Keberadaan Taman Sebagai Pembentuk Budaya Sehat Kolektif Bagi Masyarakat

oleh -263 views

Oleh: Fadillah Alji (Mahasiswa Jurusan Akutansi Universitas Muhammadiyah Malang)

Sumbawa merupakan salah satu kabupaten dengan karakteristik penduduk yang beragam dan merupakan salah satu daerah dengan jumlah penduduk lumayan besar. Salah satu permasalahan utama yang terjadi di Sumbawa adalah konsentrasi penduduk yang berpusat di Kota Sumbawa Besar. Hal tersebut tidak lepas dari adanya fenomena urbanisasi penduduk non-perkotaan yang berpindah dari desa menuju kawasan perkotaan di daerah terutama Sumbawa, dimana merupakan pusat pemerintahan, perekonomian, perdagangan, dan pusat-pusat pembangunan lainnya.

DPRD

Berbicara mengenai masyarakat perkotaan, keberadaannya seringkali dikaitkan dengan masyarakat modern. Karakteristik masyarakat perkotaan sendiri sangat berbeda dengan karakteristik masyarakat pedesaan. Masyarakat perkotaan memiliki karakteristik yang produktif namun dapat dikatakan cenderung individualis, dimana segala bentuk interaksi didasarkan pada kepentingan individu.

Keberadaan Taman Lembi di kawasan Jembatan Samota dapat menjadi salah satu sarana dalam membentuk interaksi sosial masyarakat perkotaan. Proporsi RTH pada kawasan perkotaan minimal 30% yang terdiri atas 20% ruang terbuka publik dan 10% terdiri atas ruang terbuka privat. Salah satu bentuk ruang terbuka di kawasan perkotaan.

Taman merupakan salah satu kebutuhan vital yang harus terpenuhi di kawasan perkotaan. Tujuan diselenggarakan taman kota adalah untuk kelestarian, keserasian, dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan, sosial, dan budaya. Taman memiliki fungsi ekologis dan sosialis yang cukup tinggi, dimana keberadaan taman dapat membantu mereduksi polusi udara yang ada di kota serta dapat digunakan sebagai wadah dalam menciptakan interkasi sosial hingga membentuk budaya sehat bagi masyarakat perkotaan.

Baca Juga  Lonto Engal Sukses Gelar Teater “Lajendre” di Taman Budaya NTB

Secara ekologis, setiap satu hektar daun hijau yang ada di taman dapat menyerap 8 kilogram CO2 yang setara dengan CO2 yang diembuskan oleh sekitar 200 orang dalam waktu yang sama. Hal tersebut tentu dapat meminimalisir risiko adanya berbagai gangguan kesehatan masyarakat perkotaan. Kemudian, dengan adanya taman, dapat digunakan sebagai area untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan beraktivitas seperti olah raga, rekreasi, dan lain sebagainya yang pada akhirnya dapat mengarahkan masyarakat menuju pola hidup yang sehat.

Namun sayang seribu sayang keberadaan Taman Lembi masih kurang perawatan yang seharusnya sebagai taman baru dilengkapi khusus perawat taman dan menjaga kebersihan lingkungan agar kedepanya tetap asri serta memberi kenyamanan pada setiap pengunjung. (*)

DPRD DPRD