Jaga Kelestarian Budaya, Mo—Novi akan Tingkatkan Peran LATS

oleh -109 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (3/11/2020)

Terwujudnya “Sumbawa Gemilang yang Berkeadaban” mengandung makna Sumbawa yang memiliki daya saing kuat, serta mampu berkompetisi baik di tingkat regional, nasional maupun internasional. Namun tetap memegang teguh agama dan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari sesuai falsafah Tau Samawa “Adat Barenti Ko Sara’, Sara’ Barenti Ko Kitabullah, Taket Ko Nene’ Kangila Boat Lenge” sehingga terbentuk kondisi masyarakat yang senap semu, riam remo, nyaman nyawe. Ini merupakan Visi Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah—Dewi Noviany M.Pd yang akan bertarung pada Pilkada, 9 Desember 2020 mendatang. Visi tersebut diwujudkan melalui misi-misi. Salah satunya Sumbawa Aman dan Berbudaya yakni mewujudkan masyarakat yang beriman, berkarakter, terlaksananya ketentraman dan ketertiban umum melalui penegakan hukum yang berkeadilan. Khusus terhadap isu budaya ini, menjadi konsen pasangan yang didukung PKS, Nasdem, Golkar.

Calon Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah dalam suatu kesempatan, mengatakan, budaya dianggap sangat penting dalam membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai bentuk perhatiannya, Mo—Novi dalam program kerjanya akan meningkatkan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) sebagai lembaga yang menjaga kelestarian adat istiadat di Kabupaten Sumbawa. Pemda juga dapat menjaga kelestarian adat/budaya melalui kurikulum Mulok (muatan lokal) dan penyelenggaraan even-even lokal. Menurut Haji Mo—sapaan calon bupati bernomor urut 4 ini, seluruh upaya keberpihakan terhadap adat istiadat harus berasal dari pemerintah itu sendiri. Pemda akan menyediakan panggung atau ruang terkait hal tersebut. Pemda juga harus berperan secara bottom up, atau menyerap aspirasi dari bawah dalam memberikan ruang kepada masyarakat untuk melestarikan budaya. ini dimaksudkan agar muncul kader-kader pemerhati budaya baru.

Baca Juga  Komisi IV DPRD Siap Bantu Kesulitan FAS

Demikian dengan UMKM dan industri kecil dapat berkembang dari hal tersebut karena budaya membutuhkan keberpihakan daerah. “Misalnya, ada hari yang ditetapkan sebagai hari budaya, sehingga di hari itu seluruh penyeleggara pemerintahan mengenakan pakaian adat. Hal ini akan memicu meningkatnya sentra industri kecil dan menengah yang memproduksi bahan atau pakaian adat,” ujarnya.

Selain lembaga adat, lanjut Haji Mo, pemerintah juga dapat bersinergi dengan alim ulama dalam proses pengambilan kebijakan. Kedepannya, Pemda akan menyelenggarakan Public Hearing guna menyerap aspirasi masyarakat secara universal. (SR)

iklan bapenda