Dua Anak SD Terjerat Narkoba, Sudah Mahir Bakar Shabu dan Buat Bong

oleh -3.011 views

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (3/12/2020)

Penyalahgunaan narkoba di wilayah hukum Polres Sumbawa sudah sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya semua kecamatan terpapar, tapi juga semua kalangan baik profesi maupun usia. Pada Tahun 2020 ini, Klinik BNN Kabupaten Sumbawa menerima 60 orang pengguna narkoba yang direhabilitasi. Ini melebihi target yang ditetapkan.

Menurut Kepala BNN Kabupaten Sumbawa melalui Kasi Rehabilitasi, Ellyah Andriany SKM saat jumpa pers, Kamis (3/12), Klinik BNN pada tahun ini menargetkan 40 klien. Mengingat pandemic covid-19, 7 IPWL (Instansi Pemerintah Wajib Lapor) tidak melayani pasien narkoba. 7 IPWL ini adalah Puskesmas Alas, Puskesmas Unter Iwis, Puskesmas Labuhan Badas, Puskesmas Moyo Utara dan Puskesmas Empang, serta RSUD Sumbawa dan RS Manambai Abdulkadir (RSMA), ditambah rumah sakit swasta–PKU Sinar Medika Muhammadiyah Sumbawa. “Jadi hanya Klinik BNN satu-satunya yang melayani klien yang direhabilitasi. Makanya jumlahnya melebihi target,” ungkap Ellyah—akrab wanita berkacamata ini.

Dari 60 klien ini, sebut Ellyah, ada 2 anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ini sangat menyedihkan sekaligus memprihatinkan. Keduanya terpengaruh karena pernah melihat orang dewasa memakai narkoba. Dari itulah, mereka mencoba lalu membentuk kelompok dan patungan membeli narkoba dalam paket hemat seharga Rp 150-an ribu. Tercatat keduanya sudah menggunakan narkoba sekitar 8 kali. Bahkan anak-anak ini sudah bisa membuat bong (alat penghisap shabu) dan membakarnya sendiri. Akibat pengaruh narkoba ini, ungkap Ellyah, secara fisik tubuh anak-anak ini menurun drastis, dan masuk dalam kategori stunting. Meski kelas 6 SD tapi tubuhnya seperti anak usia kelas 3 SD. Pihaknya sudah melakukan konseling dan tetap mengawasi mereka. “Sekarang keduanya sudah dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya. Saat ditanya anak-anak ini punya cita-cita luar biasa, ingin menjadi seorang pilot,” kata Ellyah.

Baca Juga  Korban Gempa Lombok Terus Bertambah, Tercatat 321 Meninggal Dunia

Selain kedua anak itu, lanjut Ellyah, terdapat 37 orang usia 15—25 tahun, 14 orang usia 26—35 tahun, 5 orang usia 36—40 tahun dan 2 orang di atas 40 tahun. Artinya, sebagian besar klien yang direhabilitasi berusia produktif. “Ini menggambarkan banyak generasi kita ini yang dirusak oleh penyalahgunaan narkoba,” imbuhnya.

Meski demikian dari 60 orang yang direhabilitasi, Ellyah mengakui 77 persen di antaranya sudah menyelesaikan program, sisanya drop-out atau berhenti di tengah program yang masih berjalan. Ada beberapa alasan mereka tidak menyelesaikan program rehabilitasi ini. Di antaranya jarak rumah dengan pusat rehabilitasi cukup jauh, seperti dari Kecamatan Lenangguar yang membutuhkan biaya transport. Kemudian kesadaran yang bersangkutan dan keluarganya. Biasanya mereka mau direhab karena didorong oleh orang tuanya.

Alasan lainnya, ada keluarga yang menganggap bahwa rehabilitasi dan menggunakan narkotika adalah aib. Tak hanya itu muncul stigma bahwa mengikuti program rehabilitasi pasti diproses hukum. “Stigma seperti itu yang kadang di masyarakat belum bisa dihilangkan,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa rehabilitasi tidak dipungut biaya dan tidak diproses hukum. Rehabilitasi ini adalah upaya pemerintah membantu masyarakat untuk proses pemulihan. (JEN/SR)

iklan bapenda