Pramuka Plampang Galang Dana, Peduli Bocah Yatim Piatu Penderita Gizi Buruk

oleh -203 views

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (19/1/2021)

Kondisi Aira Saputri memantik keprihatinan sejumlah pihak. Yatim piatu penderita gizi buruk ini hanya terbaring lemah dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Salah satu kepedulian ini ditunjukkan jajaran Pramuka Kwartir Ranting Plampang. Untuk membantu putri kecil asal Dusun Sejari Desa Plampang Kecamatan Plampang ini, mereka menggalang dana.

Ketua Kwartir Ranting Pramuka Kecamatan Plampang, Mustamar, S.Pd, kemarin mengatakan, aksi cepat tanggap dari pramuka ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi Aira. Dimotori Dewan Kerja Ranting (DKR) dan Kakak Pembina, pasukan pramuka terjun ke jalan dan berbagai tempat untuk mengumpulkan dana. Kehadiran pasukan ini menjadi perhatian masyarakat yang kemudian secara ikhlas menyisihkan rezekinya untuk berdonasi. “Dana yang terkumpul ini untuk membantu biaya hidup selama masa pengobatan adik kami Aira Saputri, dan pemberdayaan ekonomi keluarganya,” kata Mustamar, seraya meminta jika ada yang ingin menyumbang dapat langsung ke Posko Pramuka Peduli Kwaran Plampang.

Untuk diketahui, Aira masih terkulai lemas di atas kasur khusus di salah satu ruangan Rumah Sakit Umum Daerah Sumbawa. Jarum infus menusuk bagian lengan tangan pada tubuh si pasien tersebut. Pernafasannya menggunakan alat bantu selang yang tersambung ke alat canggih, dan terletak di atas kepalanya.

Aira adalah putri pertama dari pasangan Zakariah dan Ikmawati. Lahir pada 15 Mei 2013, Aira dikenal sebagai anak yang sehat dan ceria. Dia mudah bergaul dan disenangi teman sebayanya. Namun keceriaan itu lenyap seketika setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Ibunya dipanggil Ilahi Tahun 2016 ketika Aira berusia 3 tahun. Dua tahun kemudian tepatnya 2018 saat Aira berusia 5 tahun, ayahnya menyusul. Dengan status yatim piatu Aira tinggal bersama kakek dan neneknya, Tembo dan Hapsah, serta bibinya, Nurhadijah. Untuk menyambung hidup, kakeknya mencari nafkah dengan menjadi tukang ojek. Kondisinya juga memprihatinkan. Selain sudah udzur, kakeknya kerap sakit-sakitan. Kehidupan yang berada di bawah garis kemiskinan membuat Aira hidup apa adanya. Hal inilah yang menjadi salah satu factor Aira menderita gizi buruk. Selama dirawat di rumah sakit, Aira ditemani bibinya. (BUR/SR)

bankntb DPRD DPRD
Baca Juga  Pembukaan Sail Moyo Tambora 2018: Ekonomi Indonesia Baik-baik Saja