

Dalam kondisi ini, masing-masing kita bebas menginterpretasikan apakah pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan, atau pendidikan adalah wujud kemerdekaan. Menurut Penulis, pendidikan adalah revolusi mental yang tetaplah menjadi proses. Itu dapat terjadi karena setelah satu goals tercapai, cita-cita berikutnya akan selalu tersemai di pikiran semua orang.

Penjabaran ini adalah sebuah narasi yang perlu dipahami, mengingat revolusi adalah tindakan massa. Revolusi bukan nilai individualis yang hanya tersimpan dalam buku diary. Revolusi adalah sebuah sikap persatuan. Inilah sekiranya yang menjadi alasan mengapa pendidikan disandingkan dengan istilah karakter.

Karakter sendiri terkait dengan kesehatan mental yang dimiliki setiap individu. Maka ide dan aksi dari revolusi mental sejatinya terletak dalam pandangan ideologis pendidikan karakter. Sementara itu, merdeka belajar adalah hukum yang mengharuskan setiap orang mendapatkan hak terdidiknya.

 Penulis: Galan Rezki Waskita ( Kader HMI Malang)

bankntb BPSK

No More Posts Available.

No more pages to load.