Ritual Barodak Rapancar Masih Tetap Lestari

oleh -29 views
bankntb

Liputan Burhanuddin—Wartawan Samawarea.com Biro Sumbawa Bagian Timur

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (12/11/2020)

amdal

Berbagai tradisi menarik bisa ditemukan di masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satunya adalah ritual Barodak Rapancar. Seperti yang dilaksanakan Pasangan Calon Pengantin Sahaluddin Bin M. Naum dan Susilawati Binti Hasbullah (Alm) di Pamunga Desa Usar Kecamatan Plamlang. Ritual Barodak ini merupakan salah satu prosesi perkawinan adat masyarakat Sumbawa yang sudah lama berurat berakar sejak nenek moyang kita tau Samawa.

Barodak Rapancar adalah tradisi luluran dan mewarnai tangan. Kedua kata tersebut berasal dari bahasa asli Sumbawa. Kata Barodak diambil dari kata ‘Odak’ yang berarti Lulur, sedangkan Rapancar berasal dari kata Pancar yang berarti memerahkah kuku tangan dengan daun pacar. Ritual Barodak atau Rapancar ini biasanya dilakukan setelah didahului berbagai fase perkawinan lainnya seperti Bajajak (menjajaki), Bakatoan (Melamar), Basaputis (menetapkan hari baik), Bada (pemberitahuan), dan Nyorong (Antaran). Kemudian setelah Barodak Rapancar, dilanjutkan dengan acara Nikah (menikah), Rame Mesa (Meramaikan di tempat acara) dan Tokal Basai (resepsi).

Rangkaian tahapan ini, hampir utuh dijalani oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa sejak berpuluh tahun lamanya. Di dalamnya juga termasuk ritual Maning Pengantan yang dilakukan oleh ‘Ina Odak’ (Juru Lulur) untuk mengawali seluruh prosesi barodak.

Kegiatan ritual barodak bagi masyarakat Sumbawa memiliki makna filosofis tersendiri. Misalnya, setiap perlengkapan odak, yaitu bedak tradisional Sumbawa yang terbuat dari buah Binang atau Belimbing Wuluh, Daun Sirih, Beras yang digiling dan diramu menjadi satu. Kesemuanya itu menurut warga Sumbawa melambangkan keikhlasan kesatuan hati dan tekad.

Baca Juga  10.676 Hektar Lahan di Labangka Jadi Hamparan Jagung

Pada proses Barodak Rapancar ini diiringi lantunan Sarakal/Barsanji, serta Ina Odak terlebih dahulu menyalakan lilin sambil memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ina Odak lalu meminta calon mempelai wanita untuk memasukan cincin khusus dari Ina Odak ke mulutnya menggunakan sendok makan yang telah ditaburi gula pasir. Kemudian, Ina Odak meluluri calon mempelai wanita, dimulai dari wajah hingga leher, kemudian dilanjutkan ke kedua lengan calon mempelai. Begitu pula terhadap calon mempelai pria. Selanjutnya, Ina Odak akan menempelkan gilingan daun pacar ke jari kedua calon mempelai.

Setelah selesai, para tamu yang semuanya kaum ibu melanjutkan apa yang dilakukan oleh Ina Odak terhadap kedua calon mempelai. Satu per satu para ibu dan tamu melulur kedua calon mempelai. Ritual ini berakhir setelah Ina Odak memastikan odak atau bedak yang dilulur ke wajah dan lengan calon kedua mempelai sudah cukup. Karena ini memang tradisi leluhur kita Tau Samawa, yang sudah mendarah daging, dan turun temurun. Tanpa melakukan ritual ini rangkaian prosesi pernikahan akan tidak lengkap.

Selama proses berlangsung, tabuhan musik tradisional Sumbawa, Ratib dan Gong Genang ikut mengiringi jalannya ritual Barodak Rapancar. Ritual ini diyakini dapat menambah cahaya suci kedua calon pengantin dari sifat iri dan dengki. Sedangkan Rapancar menyimbulkan makna yang dalam, bahwa tiap pasangan pengantin hendaklah memiliki semangat berkorban dengan jiwa dan raga demi kehidupan rumah tangga yang mulia. Ritual ini dilakukan agar kedua calon mempelai mampu mengarungi bahtera hidup membina rumahtangga yang sakinah mawaddah warahmah dengan berlandaskan mu’asyara bil ma’ruf penuh keikhlasan. (*)

iklan bapenda