STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRIALISASI RUMPUT LAUT DI KABUPATEN SUMBAWA

oleh -112 views

Oleh : Haryandi, S.T., M.Eng.
(Dosen Teknik Lingkungan Universitas Teknologi Sumbawa dan Pengelola Sentra Industri Kecil Menengah (SIKM) Sumbion, Sumbawa)

Indonesia menjadi salah satu produsen terbesar rumput laut jenis Euchema Cotonii dan menguasai 50% pangsa pasar dunia untuk memenuhi permintaan pasar ekspor dari industri kosmetik dan farmasi. Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu sentra produksi rumput laut nasional.

Dalam release media (www.republika.co.id), Dinas Kelautan Perikanan (DKP) NTB telah menargetkan produksi rumput laut sebesar 930 ribu ton pada 2021 dengan sebaran di tujuh kabupaten, yakni Kabupaten Lombok Barat sebanyak 82 ribu ton, Lombok Tengah 57 ribu ton, Lombok Timur 104 ribu ton, Sumbawa Barat 85 ribu ton, Sumbawa 450 ribu ton, Dompu 2 ribu ton, dan Kabupaten Bima 150 ribu ton.

Sentra produksi rumput laut di Pulau Sumbawa tersebar di Kabupaten Sumbawa Barat, meliputi Kertasari, Poto Tano, dan Giantar. Sedangkan di Kabupaten Sumbawa tersebar di Teluk Saleh meliputi Tanjung Bele, Moyo Hilir, Kwangko. Sementara di Kabupaten Dompu terpusat di sejumlah wilayah Teluk Saleh, seperti Manggelewa, Nanga Tumpu, dan Kempo.

Kenaikan target dan permintaan rumput laut seiring dengan manfaatnya di berbagai kebutuhan di bidang industri makanan, kosmetika, tekstil, kertas, cat dan farmasi. Peningkatan produksi yang optimis dapat dicapai mengingat daya dukung teknis dan potensi kawasan pengembangan masih terbuka luas untuk dikembangkan.

Permasalahan yang ditemui dalam siklus bisnis rumput laut masih menyisakan terkait kualitas produk rumput laut kering yang belum memenuhi kualitas pasar ekspor dan stabilitas harga yang masih fruktuatif. Dari data produk ekspor, Indonesia juga masih dominan dalam bentuk mentah sebesar 80%, sehingga perlu diimbangi dengan teknologi pengolahan yang memadai.

Baca Juga  Dinas PU Diminta Update Teknologi Infrastruktur Berkualitas

Strategi Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut E.Cottoni Kabupaten Sumbawa

Menurut Porter (1990), suatu wilayah memiliki daya saing ditentukan oleh 4 faktor pokok dan penunjang yaitu faktor produksi, permintaan pasar, industri terkait dan industri pendukung, serta strategi perusahaan, struktur dan persaingan. Sedangkan faktor penunjangnya adalah peluang dan peranan pemerintah dalam pengembangan produk unggulan. Rendahnya penguasaan teknologi dalam budidaya rumput laut mulai dari proses pembibitan, pembudidayaan, pemanenan, pengeringan, dan produk turunan rumput laut perlu disikapi dalam pengembangan industri ini.

Sebagai contoh, penanganan paska panen menjadi factor kunci dalam industri rumput laut. Waktu pemanenan dengan standar 45 hari sangat menentukana mutu rumput laut untuk selanjutnya ditopang dengan cara panen, pencucian, pengeringan, pengemasan dan penyimpanannya. Pengetahuan tentang standar pasar menjadi peluang agar nilai jual lebih tinggi. melalui SNI 01-2690-1992 (Kementerian Pertanian, 1998) mensyaratkan seperti kadar garam dan kotorannya di bawah 5%, kemudian kadar air maksimum 35% perlu untuk E. Cottoni. Kurangnya umur tanam, metode penjemuran, dan pencucian dapat menyebabkan harga rumput laut di pembudiya rendah karena kandungan karaginan berkurang.

Kebutuhan akan industri pengolahan rumput laut di Kabupaten Sumbawa menjadi penting karena akan membawa manfaat sangat besar bukan hanya di sektor hulu namun juga di sektor hilir. Teknologi pengolahan rumput lait menjadi menjadi bahan setengah jadi, diteruskan pada industri yang dapat menghasilkan bahan baku penolong seperti karaginan, agar, alginat, dan sebagainya menjadi peluang peningkatan ekonomi dan keunggulan wilayah. Dengan rumput laut dirubah menjadi karaginan, tercatat lebih dari 500 end product barang konsumsi yang dapat diproduksi.

Karaginan dari rumput laut telah digunakan dalam berbagai skala dan tingkatan, seperti industry dairy product, farmasi, kosmetik, teknologi bahan, dll. Jika pengembangan lanjutan, klaster industry rumput laut menjadi unit usaha yang mempunyai orientasi yang sama ini dapat mengurangi berbagai biaya transaksi dalam distribusi barang.

Baca Juga  Dibutuhkan 36 Kepsek, yang Ikut Diklat 62 Calon Kepsek

Unit usaha pembentuk klaster industri yang dapat dikembangkan mulai dari kelompok unit usaha yang mendukung proses produksi, kelompok unit usaha proses produksi rumput laut, kelompok usaha pengolahan, kelompok unit usaha jasa distribusi barang, dan kelompok jasa pendukung. Sinergi antar kelompok ini akan menjadikan industrialisasi rumput laut di Kabupaten Sumbawa akan maju dan membawa dampak besar bagi perekonomian dan social masyarakat.

Pengembangan industri pengolahan rumput laut E. Cotonii untuk peningkatan nilai tambah di Kabupaten Sumbawa perlu segera dikembangkan. Aspek keberlanjutan indstri rumput laut ditentukan oleh jaminan kualitas dan kontinuitas produksi (sistem produksi), pasar (jejaring), modal usaha, dan jaminan untuk berusaha (regulasi).

Dalam melalukan pengembangan, perlu dilakukan pemetaan dan penataan kawasan budidaya, pengembangan sistem usaha dalam kawasan, penguatan kelembagaan dan pemberdayaan pembudidaya. Didukung oleh pengembangan industri pengolahananya, karena nilai tambah rumput laut sebagian besar terletak pada industri pengolahannya.

Beberapa hal yang harus menjadi usaha bersama diantaranya peningkatan produktivitas dan kualitas rumput laut, pengembangan industri pengolahan rumput laut setengah jadi (ATC, SRC, dan RC) secara bertahap di sentra-sentra produksi rumput laut, dan pengembangan skala usaha pengolahan rumput laut siap konsumsi dari skala mikro menjadi skala industri.

Dukungan berbagai pihak sangat menentukan pengembangan industri rumput laut di Kabupaten Sumbawa. Potensi lahan yang luas dan potensi permintaan yang semakin positif menjadi daya pengembangan industry rumput laut menjadi salah satu sumber devisa yang patut diperhitungkan. (*)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.