Olat Maras Moving Festival, Ungkap Misteri Budaya di Bukit Kebahagiaan

oleh -100 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30/10/2020)

Olat Maras Moving Festival yang digelar di RPK Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Jumat (30/10/2020) malam ini berlangsung meriah. Kegiatan yang digelar Dewan Budaya UTS ini mengikutsertakan para dosen, guru, mahasiswa, dan siswa lembaga pendidikan di lingkup Olat Maras mulai dari UTS, IISBUD, AKOM, dan SMK Al-Kahfi. Selain Rektor UTS, Chairul Hudaya Ph.D, hadir di antaranya Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc, Ketua Yayasan Dea Mas, Hj. Niken Saptarini Zulkieflimansyah, Ketua Dewan Budaya UTS, Aries Zulkarnain, beserta para budayawan. Dalam Olat Maras Moving Festival ini digelar beragam pertunjukan. Seperti Pidato Kebudayaan, Sakeco 70 Rabana, Lawas, Musik, Gelaran Sastra 80 Santri, Paduan Suara dan Puisi Al Kahfi.

amdal

Rektor UTS, Chairul Hudaya saat membuka kegiatan itu mengatakan, bahwa digelarnya acara ini karena Olat Maras atau yang dikenal dengan sebutan Bukit Kebahagiaan, menyimpan sejuta misteri sejarah budaya. Ia pernah melihat di lokasi Olat Maras ada makam-makam purba, dan bebatuan yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Ini menandakan bahwa pada zaman dulu di Olat Maras ini terdapat sebuah peradaban. Ia meyakini bahwa sejarah adalah perulangan waktu. Karena itu sekarang berkat tangan dingin Dr. H. Zulkieflimansyah berdiri sejumlah institusi pendidikan di Olat Maras, mulai dari UTS, IISBUD, AKOM hingga SMK Al-Kahfi. Ke depan di Olat Maras ini akan menjadi kawasan City of Innovation yaitu Kota Inovasi.

Baca Juga  15 Finalis Putri Indonesia NTB Bersaing Rebut Brand Ambasador Pariwisata

Saat ini ungkap Bang Irul akrab Rektor disapa, pihaknya sangat konsen dengan budaya. Sebab budaya itu adalah identitas dan rahmat dari Allah SWT untuk dijaga dan dilestarikan bersama. Selain itu, saat ini yang kuliah di UTS bukan hanya mahasiswa dari Papua sampai Aceh, tapi mulai semester ini ada 21 mahasiswa asing dari 21 negara. Salah satunya yang sudah hadir adalah Mauro—mahasiswa asal Argentina. Tentunya keberadaan Mauro dan mahasiswa asing lainnya di UTS menjadi duta besar untuk menduniakan kebudayaan Tau dan Tana Samawa ini.

 

Ketua Yayasan Dea Mas dan Rektor UTS

Lebih jauh dikatakan Bang Irul, tantangan ke depan sangat keras dan kompetitif. Tentunya untuk lestarinya, budaya harus mengalami perubahan dan inovasi. “Tanpa adanya inovasi, mungkin budaya kita akan kita tinggalkan,” imbuhnya.

Karena itu dibutuhkan sebuah gerakan. Salah satu yang dilakukan UTS adalah membentuk Dewan Kebudayaan Kampus. Semua seniman dan budayawan bergabung di dalamnya. Ini merupakan tekad UTS untuk terus menerus melestarikan budaya Sumbawa. Apa yang dilakukan Dewan Kebudayaan Kampus ini adalah langkah awal. Gubernur NTB lanjut Bang Irul, selalu menyampaikan bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah pertama. “Inilah langkah pertama itu untuk kebudayaan kita yang maju,” cetusnya.

Sementara Ketua Yayasan Dea Mas, Hj Niken Saptarini Zulkieflimansyah mengatakan, UTS didirikan oleh Dr. H. Zulkieflimansyah dengan niat memberikan kesempatan kepada generasi muda Sumbawa dan NTB untuk mengenyam pendidikan tinggi berkualitas. Mendengar kata teknologi dari UTS, biasanya selalu dikaitkan dengan hal-hal yang sulit. Karena itu Dr Zul selaku pendiri memahaminya bahwa sebagai manusia membutuhkan sisi sosial. Dibangunlah Kampus IISBUD dan AKOM.

Baca Juga  Dihadiri Utusan Presiden, UNSA Mewisuda 594 Mahasiswa

Olat Maras ungkap Hj Niken yang juga Ketua TP PKK NTB ini, adalah tempat untuk bertukar pikiran dalam meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Dan di tempat ini telah digagas sebuah gerakan untuk melestarikan budaya dengan membentuk Dewan Kebudayaan Kampus yang akan mengkaji budaya Tau dan Tana Samawa. Ia berharap kehadiran lembaga ini membawa semangat baru bagi semua civitas untuk berkarya dan mengejar cita-cita dalam kerangka kebersamaan, sinergi dan kebahagiaan. “Kesuksesan itu seiring dengan rasa bahagia yang dicapai oleh orang orang di dalamnya. Dengan rasa bahagia itu mereka bisa mengeluarkan potensi dan kreatifitas yang nantinya akan melahirkan inovasi-inovasi baru,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda