Andis: Hasil Survey MY Institute Terindikasi Rekayasa dan Bentuk Kepanikan

oleh -756 views

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (5/12/2020)

Ketua Tim Relawan Jarot—Mokhlis, Andi Rusni mengaku tidak terlalu kaget dengan hasil survey MY Institute dan Olat Maras Institut (OMI) yang dirilis, Jumat (4/12/2020) kemarin. Sebab hasil survey yang sesungguhnya sudah dibocorkan oleh orang dalam mereka sendiri. Sebenarnya ungkap Andis—akrab ia disapa, hasil survey itu menempatkan Jarot—Mokhlis di posisi kedua setelah Mo—Novi dengan selisih hanya sekitar 1,7%. Artinya selisih itu masih berada dalam margin of error 2,6%. “Informasi bahwa akan ada rekayasa seperti ini dan itu sudah pernah kami terima seminggu yang lalu. Makanya pada saat saya kampanye di beberapa tempat termasuk di Jompong, saya sudah sampaikan hasil survei itu dan akan ada rekayasa. Ternyata terbukti kemarin hasilnya sudah seperti yang saya diperkirakan. Indikasi rekayasanya luar biasa dengan menempatkan paslon nomor 5 ini pada urutan terakhir,” tukas Andis saat mendampingi Calon Bupati Haji Jarot dalam jumpa persnya, Sabtu (5/12) pagi tadi.

DPRD

Hasil survey MY Institute untuk Pilkada Sumbawa 2020, menurut Andis, justru menjadi tamparan keras bagi lembaga itu sendiri. Karena hasil itu sama dengan menunjukkan kekonyolan mereka sendiri. Sebaliknya, akan memicu dan memacu semangat tim, pendukung dan simpatisan Jarot Mokhlis untuk bergerak lebih massif guna membuktikan bahwa hasil survey MY Institute, tidak benar. “Hasil survey itu menjadi bahan olok-olokan di kalangan masyarakat, karena masyarakat melihat bagaimana pergerakan tim nomor 5 ini dari awal kampanye sampai sekarang sangat massif. Dan mereka lupa banyak sekali tim-tim dari paslon lain termasuk paslon dengan posisi teratas versi My Institute yang sudah beralih ke nomor 5. Jadi saya simpulkan bahwa merilis hasil survey dengan kesan memaksakan diri adalah bentuk nyata dari sebuah kepanikan dan kekonyolan,” pungkasnya. (SR)

DPRD DPRD
Baca Juga  Anggota DPRD Gandeng BNN “Selamatkan Generasi Muda dari Bahaya Narkoba”