Diduga Aniaya Sopir, Oknum Pejabat DLHK NTB Dipolisikan

oleh -862 views
Syarifuddin dan truk yang diamankan Polhut

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (12 Oktober 2021)

Syarifuddin (30) terpaksa menempuh upaya hukum dengan mempolisikan oknum Pejabat Dinas Kehutanan Propinsi NTB di Polres Sumbawa, Sabtu (9/10) kemarin. Langkah ini dilakukan karena sopir asal Desa Kwangko, Kecamatan Manggalewa, Kabupaten Dompu, mengaku dianiaya Astan Wirawan SH MH yang menjabat sebagai Kasi Penegakan Hukum Dishut NTB. Akibat penganiayaan itu, pelapor yang akrab disapa Arif ini, mengalami cedera di bagian punggung kiri dan telah divisum et repertum (VER).

Kepada samawarea.com, Selasa (12/10), Arif menuturkan, sebelum terjadi penganiayaan itu, dia mengemudikan truk mengangkut kayu dari Kwangko Dompu menuju Kecamatan Buer, Sumbawa. Memasuki Jalan Sering, truk dicegat anggota Polhut dan langsung dibawa ke Pos Gakkum Kantor KPH Ropang di Jalan Garuda (Simpang Sernu).

Arif mengaku sempat bermalam di Pos tersebut. Malam berikutnya, sekitar pukul 00.30 Wita, petugas berencana memeriksanya. Namun sebelum diperiksa, dia duduk di teras menunggu dipanggil masuk ruangan. “Saya duduk bersama beberapa anggota Polhut. Dan anggota itu sambil bercerita dan bercanda,” kata Arif.

Tanpa diduga Astan keluar sambil marah-marah kepada anggotanya dan memerintah mereka untuk berbaris. Karena merasa tidak enak dan tepat berada di depan Astan, dia bangun dari duduknya bermaksud untuk pindah tempat duduk. Langsung saja dia ditendang dari belakang oleh Astan, membuatnya terjungkal dan jatuh tengkurap.

“Saya yang tertelungkup di tanah langsung diangkat oleh dua anggota Polhut,” aku Arif, seraya merasa sakit di bagian punggung kiri karena akibat tendangan itu membuat memar dan bengkak.

Baca Juga  Keluar Masuk Bui, Pengedar ini Kembali Tertangkap

Ia mengaku tidak mengetahui apa penyebab Astan menendangnya. Sebab tidak ada sikap atau kata-kata yang dilakukan sehingga membuat orang lain tersinggung. Malah sebelum ditendang, Astan mengeluarkan kata-kata cacian kepadanya. “Apa salah saya, tiba-tiba saya ditendang dan dicaci maki,” lirihnya.

Tentu saja tindakan kekerasan yang dilakukan Astan, membuatnya keberatan dan hari itu memasukkan pengaduan ke Polres Sumbawa agar dapat diproses lebih lanjut. “Banyak saksi yang melihat peristiwa itu termasuk dua orang teman saya,” sebutnya.

Bantah Lakukan Penganiayaan

Sementara Astan Wirawan SH MH yang dihubungi terpisah, membantah melakukan penganiayaan terhadap pelapor (Arif). Bahkan ia juga tidak mengetahui siapa yang melakukan penganiayaan tersebut. Ia menuturkan, kehadirannya di Sumbawa sebagai Kasi Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provoinsi NTB untuk melakukan monitoring selama dua hari, Sabtu dan Minggu (9—10 Oktober) terkait dengan diamankannya satu unit truk di wilayah KPH Ropang.

Bagian dari monitoring, Ia ke Pos Gakkum KPH Ropang, Minggu (10/10) dinihari sekitar pukul 01.00 Wita, mengecek kegiatan petugas piket yang melakukan penjagaan. Ia masuk ke dalam ruangan dan melihat bola lampu mati, sehingga berinisiatif memperbaiki instalasi listrik, sekaligus memasang VC.

Saat itu Astan mendengar suara ribut-ribut di luar dan sempat beberapa kali diingatkannya karena sudah larut malam. Rupanya tegurannya tidak diindahkan karena masih saja terdengar suara ribut. Ia pun keluar seraya memanggil anggota piket untuk pengarahan (APP) guna meningkatkan kewaspadaan penjagaan. Tiba-tiba seseorang lari ke depan, mengaku kalau dia ditendang. Dan Astan mengaku baru memastikan bahwa ia yang dituduh menendang, setelah ada surat pengaduan dari pelapor (Arif).

Baca Juga  Diserang Kanker Kulit, Marbot Masjid Dievakuasi Polisi ke Rumah Sakit

“Saya tidak pernah melakukan seperti yang diadukan. Malam itu banyak petugas piket dan saya tidak tahu kalau di antara mereka ada sopir truk, yang mengaku ditendang. Mungkin saja dia kena kayu atau tersenggol rekan-rekan anggota. Ini yang belum jelas,” kata Astan.

Selain tidak melakukan penganiayaan, Astan juga membantah mencaci maki pelapor (Arif). “Saya standar aja memanggil dan menegur anggota yang ribut. Tidak ada cacian dan lainnya,” imbuhnya.

Mengenai adanya upaya pelapor menempuh upaya hukum, Astan menegaskan itu hak masyarakat. Pihaknya nanti akan memberikan klarifikasi seperti yang dikatakannya saat ini.

“Sebagai abdi negara dalam melaksanakan tugas pasti ada resiko. Yang jelas apapun itu kami menghormati proses hukum. Kami juga akan membuktikan benar dan tidaknya pengaduan pelapor. Jika tidak bisa membuktikannya maka kami akan lapor balik dengan delik pencemaran nama baik,” pungkasnya.

Kapolres Sumbawa, AKBP Esty Setyo Nugroho, SIK yang dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim, IPTU Ivan Roland Cristofel STK, membenarkan adanya pengaduan tersebut. Pihaknya telah meminta keterangan pelapor dan saksi-saksi. Untuk selanjutnya, pihaknya akan meminta klarifikasi dari oknum kehutanan selaku terlapor. (SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.