Paradigma Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini pada Masa “Golden Age”

oleh -94 views
bankntb

Oleh: Eti Suryani (Mahasiswa Program Studi S1 PG-PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka)

OPINI PENDIDIKAN, 29 Oktober 2020

“Perkembangan bahasa anak usia dini dimulai sejak bayi dengan berlandaskan pada pengalaman, kecakapan dan progres dalam berbahasa. Perkembangan bahasa merupakan media yang efektif bagi anak dalam menjalin komunikasi sosial yang akan memudahkan anak dalam mengutarakan apa yang ia inginkan dan sampaikan kepada orang lain”. (Penulis)

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling tepat untuk mengembangkan bahasa karena masa kanak-kanak berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat. Masa kanak-kanak ini disebut dengan istilah The Golden Age, yaitu masa keemasan. Pada masa ini berbagai potensi yang ada dalam diri manusia berkembang dengan pesat. Salah seorang tokoh pendidikan anak usia dini yang terkenal, menyatakan bahwa pada rentang usia lahir sampai usia 6 tahun anak mengalami masa keemasan yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif menerima berbagai stimulus. Salah satu aspek penting dalam perkembangan anak adalah aspek perkembangan bahasa.

Menurut Vygotsky dalam Ahmad Susanto (2012: 73), menyatakan bahwa bahasa merupakan media untuk mengungkapkan ide dan bertanya, bahasa juga menciptakan konsep dalam kategori-kategori berpikir. Selain itu bahasa juga merupakan sarana dalam berkomunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena di samping berfungsi sebagai media untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain juga sekaligus sebagai media untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain.

Sedangkan Menurut Jahja, (2011:53) bahasa merupakan media untuk berkomunikasi. Dalam artian mencakup semua cara untuk berkomunikasi. Untuk mengungkapkannya seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, dan ekspresi wajah. Yang mana pemikiran dan emosi diungkapkan dalam bentuk simbol. Selanjutnya menurut Santrock (2007:353) bahasa adalah suatu bentuk komunikasi yang berupa lisan, tertulis atau isyarat yang berdasar pada suatu sistem dari simbol-simbol. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan berdasarkan aturan-aturannya untuk merangkai bermacam-macam variasi dan memadukannya.

Baca Juga  Advokasi Disabilitas, FFD Produksi Film “The Feelings of Reality”

Bahasa memegang peranan penting daIam pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan. Khususnya di TK dan PAUD, fungsi bahasa ini dijelaskan dalam Depdikbud bahwa pengembangan kemampuan berbahasa anak di TK dan PAUD bertujuan agar anak dapat berkomunikasi dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud yaitu, lingkungan teman sebaya, maupun dengan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Perkembangan bahasa anak berkembang dari yang mudah menuju yang rumit.

Perkembangan bahasa anak merupakan perpaduan antara interaksi sosial, perkembangan emosi, kemampuan intelektual, dan perkembangan fisik maupun motoriknya. Perkembangan bahasa untuk anak usia dini meliputi empat pengembangan yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pengembangan tersebut harus dilakukan seimbang agar memperoleh perkembangan yang optimal. Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, perbendaharaan bahasa mereka juga meningkat dalam kapasitas, keluasan dan kerumitan. Anak-anak secara bertahap beralih dari melakukan ungkapan menjadi melakukan ungkapan dengan berkomunikasi, yang juga beralih dari komunikasi melalui gerakan menjadi tuturan.

Anak usia dini pada umumnya telah mampu mengembangkan keterampilan berbicara melalui percakapan kepada orang lain. Mereka dapat mengaplikasikan bahasa dengan beberapa cara seperti bertanya, berdialog dan bernyanyi. Sejak usia sekitar 2 tahun anak-anak mulai menunjukkan minat untuk mengucapkan nama benda, nama warna, nama hewan, dan nama-nama lainnya yang menarik perhatiannya. Minat tersebut terus berkembang seiring dengan bertambah usia dan membuktikan bertambahnya perbendaharaan kata.

Dengan banyaknya kosa kata yang di miliki oleh anak, anak mampu berkomunikasi dengan baik di lingkungannya yang lebih luas. Ada dua kategori dalam keterampilan berbahasa, yakni keterampilan berbahasa reseptif dan keterampilan berbahasa produktif. Keterampilan berbahasa reseptif adalah keterampilan bahasa yang diaplikasikan untuk memahami sesuatu yang disampaikan melalui bahasa lisan dan tulisan. Adapun yang termasuk bahasa reseptif adalah kegiatan menyimak dan membaca. Sedangkan, Keterampilan berbahasa produktif adalah keterampilan bahasa yang diaplikasikan untuk menyampaikan informasi baik secara tertulis maupun lisan. Adapun yang termasuk bahasa produktif adalah kegiatan menulis dan berbicara.

Baca Juga  Gerak Jalan Budaya Warnai Hari Guru dan PGRI

Keterampilan bahasa anak khususnya pada kategori reseptif yaitu menerima bahasa, pada tingkat perkembangan yakni menyimak perkataan orang lain dan memahami cerita dengan mendengarkan guru atau teman berbicara, mendengarkan cerita sederhana, melukiskan kembali isi cerita secara sederhana, dan menyebutkan tokoh-tokoh didalam cerita. Perkembangan bahasa pada anak secara perlahan beralih dari melakukan ekspresi suara lalu berekspresi dengan berkomunikasi, dan dari hanya berkomunikasi dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk menunjukkan keinginannya, berkembang menjadi komunikasi melalui tuturan yang tepat dan jelas. Tahapan perkembangan anak yang diungkapkan melalui pikiran dan menggunakan kata-kata yang menandakan meningkatnya kemampuan dan keterampilan anak sesuai dengan tahap pengembangannya.

Menurut Amelia (2018: 14) Pengembangan berbahasa pada AUD di sekolah, lebih ditujukan pada (I). Kesanggupan dalam menyampaikan pikiran kepada orang lain, (II). Mengembangkan perbendaharaan kata, (III). Menangkap pembicaraan orang lain, dan (IV) Keberanian untuk mengemukakan pendapat. Oleh karena itu, pemahaman tentang perkembangan bahasa anak tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa karena guru harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan bahasa.

Berbahasa tidak dapat dipisahkan dengan berbicara dan berpikir. Secara tidak disadari, ketika orang berbicara selalu menggunakan pengetahuan bahasa dan pikirannya. Tanpa hal tersebut, ungkapan yang terlahir adalah ucapan yang berada di luar pemikirannya atau bahkan ucapan yang salah. Bentuk kesalahan dalam berbicara pada anak mempunyai latar belakang dan alasan yang tidak selalu sarna antara anak yang satu dengan anak yang lain. Hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor, baik faktor dari luar dan dari dalam diri anak. (*)

iklan bapenda