Mo Novi dan Jarot Mokhlis Adu Strategi Tangani Keluhan Petani

oleh -86 views

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30/11/2020)

Pasangan Calon bernomor urut 5, Jarot—Mokhlis dan Pasangan Nomor urut 4, Mo—Novi kembali saling berhadapan di Debat Kedua Paslon Pilkada yang digelar KPU Sumbawa belum lama ini. Kali ini mengenai keluhan petani yang kesulitan mendapatkan distribusi air irigasi.

Kepada Mo—Novi, Jarot Mokhlis mengemukakan fakta lapangan bahwa masyarakat petani yang ditemuinya mengeluh tentang air irigasi. Meski telah dijadwalkan namun distribusi air irigasi tidak ada, petani hanya menerima angin. Rupanya banyak prasarana irigasi pertanian yang tidak berfungsi maksimal akibatnya kebutuhan air petani menjadi terganggu. Tentunya kondisi ini harus mendapat perhatian pemerintah melalui leading sektor terkait. Jarot Mokhlis menanyakan strategi Mo—Novi jika terpilih di Pilkada Sumbawa dalam mengatasi keluhan petani ini.

Menjawab hal tersebut, Calon Bupati Sumbawa bernomor urut 4, Drs. H. Mahmud Abdullah didampingi Wakilnya, Dewi Noviany S.Pd., M.Pd mengakui kondisi saluran irigasi maupun embung. Banyak infrastruktur pertanian itu yang mengalami pendangkalan. Ini bisa disebabkan karena faktor alam, juga manusianya. Salah satunya penanaman jagung dengan memperluas areal tanam sehingga merambah hutan. Dengan tersendatnya distribusi air irigasi menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan petani melalui hasil produksi pertanian.

Langkah yang dilakukan Mo—Novi jika terpilih nanti, akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi. Sebab ada saluran irigasi dan embung yang bukan menjadi kewenangan kabupaten. Selain itu meningkatkan peran P3A. Selama ini P3A tidak diberikan peran yang maksimal untuk melaksanakan perbaikan saluran irigasi.

Baca Juga  IISBUD Sarea Bahas Tantangan MEA di Vietnam

Menanggapi jawaban itu, Calon Bupati nomor urut 5, Haji Jarot Jarot menilai banyak bendungan atau embung yang saat ini terjadi sedimentasi atau sudah tertutup endapan sehingga ketersediaan air semakin lama semakin terbatas. Demikian juga infrastruktur pengairan secara teknis belum merata. “Berbicara tentang penanganan embung besar memang butuh koordinasi provinsi dan pusat tetapi kalau bendungan atau Dam kecil yang sifatnya penghadang air itu sebenarnya tidak perlu koordinasi ke pusat, cukup dengan alat berat digaruk dan diangkat endapan untuk mendalamkannya,” ujarnya.

Saat ini, katanya, dam-dam kecil sudah tidak mampu menampung air, pendalaman Dam-dam tersebut tidak perlu anggaran APBD tingkat I atau APBN tetapi bisa disiasati dengan APBD. “Saya pernah lakukan itu di Dam Jamu di Plampang, tidak membutuhkan dana besar kita mampu membuat sungai sepanjang 150 meter dengan menggunakan alat berat,” ungkapnya.

Ditambahkan Calon Wakil Bupati, Haji Mokhlis, ada dua langkah taktis yang bisa dilakukan yakni mengaktifkan Panitia Irigasi Kabupaten dan Kecamatan, dan membangkitkan lagi gotong royong masyarakat sebagai penikmat sehingga mereka merasa memiliki dan menjaga saluran tersebut.

Jika menjadi pemimpin Sumbawa, Jarot-Mokhlis akan terus mendorong pelaksanaan pembangunan Dam-dam besar yang menggunakan APBN seperti Dam Beringin Sila di Kecamatan Utan dan Dam Kareke di Kecamatan Unter Iwis. (SR)

 

iklan bapenda