UTS dan BPPD NTB Sepakat Ciptakan Iklim Campuspreneurship

oleh -13 views

MATARAM, samawarea.com (24 September 2021)

Entrepreneurship kini menjamur dengan banyak pemain utamanya adalah kalangan muda. Dalam penerapannya, wujud nyata dari entrepreneur ini lebih dikenal dengan istilah start-up yang kini menjadi salah satu output dari pembelajaran di kampus-kampus. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) sebagai kampus berbasis teknologi tentu memiliki peluang besar dalam menciptakan startup berbasis teknologi dari para civitas akademiknya.

Dalam kunjungan Wakil Rektor III Bidang Riset dan Inovasi ke Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi NTB, salah satu pokok bahasannya adalah campuspreneurship ini dengan memanfaatkan potensi wisata dari desa-desa di Sumbawa untuk dipromosikan dalam bingkai digital startup.

Tentu tujuannya adalah agar sustainability dari program UTS di desa dapat terus dilakukan dan dikenalkan ke seantero negeri. Kunjungan ke BPPD NTB belum lama ini disambut baik oleh Tim BPPD, Ari Garmono selaku Kepala BPPD didampingi Askar Daeng Kamis, Lia Rosida, dan Leja Kodi.

Dalam diskusi singkat ini, Tim UTS mendapatkan banyak sekali informasi terkait perkembangan Start-Up Digital di NTB terutama terkait promosi wisata. “Fokus kami saat ini adalah bagaimana pengembangan bisnis model dalam bentuk digital dan rencana kami adalah untuk membuat gerakan 1000 digital start-up di NTB, mengingat NTB sangat kurang dalam bidang ini,” ujar Askar.

Pemaparan tersebut disambut antusias Warek III UTS, mengingat di bawah kepemimpinannya ada satu Sub-Direktorat Inkubasi Teknologi yang sedang digarap di UTS. “Kami di Bidang Riset dan Inovasi ingin berfokus pada pembentukan entrepreneur di wilayah UTS,” ujar Umam.

Baca Juga  Serapan Gabah Bulog Sumbawa Belum Capai Target

Askar menyetujui keinginan UTS. Menurutnya digitalisasi sangat penting terutama di masa pandemi seperti ini. Baginya untuk mengembangkan suatu sistem tidak harus menjadi orang yang ahli di bidang IT, tapi harus orang-orang yang memang memiliki kemauan untuk belajar. Konsep digitalisasi di bidang ekonomi dan pariwisata yang tengah dikembangkannya telah membantu mendongkrak promosi pariwisata NTB. “Di era digital saat ini, saat semua informasi sangat mudah diperoleh, persaingan secara materi pun sangat tinggi. Sehingga Kita harus bisa melihat dan memanfaatkan peluang,” imbuhnya.

Penurunan pendapatan dari segala aspek baik aspek jual beli, pelayanan maupun pariwisata tidak lepas dari dampak Covid-19. “Di Masa seperti ini, Kita semua diminta untuk berpikir kritis bagaimana cara agar kita bisa survive,” timpal Leja.

Dalam diskusi interaktif tersebut, pihak BPPD banyak memberikan gambaran terkait pentingnya peran developer dalam mendongkrak perekonomian di sistem yang serba online seperti saat ini. Juga bagaimana pengembangan pariwisata kedepannya dari sudut pandang entrepreneur.

“Jangan mengukur desa wisata dari sudut pandang kita, tapi dari pasar. Oleh sebab itu perlu riset dan pasar kita itu ada di luar potensinya besar, seperti USA, negara-negara Eropa dan lainnya. Semua desa bisa dikembangkan karena kita membangun ekonomi berbasis kebudayaan. Harus ada inisiasi untuk itu, Dan saat ini masih jarang dibicarakan,” tambahnya.

Baca Juga  Bawaslu Sumbawa Lantik 1.010 PTPS Serentak di 24 Kecamatan

Untuk diketahui, Askar sendiri sudah bergerak di bidang digital sejak 2019, dan menjadi master planner yang sering mengisi kegiatan-kegiatan terkait kewirausahaan di luar negeri. Demikian dengan Lia yang menjadi dosen tamu di beberapa Universitas di Malaysia.

Dalam diskusi tersebut, Warek III UTS memberikan penjabaran terkait program merdeka yang juga fokus pada pengembangan Desa Wisata dan Desa Budaya. “Ada banyak hal yang dapat kita sinkronkan, seperti Desa Wisata yang menjadi salah satu tema unggulan dari Program Merdeka, juga start-up untuk mahasiswa agar saat lulus mereka sudah memiliki usaha. Kami pun saat ini sudah memiliki lembaga Career Development Center (CDC) yang concern di bidang penyiapan mahasiswa pasca lulus untuk berkarir, baik wirausaha maupun dunia industry,” tandas Umam, sapaan Warek II UTS.

Tim BPPD menyarankan agar Pihak UTS juga melakukan diskusi lebih lanjut dengan Sekolah Tinggi Pariwisata karena ada kesamaan program terkait desa wisata yang sinkron dengan Program Merdeka dan nilai campuspreneur yang ingin diwujudkan. Tim BPPD memberikan masukan bahwa untuk menuju ke tahap campuspreneur perlu memperkenalkan startup sejak dini. Mahasiswa harus memiliki wadah baik UKM atau lainnya. Harapannya, setelah lulus sudah menjadi start-up yang siap untuk bersaing.

Diskusi tersebut diakhiri dengan kesiapan BPPD dalam mendukung program UTS terutama yang terkait di bidang promosi dan pariwisata daerah, serta program pembentukan start-up untuk menyokong perekonomian daerah maupun provinsi. (SR)

 

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.