Cetak Uang Palsu, Oknum PNS Ditangkap, Terungkap Saat Transfer

oleh -398 views

LOMBOK TIMUR, samawarea.com (6/1/2021)

Seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial SRM (37) diamankan polisi di rumahnya Kecamatan Sakra, Lombok Timur, belum lama ini. Penangkapan terhadap pegawai salah satu instansi di Pemprov NTB itu, setelah Reni Kustiana–Pemilik Kios BRI-link di Dusun Rumeneng, Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik, melaporkan adanya uang palsu (Upal) yang diterimanya. Reni langsung melaporkannya ke Polsek setempat.

Wakapolres Lombok Timur, Kompol. Kiki Firmansyah, SIK dalam keterangan persnya di Mapolres Lombok Timur, menjelaskan, pengungkapan kasus uang palsu pecahan Rp. 100.000 berawal permintaan pelaku SRM untuk mentransfer uang sebesar Rp 4 juta ke rekening Bank NTB miliknya melalui Kios BRI-link. “Saat itu suami korban meminta istrinya (Reni Kustiana) untuk melayani pelaku mentransfer uang sebesar 4 juta ke rekening milik pelaku,” ujar Wakapolres, didampingi Kasat Reskrim AKP. Daniel P. Simangunsong SIK dan Kasubag Humas IPTU. L. Jaharuddin.

Masih kata Kiki—akrab Wakapolres, setelah berhasil mentransfer kemudian pelaku SRM berlalu. Tak berselang lama, sekitar 5 menit, Reni merasa curiga dengan uang yang diterimanya. Benar saja, ternyata uang pecahan Rp. 100.000 sebanyak 40 lembar tersebut palsu. Ternyata aksi pelaku tidak hanya menimpa korban. Sejauh ini, pelaku sudah melakukan aksinya di beberapa tempat di antaranya, Kopang Lombok Tengah, Masbagek dan wilayah Lombok Timur lainnya.

Namun, polisi masih melakukan pengembangan. Ditenggarai tambah Kiki, pelaku SRM sudah melakukan aksinya dalam 4 bulan terakhir. Tetapi, penyidik polisi akan terus mendalami keterlibatan pihak lainnya. “Untuk saat ini pelaku mengaku bekerja sendiri. Tapi kita akan kembangkan kembali. Sejauh ini laporan kami terima sebanyak 52 lembar atau setara Rp 5,2 juta pecahan Rp. 100.000 berhasil disita,” sebutnya.

Baca Juga  Respon Permohonan Izin, Tim DPMPTSP Setiap Hari Verifikasi Lapangan

Selain Upal, barang bukti yang disita yaitu alat mesin cetak uang palsu berupa printer, rekening pelaku dan sejumlah uang asli yang diduga hasil dari kejahatan SRM. Modus lainnya, jelas Kiki, pelaku mencampurkan uang palsu dan asli, selanjutnya dibelanjakan ke toko-toko untuk membeli kebutuhan pelaku. Terhadap perbuatannya, SRM akan dikenakan pasal 36 ayat (3) dan ayat (1) dan/ayat (2) UU RI No. 7 tahun 2011 dengan ancaman hukuman 15 tahun dan denda sebesar Rp 50 miliar. (SR)

iklan bapenda