Model Pembelajaran Dua M

oleh -139 views

Oleh: UBAIDULLAH (Dosen UNSA, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sumbawa)

“Melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan terukur adalah sebuah keniscayaan. Walapun ditengah pandemi proses pembelajaran harus terus dilaksanakan, sehingga tujuan pendidikan nasional kita tercapai. Salah satu proses pembelajaran yang harus mampu dilaksnakan adalah membuat nuansa pembelajaran menjadi riang gembira dan menguhumanisasikan peserta didik” (Penulis).

Kondisi dunia sekarang masih diselimuti oleh nuanasa yang tidak bersahabat, tidak ketinggalan bangsa kita mengalami hal yang sama yaitu dilanda bencana non alam covid 19 yang sudah berlangsung satu tahun lebih. Musibah ini berimplikasi pada semua sektor kehidupan manusia, khusunya pendidikan dan ekonomi. Dalam konteks ini, sektor pendidikan sangat penting untuk diperhatikan dan harus mendapat attensi khusus dari semua komponen. Sektor ini cukup vital karena menyakut peningkatan kualitas manusia di sebuah negara. Tidak mungkin sektor-sektor riel lainnya dapat berjalan dan berfungsi tanpa ada manusia yang memiliki kompetensi dan skill yang baik dan berkualitas dalam menjalankan semua sistem yang telah disusun apik.

Sektor pendidikan baik dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, telah mengalami perubahan pola dan model belajar yang diaplikasikan selama pandemic. Hal ini menajdi bukti bahwa memang proses belajar  mengajar tidak boleh berhenti, karena menyangkut hak belajar semua warga Negara. Hak ini harus dijaga dan dilinungi oleh Negara agar semua yang menjadi need setiap peserta didik terpenuhi dengan baik. Untuk memenuhi hak tersebut, tentu semua pendidik memeiliki gaya dan model mengajar yang variatif,sehingga semua materi yang telah dirangcang dapat tersampai dengan baik.

Mutu pembelajaran menjadi rendah ketika pendidik berkutat pada model dan gaya belajar yang stagnan dan unvariatif tanpa ada proses merevoluisi diri menggunana model dan gaya belajar yang variatif tanpa mengihalangkan substansi dan nilai dari materi ajar. Pada tulisan sederhana ini, kami akan menjelaskan konsep operasional terkait pembelajaran yang disingkat dengan istilah dua M. Menyenangkan dan memanusiakan, dua kata yang berbeda, tapi memiliki muara yang sama bagaimana membuat anak didik memiliki perubahan dalam kehidupannya lewat proses belajar yang baik, terarah, dan berkualitas.

Pembelajaran Menyenangkan (Joyfull Learning)

Pembelajaran menyenangkan atau menggembirakan adalah proses pembelajaran yang selalau membuat pembelajar merasa senang dalam proses menerima materi pelajaran yang diajarkan guru. Pembejaran menyenangkan suatau proses pembalajaran yang bersifat atraktif dengan menggunakan media pembelajaran yang sesaui dengan materi ajar. Pembelajaran menyenangkan harus menyenangkan pembelajar agar materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik. Joyfull learning atau pemebelajaran menyenangkan dan menggembirakan dalam pandangan Dave Meier menyatakan bahwa sistem pembelajaran yang berusaha untuk membangkitkan sistem pembelajaran yang berusaha untuk membangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh, dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri siswa.  Paulo Fraire, pembelajaran menyenangkan atau Joyfull Learning adalah pembelajaran yang di dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik tekanan fisik maupun psikologis. Sebab, tekanan apa pun namanya hanya akan mengerdilkan pikiran siswa, sedangkan kebebasan apa pun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.

Baca Juga  Lomba Balap Karung dan Makna Kemerdekaan

Dalam konsep joyfull learning atau pemebalajaran menyenangkan dan mengasikkan guru tidak membuat siswa : takut salah dan dihukum, takut ditertawakan teman-temannya, takut dianggap sepele oleh guru atau teman. Di sisi lain pemebelajaran menyenangkan dapat membuat siswa : berani bertanya, berani mencoba, berani mengemukakan pendapat, berani menyangga dan mempertanyakan pendapat orang lain (pustakaaslikan.blogspot.com).  Dalam kontek ini, perlu kita pahami bahwa ada beberapa karakteristik yang terdapat dalam pembelajaran menyenangkan, antara lain:

  1. Tersedianya lingkungan yang rileks, menyenangkan, menggembirakan tidak membuat tegang (stress), aman, menarik, dan tidak membuat siswa ragu melakukan sesuatu meskipun keliru untuk mencapai keberhasilan yang tinggi.
  2. Ketersediaan materi pelajaran dan metode mengajar yang relevan sesaui dengan kondisi dan situasi.
  3. Terlibatnya semua indera dan aktivitas otak kiri dan kanan.
  4. Adanya situasi belajar yang menantang (challenging) bagi peserta didik untuk berpikir jauh ke depan dan mengeksplorasi materi yang sedang dipelajari.
  5. Adanya situasi belajar emosional yang positif ketika para siswa belajar bersama, dan ketika ada humor, dorongan semangat, waktu istirahat, dan dukungan yang enthusiast.

Sebagai istinbatnya bahwa joyfull learning atau pembelajaran menyenangkan  adalah pendekatan yang digunakan oleh pengajar untuk membuat siswa lebih dapat menerima materi yang disampaikan yang dikarenakan suasana yang menyenangkan dan tanpa ketegangan dalam menciptakan riang gembira tanpa menghilangkan subsatnasi dari semua materi yang diajarkan. Penciptaan rasa senang berkait dengan kondisi jiwa bukanlah proses pembelajaran tersebut menciptakan suasana ribut dan hura-hura. Menyenangkan atau mengasyikkan dalam belajar di kelas bukan berarti menciptakan suasana huru-hara dalam belajar di kelas namun kegembiraan disini berarti bangkitkan minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) dan nilai yang membahagiakan siswa (Muhibi Syah).  Dengan menciptakan pembelajaran menyenangkang, secara otomatis dapat memicu terjadinya proses pembelajaran yang efektif.

Pembelajaran Memanusiakan (Humanistic Learning)

Istilah humanis atau humanisasi yang bermakna memanusiakan manusia memiliki arti dan peran penting dalam proses pembelajaran. Humanisasi merupakan arti kreatif dari kalimat amar ma’ruf yang memilki makna asal menganjurkan atau menegakkan kebaikan.  Amar ma’ruf  bertujuan untuk meningkatkan dimensi  positif manusia yang membawa kembali kepada pentunjuk Ilahi untuk mencapai keadaan fitrah. Fitrah dalam artian mengembalikan diri manusia pada poisisi yang sebenarnya yaitu memanusiakan diri menjadi manusia yang gemar berbuat kebaikan, kemulian, dan perubahan diri secara komprehensif. Memanusiakan manusia dengan cara menghilangkan kebodohan, kebendaan, ketergantungan, dan kekerasan, serta kebencian dalam dirinya. Dalam konteks ini, pembelajaran humanis atau memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan kehidupan sosialnya.

Baca Juga  Sumbawa akan Miliki Pembangkit Listrik Biomassa

Dalam kajian teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri serta lebih banyak berbiacara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal. (http://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-humanistik.html)

Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistic berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar, secara optimal. Teori humanistik bersifat sangat eklektik yaitu memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia dan mencapai tujuan yang diinginkan karena tidak dapat disangkal bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Salah satu penganut aliran humanistik yaitu Bloom dan Krathmohl menjelaskan terkait dengan pembelajaran humanistik dalam lebih menekankan perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar), setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajarnya dikemukakan dengan sebutan Taksonomi Bloom, yang terbagi dalam tiga domain yaitu domain kognitif (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi, domain psikomotorik (peniruan, penggunaan, ketepatan, perangkaian, dan naturalisasi, dan domain afektif (pengenalan, merespon, penghargaan, pengorganisasian, dan pengalaman).

Berangkat dari taksonomi Blom yang terbagai dalam tiga domain tersebut di atas yang merupakan bagian dari salah sintak dalam teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik sering dikritik karena sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis dan dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat kejiwaan manusia. Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. (*)

 

bankntb DPRD DPRD