Yang Sempat Terekam dan Menjadi Harapan (Coretan Sang Guru)

oleh -124 views

Oleh: Anita (Dsn. Ai Puntuk Ds, Serading Kec. Moyo Hilir Kab. Sumbawa) 

Masih terekam dengan sangat jelas, sejak ditetapkannya Virus Corona sebagai bencana Non Alam, maka sejak saat itu pula segala aktivitas menjadi terbatas. Cara bersosialisasi, berkomunikasi dalam bermasyarakat sejatihnya kita lakukan sebagai mahluk sosial, cara mengais rezeki, hingga cerita yang terbidani dari cara kita menjaga keberlansungan belajar anak bangsa.

DPRD

Dalam bidang pendidikan sendiri, PP nomor 36962/MPK.A/HK/2020 secara resmi dikeluarkan oleh Kemendikbud tentang belajar secara online atau daring. Hal ini sebagai salah satu langkah untuk meminimalisir tersebarnya Virus Corona terutama kepada anak- anak semua jenjang pendidikan.

Batu Sandungan

Beberapa agenda wajib pendidikan pun dengan terpaksa harus terpending dan banting setir. Mulai dari penyelenggaraan Ujian Nasional di semua jenjang pendidikan hingga kegiatan dan acara yang wajib dilaksanakan sebelumnya. Jika tahun-tahun sebelumya semua guru dan stakeholder pendidikan selalu disibukkan dengan persiapan ujian, pelaksanaan ujian hingga acara pembagian Ijazah/kelulusan maka tahun 2020 tidaklah demikian. Justru pada saat yang bersamaan semuanya disibukkan oleh berita Corona yang kian menggurita yang dibarengi juga dengan kepanikan Lockdown.

Selanjutnya Ulangan MID, ulangan Semester dan ulangan kenaikan kelas yang selalu kita nobatkan sebagai acuan hasil pembelajaran mau tidak mau harus berjalan pelan. Belum lagi kegiatan ex-school seperti Pramuka, PMR, KIR dan kegiatan lainnya yang harus di non-aktifkan. Dengan proses Kegiatan pembelajaran secara tiba- tiba harus dirubah membuat semuanya berjalan terbatah – batah. Dalam waktu yang sangat singkat Semuanya dituntut untuk bisa belajar dan menyesuikan diri.

Pihak sekolah kepala sekolah bersama guru dituntut untuk berpikir seribu langkah agar kegiatan pembelajaran dapat terlaksana. Sedangkan orang tua bersama para siswa harus bisa mengikuti derap langkah tersebut meskipun dengan keterbatasan. Siswa harus terbiasa belajar mandiri dan didampingi orang tua di rumahnya masing- masing. Sedangkan orangtua di rumah mau tidak mau harus bisa membiasakan diri dengan kebiasaan barunya menjadi; multi tasking parents. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara online/Daring seperti pemberian tugas dan pembuatan Vidio pembelajaran merupakan deretan pilihan yang dilakukan guru.

Bahkan ada juga cerita sebagian guru yang harus melakukan pembelajaran lansung ke rumah siswanya (home visit), dengan istilah GULING (Guru Keliling) mobile teaching untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran bagi sebagian siswa yang berada dalam digital obstacles seperti ketidakmampuan mengakses Smartphone, laptop, paket internet dan jaringan. Berbagai cerita dari berbagai sudut negeri pun kian mewabah mengikuti alur cerita corona.

Begitu juga dengan tanggapan dan masukan yang bermunculan dari berbagai sudut pandang baik positif maupun negatif. Sisi positifnya adalah dengan ditetapkanya program pembelajaran online/daring di tengah penularan Pandemi, secara otomatis membuat rasa aman dari semua pihak. Selain itu, dengan waktu yang banyak dihabiskan di rumahnya anak- anak dapat meningkatkan intensitas kebersamaan dengan orangtua dan anggota keluarga yang lainnya. Bahkan anak–anak juga dapat melakukan aktivitas, kreativitas atau mencoba hobi–hobi baru mereka.

Namun, dari sudut cerita lain, pembelajaran Daring ini justru menimbulkan masalah. Dari guru selaku pelaksana, keadaan ini telah mengharuskannya dan menuntutnya untuk bekerja dan berfikir lebih dari sebelumnya. Sebut saja, selain minimnya kemampuan dan kreativitas guru untuk melakukan pembelajaran, sebagian guru juga harus mengalami kesulitan dalam mengakses smartphone, laptop dan jaringan internet serta ditambah lagi dengan tuntutan target capaian kurikulum.

Orang tua siswa pun mau tidak mau harus menghadapi kenyaatan yang pastinya sulit. Kompleksitas tanggung jawab adalah akarnya. Hal ini dirasakan terutama sekali oleh keluarga yang bisa dikatakan mengalami masalah Ekonomi, kesibukan melakukan pekerjaan dan minimnya pengetahuan dalam mendampingi anak. Sedangkan dari anak selaku peserta didik, mereka harus menghadapi masalah lainnya juga. Misalnya kebosanan, kebigungan arah tujuan belajar serta masalah sosial lainya yang secara lansung berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Termasuk juga terbebani oleh faktor ekonomi keluarganya.

Baca Juga  Haji Sahril: Anggota Pramuka Harus Jadi Teladan dan Pelopor Anti Narkoba

Bahkan bagi sebagian anak, waktu pembelajaran Daring/Luring yang seharusnya disibukan dengan kegiatan belajar dan pengerjaan tugas justru harus mereka habiskan untuk bekerja membantu orangtua. Ditambah lagi dengan faktor lingkungan yang kurang mendukung. Dari daerah yang dikategorikan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) juga mengisahkan cerita yang jauh berbeda. Bagi mereka Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), mau tidak mau justru melahirkan kisah yang pilu. Mereka yang sudah tertinggal kini semakin tertinggal jauh. Ketimpangan mengakses pendidikan yang berkualitas yang selama ini sudah ada kini semakin melebar. Deretan panjang Keadaan tersebut secara tidak lansung membuat anak–anak tersebut semakin jauh harapannya.

Putus sekolah yang mungkin tidak mereka inginkan pun menjadi pilihan. Hal ini seperti yang sampaikan oleh Directur UNICEF (United Nations Children’s Fund), Harrietta Fore dari hasil survei yang dilakukan secara global berkaitan dengan kegiatan belajar siswa di masa pandemi ini, menyatakan bahwa ada 24 juta siswa dunia yang terancam putus sekolah. Selain dari itu dari hasil survei yang dilakukan oleh pihak UNICEF khususnya di Indonesia yang dilaksanakan pada 18 – 29 Mei dan 5 -8 Juni 2020 terhadap aktivitas pembelajaran Daring atau online, mengungkapkan bahwa dari 34 Provinsi Indonesia terdapat 66 persen dari 60 Juta siswa dari berbagai jenjang pendidikan mengaku tidak nyaman belajar di rumah. Seperti yang dipaparkan sebelumnya, kompleksitas permasalahan menjadi faktornya utama.

Opsi dan solusi

Dari Pemerintah sendiri beberapa solusi dan opsi telah dan selalu diberikan. Selain program pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui online/DARING e.g. Zoom Meeting, Googlemeet, Google form, WA group, serta aplikasi jaringan lainnya yang dianggap kurang berhasil. Beberapa program dan alternatif lain pun diberikan. Misalnya, pembelajaran Belajar dari Rumah di TVRI, Belajar di Radio RRI, Rumah belajar dan Kerja sama dengan platform Pembelajaran Daring. Selanjutnya program Guru Berbagi, Seri Bimtek Daring, Seri Webinar, Penyediaan Kuota Gratis untuk guru dan siswa, Relaksasi BOP dan BOS, serta ruang guru PAUD dan sahabat keluarga merupakan beberapa Inovasi di tengah pandemi untuk para guru dan sekolah.

Bahkan SKB 4 Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri) secara resmi diumumkan tanggal 20 November 2020 yang bertujuan untuk menjawab kegundahan terhadap panduan dan skema pembelajaran setiap zona penularan pandemi dan kurikulum yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 (Masa Pandemi).

Dengan ultimatum SKB tersebut maka Setiap satuan pendidikan bisa menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan izin pemerintah setempat bersama dengan orangtua siswa. Dalam pelaksanaanya harus sesuai dengan protol kesehatan yang sudah ditentukan. Sementara itu, pencapain kurikulum yang selama ini selalu menjadi salah satu kekhawatiran guru dalam pelaksanaan pembelajaran, kini menjadi lebih ringan.

Dalam kurikulum terbaru (Selama pandemi) “Kurikulum Darurat”, guru atau satuan pendidikan diberikan wewenang untuk memilih capain kurikulum yang dilaksanakan. Menyederhanakan kurikulum dengan pengurangan materi secara drastis atau tetap mengunakan K13 seperti biasa sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing – masing satuan pendidikan. Output kegiatan pembelajaran hanya berfokus pada essensial dan kompetensi prasyarat untuk kegiatan pembelajaran di tingkat selanjutnya, seperti Kompetensi literasi, numerasi dan penguatan karakter (Kompas. Com 13 Dec. 2020 ).

Hikmah dan Harapan

Dari berbagai permasalahan yang mewabah dan dari banyaknya masalah yang terkisah, ribuan pula tawaran pemecahan masalah. Masih segar dalam ingatan, di tengah kegaduhan, kebingungan, kekhwatiran dan ketidaktahuan, berbagai seri webinar dan Diskusi Online pun berseleweran baik lokal maupun international. Saling menguatkan, memberi dukungan serta jawaban. Tidak ketinggalan juga, ribuan artikel/wacana, aplikasi pembelajaran online, serta content youtube creative tentang pembelajaran pun ikut menjamur. Sempat terekam dengan sangat jelas juga, masa dimana BDR pertama kalinya dilaksanakan yang diikuti oleh kepanikan orang tua mendampingi anak–anaknya belajar di rumah.

Baca Juga  Satu Obyek Gugatan Lahirkan Dua Putusan Berbeda

Dari hal tersebut, orang tua semakin mengilhami dan mengapreasiasi kerja dan tugas guru di sekolah dalam menghadapi dan menanggani anak- anaknya dalam kegiatan belajar. Semuanya terekam dengan sangat jelas juga pastinya, bagaimana semuanya bermula hingga saat ini melahirkan kisah. Kisah mengantarkan kita pada apa yang sejatihnya kita sadari bahwa “Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman, dimana saja dia ditemukan. Ambil sebagai Pelajaran” HR. Tirmidzi. Adalah sangat benar bahwa Kegagapan dan ketidaksiapan memang tidak dapat dipungkiri. Namun rasa bangga telah saling menguatkan atas kegundahan dan kekhwatiran adalah satu hal yang harus kita syukuri.

Berkat situasi pandemi seperti ini, kita dihubungkan dan dipertemukan dalam satu forum besar across the globe untuk merumuskan pemecahan masalah secara bersama- sama. Setiap bagian ambil bagian. Setiap masalah dijawab oleh semua. Semua saling membeli solusi atas semua permasalahan yang dihadapi. Tahun 2020 telah banyak memberi kita torehan cerita. Terutama kepada kami guru yang sering dihadapkan dengan banyak pilihan.

Memilih antara proses kegiatan atau capaian, antar mengutamakan kesejahteraan atau kewajiban, mengutamakan keberhasilan pembelajaran siswa atau kesehatan mereka. Pada kenyataaanya, memilih salah satunya adalah pilihan namun bukan pilihan utama. Tanggung jawab kami menutut untuk memilih dua–duannya. Dari hal tersebut, kami berharap bahwa 12 bulan ke depan mulai dari hari ini semoga menjadi kesempatan kami untuk belajar memperbaiki diri atas semua kekurangan yang kami miliki. Sehingga apa yang kami pilih dan jalani saat ini dapat mendewasakan kami dalam mengadapi masalah kedepannya. 

Tahun 2020 telah meninggalkan kisah piluh, maka semoga 12 bulan kedepan mulai dari hari ini adalah waktu penentu untuk menyudahi piluh itu. Di tahun 2020 kita telah mendengar suara dan nada yang berbeda di beberapa daerah di seluruh Indonesia. Maka 12 bulan mulai dari hari ini merupakan kesempatan untuk kita berdoa dan berharap agar suara minor mereka yang ada di sana bisa terminimalisir. Sehingga Senyum lebar, kebahagiaan, rasa aman dan keberhasilan yang sekarang dirasakan oleh sebagian, bisa dirasakan oleh semua.

Teristimewa untuk Pemerintah yang selalu ada, apreasisi yang sangat tinggi itu pasti. Segala tawaran, bantuan yang selalu diberikan. Kami tahu bahwa apa yang kita hadapi saat ini adalah masalah global. Semua negara kurang lebih memiliki masalah serupa. Pun demikian, harapan tetaplah harapan. 34 Pronvinsi yang terbentang dengan tofografis yang berbeda namun diseragamkan dalam ajuan dan capain pendidikan yang sama adalah kerja dan proyek besar yang tuntutan untuk menyeragamkannya fasilitas dan kebutuhannya adalah keharusan.

Selanjutnya bagi ayah/ bunda orang tua siswa di rumah, kami dari guru mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan pengertiannya. Kekurangan baik dari kami maupun dari bapak ibu, itu pasti. Dalam situasi seperti ini satu yang pasti untuk di ilhami bahwa “Setiap masa mempunyai cerita dan setiap cerita mempunyai masa”. Hadapi, jalani, dan syukuri sembari masing – masing dari kita memperbaiki diri dan mengambil bagian sesuai dengan bagian dan kewajiban. The truth this is truly an unpredictable situation and condition. Everything is something in between. Every part needs to take their own parts. We have to believe, however that together we can go through this and Insyallah “This too shall pass”. Amin ya robbalamin. (*) 

DPRD DPRD