Bulan Bahasa: Refleksi Bagi Anak-anak Nusa Tenggara Barat

oleh -74 views

Fidya Yolanda Polontalo, S.Si.  (Penggiat Literasi dan Pendidikan Anak, Periset Akar Madani Institut)

Bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa dan Sastra. Namun mungkin tak banyak yang tau, mengapa Oktober dipilih untuk memperingati Bulan Bahasa dan Sastra. Pada tahun 1928 bulan Oktober tanggal 28, sepenggal ikrar digaungkan di tanah pertiwi oleh sekelompok pemuda Republik Indonesia. “Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”. Sumpah itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal pengesahan bahasa persatuan Bangsa Indonesia.

Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari pulau-pulau. Terpisahkan oleh lautan dan selat, gunung dan hutan, menyebabkan Bangsa Indonesia mengantongi beragam ras, suku, budaya serta bahasa. Terdapat sejumlah 442 bahasa daerah yang dimiliki oleh Indonesia. Dan dibutuhkan satu bahasa, yakni bahasa Indonesia, sebagai pemersatu dan jembatan dalam berinteraksi sebagai makhluk sosial serta sebagai pintu bagi pemerataan pendidikan dan pengetahuan. Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra setiap bulan Oktober adalah bentuk pengingat untuk senantiasa menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang didapatkan dengan penuh perjuangan oleh para pejuang Negara Republik Indonesia.

Beragam upaya dilakukan oleh pemerintah, lembaga, komunitas dan masyarakat dalam memperingati bulan Bahasa dan Sastra. Melalui program-program di dalam isntansi dan komunitas maupun mengadakan perlomba-perlombaan yang berujung pada kehadiran sensasi cita rasa nikmat dalam berbahasa dan sastra. Puisi, sajak, prosa, dongeng, syair, tak ketinggalan berkembang dalam bentuk cerita pendek, novel, opini ataupun artikel-artikel popular dan ilmiah.

Namun, menilik kembali cita-cita awal dari ditonggakkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, sudahkah seluruh penerus bangsa memiliki kemampuan dalam berbahasa Indonesia yakni membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia.? Mengukur ketercapaian cita-cita ini akan berujung pada keterukuran pemerataan pendidikan bagi penerus bangsa, serta tersebarnya pengetahuan dan wawasan hingga kepelosok Indonesia guna meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

Baca Juga  Ayo !!! Sukseskan JUMBARA PMR di Bumi Perkemahan Desa Pelat

Era Pandemi sejak tahun 2020 menjadi tantangan yang cukup besar bagi tercapainya cita-cita tersebut. Era Pandemi telah memaksa sekolah sebagai penyelenggara pendidikan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi anak didiknya yang dinilai menjadi hambatan besar dalam pemberian dan pembimbingan pendidikan, terutama di daerah-daerah tertinggal dan pelosok. Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Budaya PBB (UNESCO) mengeluarkan rilis proyeksinya bahwa terdapat 101 juta anak akan mengalami kesulitan dalam membaca pasca pandemi di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia dalam kompetensi membaca berada di posisi ke 72 dari 77 negara di tahun 2020. Nusa Tenggara Barat sebagai bagian dari Indonesia yang pada tahun 2020 menempati peringkat ke 33 dari 34 Provinsi di Indonesia dalam kualitas Pendidikan juga menghadapi tantangan yang sama.

Temuan yang dicatat oleh Forum Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan (Fortadikbud, 2021) yang disampaikan dalam diskusi bersama sejumlah narasumber bidang pendidikan dan kalangan pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) perihal dampak satu tahun PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) menunjukkan tingginya jumlah anak didik yang tidak mampu menyerap mata pelajaran dengan baik dikarenakan beratnya proses adaptasi pembelajaran secara daring.

Banyaknya kendala yang ditemukan anak didik dan para orang tua dalam pembelajaran daring menjadi salah satu stimulus penyebab peningkatan Angka Putus Sekolah (APS) di NTB selama masa pandemi. Hal ini tentu akan berdampak pada kemampuan anak-anak di tingkat Sekolah Dasar dalam membaca, yang dapat berujung pada rendahnya pendidikan, pengetahuan dan kualitas kemampuannya di masa mendatang.

Tindakan percepatan upaya pemerbaikan kemampuan baca tulis anak sangat diperlukan demi mengejar ketertinggalan selama hampir dua tahun era pandemi. Pemerintah NTB telah melakukan berbagai upaya secara sistemik melalui struktur-struktur pendidikan maupun mendorong terciptanya kegiatan-kegiatan relawan literasi di NTB. Maret 2021 pada tanggal 4, secara simbolis, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB melepas ratusan mahasiswa yang menjadi Relawan Literasi NTB untuk melakukan pendampingan peningkatan kemampuan membaca anak-anak Sekolah Dasar di Kabupaten-kabupaten di NTB. Bahkan target terbesar dari kegiatan yang diinisiasi oleh Asosiasi Dosen LPTK Provinsi NTB ini, Relawan Literasi dapat menjangkau anak-anak yang putus sekolah dan buta aksara.

Baca Juga  UKM FILA UTS Seminar KTI dan Ganti Pengurus

Gerakan serupa semestinya juga dapat disemarakkan oleh berbagai pihak, tidak hanya lembaga pemerintah. Seperti layaknya sucakita memperingati Bulan Bahasa dengan berbagai lomba dan program semarak berbahasa dan bersastra, inovasi lainnya juga diperlukan guna menyentuh kebutuhan utama penerus bangsa Indonesia dalam berbahasa, yakni kemampuan membaca. Jika gerakan serupa tidak hanya dilakakun dari atas (pemerintah) namun juga dari pihak swasta, komunitas, maupun kesadaran tiap keluarga, tentulah gegap lantang yang disuarakan dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928 akan lebih bermakna dan mencapai cita utama dari dicanangkannya Oktober sebagai Bulan Bahasa.

Referensi

  1. Badan Pusat Statistik NTB. 2020. “Statistik Pendidikan Provinsi NTB 2019”. https://ntb.bps.go.id/publication/2020/05/29/dd0f9a47334a5dcdbc3b0eca/statistik-pendidikan-provinsi-nusa-tenggara-barat-2019.html. 13 Oktober 2021. 13:00 WITA.
  2. Dikbud Provinsi Nusa Tenggara Barat. 2021. “Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB Melepas Ratusan Relawan Literasi”. https://dikbud.ntbprov.go.id/index.php/Beritaaa/Detail/206.13. 13 Oktober 2021. 13:00 WITA.
  3. “Bulan Oktober: Bulannya Bahasa dan Sastra. Mengapa?”. https://www.gramedia.com/blog/sejarah-mengapa-oktober-bulan-baha-dan-sastra-indonesia/amp/. 13 Oktober 2021. 13:00 WITA.
  4. 2021. “Anak Sulit Belajar Membaca Selama Pandemi”. https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/6092258d3a624/anak-sulit-belajar-membaca-selama-pandemi. 13 Oktober 2021. 13:00 WITA.
  5. 2021. “Dampak Negatof Satu Tahun PJJ, Dorongan Pembelajaran Tatap Muka Menguat”. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/04/dampak-negatif-satu-tahun-pjj-dorongan-pembelajaran-tatap-muka-menguat. 13 Oktober 2021. 13:00 WITA.
  6. 2020. “Nilai PISA Siswa Indonesia Rendah,  Nadiem Siapkan 5 Strategi Ini”. https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/05/154418571/nilai-pisa-siswa-indonesia-rendah-nadiem-siapkan-5-stratei-ini. 13 Oktober 2021. 13:00 WITA.
BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.