Jarot Mokhlis Jadi Tumpuan Perubahan Nasib Nakes Sukarela

oleh -44 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21/11/2020)

Selama ini banyak tenaga kesehatan yang hanya menang tampang dan gelar. Padahal banyak di antara mereka yang tidak sejahtera, bahkan diupah dengan nilai yang memprihatinkan. Ini dialami oleh para Nakes dengan status sukarela. Perjuangan mereka untuk merubah nasib sudah diikhtiarkan selama bertahun-tahun. Sebab ada di antara mereka yang sudah mengabdi dengan status sukarela, belum mendapat perhatian. Mereka hanya dijanji-janji yang tidak kunjung ditepati. Padahal yang mereka inginkan hanya selembar SK. Banyak dari mereka yang putus asa sehingga meninggalkan pekerjaannya sebagai tenaga kesehatan dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Bagi yang mampu bertahan itu karena hanya untuk mengasah kompetensi yang sudah dimiliki dan diperoleh dengan biaya yang mahal. Tak heran jika mereka menginginkan adanya perubahan nasib. Salah satu caranya, adanya pemimpin baru. Sebab jika mempertahankan dan melanjutkan kepemimpinan saat ini, maka nasib mereka tidak berubah. Pemimpin baru yang diharapkan ada pada sosok pasangan Jarot—Mokhlis.

amdal

Seperti diungkapkan Nurilahidiningsih. Bidan yang tinggal di Desa Lape Kecamatan Lape ini sudah 10 tahun mengabdi sebagai tenaga sukarela. Untuk upah mereka, berdasarkan kerelaan para ASN. Ini mereka peroleh dari uang piket yang jumlahnya hanya Rp 2.500 per 24 jam. Insentif itupun diterimanya per triwulan yakni Rp 300 ribu lebih. “Paling tinggi kami dapat per tiga bulan 325 ribu, tidak pernah selama ini mencapai 500 ribu,” katanya.

Baca Juga  IAD Diminta Mandiri, Dukung Jaksa Agar Jujur dan Profesional

Dengan pendapatan sebagai bidan sukarela sebesar itu, tentu tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Beruntung suaminya memiliki pekerjaan meski sebagai petani. Nasib nakes sukarela ini bukan hanya dialaminya sendiri tapi ratusan bahkan ribuan nakes lainnya juga mengalaminya. Untuk angkatannya Tahun 2008, Ningsih—akrab dia disapa, mencapai ratusan orang. Belum lama ini hanya dua yang lulus PNS. Selebihnya masih berstatus sukarela. Banyak di antara angkatannya ini yang mengundurkan diri dan memilih menjadi ibu rumah tangga. “Ibarat buah simalakama. Bertahan tidak dapat apa-apa, tidak kerja kami tidak punya keterampilan dan kompetensi kami mandeg,” ujarnya.

Selama ini mereka hanya mengantongi nota dinas yang berisi nama dan masa kerja. Tapi nota dinas yang ditandatangani Bupati ini ungkap Ningsih, tidak ada bedanya, karena tetap mereka menjadi tenaga sukarela dan mendapatkan upah dengan nilai yang sama. Yang dia harapkan jika tidak bisa diangkat menjadi PNS, minimal diberikan SK sebagai tenaga kontrak atau honorer, sehingga berdampak pada penambahan kesejahteraan. “Kami secara berkala diharuskan memperpanjang STR untuk uji kompetensi. Itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara upah kami sangat kecil,” keluhnya.

Namun menjelang Pilkada ini, ada secercah harapan. Dari program Jarot—Mokhlis dalam silaturahimnya belum lama ini, akan memberikan perhatian serius terhadap nasib mereka. “Kami yakini itu,” cetusnya.

Untuk diketahui ada 15 Terobosan Kemajuan yang diprogramkan Jarot Mokhlis. Di antaranya meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang merata dan terjangkau. Selain itu pemerataan sarana dan prasarana kesehatan. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan tentu berangkat dari kesejahteraan tenaga kesehatannya. Karenanya insentif dan status nakes akan ditingkatkan. Kuncinya bagaimana pemimpin bisa mendatangkan uang yang banyak dalam rangka membangun daerah. Karena kemampuan keuangan daerah masih bergantung pada sumber-sumber di luar APBD. Jarot Mokhlis adalah paslon yang memiliki jaringan yang luas bukan hanya di tingkat nasional juga internasional. Dengan modal ini, menjadi mudah bagi pasangan tersebut untuk merealisasikan program kerjanya bagi Sumbawa maju.  (SR)

iklan bapenda