Ironi Pendidikan di Sumbawa pada Masa Pandemi: Antara Si Miskin dan Si Kaya  

oleh -97 views
bankntb

Oleh: Kaminah Cendrakasih, S.Pd (Mahasiswa Universitas Terbuka Mataram)

OPINI, 27 Oktober 2020 

Sejak diumumkan untuk pertama kali kasus COVID-19 di Sumbawa pada Maret 2020 yang lalu, penyebaran virus covid 19 semakin meluas dan mengkhawatirkan. Pasien pertama yang berasal dari Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa yang diduga pernah bersentuhan dengan pasien positif virus COVID-19, dengan riwayat pasien pulang dari Lombok dan mengeluh tidak enak badan, flu, tensi naik, serta jantung berdebar, sehingga dibawa ke RSU. Dan saat pasien asal Lunyuk berangsur sembuh disusul dengan pasien lainnya, Tercatat di Sumbawa sendiri terdapat 9 (Sembilan) orang atau 4,17% terkonfirmasi positif Covid-19 yang masih diisolasi atau dirawat. Sedangkan 90,74% atau 196 orang lainnya telah selesai isolasi atau selesai dirawat. Case Fatalty Rate (CFR)adalah 5,09% dengan 11 orang meninggal dunia dari total 16 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 (Sumber Satgas-Covid-19)

Selanjutnya untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk, dua minggu berselang Pemerintah memutuskan untuk meliburkan seluruh kegiatan pembelajaran di sekolah mulai dari jenjang PAUD hingga Perguruan Tinggi. Dan menginstruksikan seluruh sekolah dan perguruan tinggi untuk mengadakan segala kegiatan pembelajaran via daring atau yang dikenal dengan BDR (Belajar Dari Rumah) selama 2 pekan mulai dari Selasa 17 Maret 2020.

Pembelajaran yang semulanya biasa dilakukan dengan tatap muka, secara singkat siswa harus merasakan langsung dampak dari penyebaran Covid-19. Memang sulit untuk menghentikan penyebaran virus ini. Akan tetapi kita sebagai manusia harus bisa menekan penyebaran virus ini dengan mematuhi kebijakan pemerintah.

Kesenjangan Media Pendukung

Baca Juga  Raperda APBD Perubahan NTB 2020 Diketok

Kebijakan pemberhentian kegiatan pendidikan memang bisa dibilang sukses. Namun pembelajaan daring tidak semudah yang dipikirkan. Ketika ada sebagian orang yang berfikir bahwa menyenangkan sekali belajar daring karena tidak perlu ribet keluar rumah, tinggal duduk manis di rumah dan bahkan semua dilakukan bisa sambil tiduran. Itu ialah pemikirian anak-anak elit, orang kaya atau Pejabat. Namun pemikiran menyenangkan itu tidak sepenuhnya benar. Karena tidak semua anak itu memiliki media pendukung yang sama untuk belajar daring seperti Handphone Android dan Laptop.

Bahkan pernah terekspos oleh media sosial Facebook betapa sulitnya anak-anak untuk mengikuti pembelajaran via daring bahkan sampai ada yang bekerja paruh baya hanya untuk bisa membeli Handphone android dan membeli paket. Terkadang tuntutan sekolah yang mengharuskan untuk bisa melakukan tatap muka melalui video seperti Zoom, Google Meet, dll. Tapi apakah pihak sekolah tidak memahami kekurangan media pembelajaran yang siswa hadapi.

Jaringan Tak Memumpuni

Selain masalah dengan kuota internet sebagian yang menjadi permasalahan anak-anak sulit dalam mendapatkan materi pembelajaran yaitu pada jaringan yang terkadang membuat anak-anak harus mencari lokasi atau tempat yang tinggi agar mendapatkan jaringan yang bagus. Tentu ini miris sekali ketika melihat kenyataan bahwa di masa modern ini masih saja ada daerah yang belum mendapatkan jangkauan sinyal. Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah.

Posisi anak-anak keluarga Miskin

Bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin, pembelajaran via daring yang sepenuhnya mengandalkan teknologi adalah kemustahilan. Sementara untuk keluarga yang berasal dari keluarga menengah dan atas masih memiliki ruang untuk mengoptimalkan proses pendidikan di rumah. Pertama, akses mereka  terhadap perangkat digital dan koneksi internet relatif memadai. Kedua, kapasitas orangtua dalam mendampingi anak relatif baik. Ketiga, mereka punya kesempatan untuk bekerja dari rumah sehingga kesempatan mendampingi anak pun menjadi lebih terbuka.

Baca Juga  Kajari Ingatkan Rekanan Pasar Brang Bara Harus Bonafit

Lalu bagaimana nasibnya anak-anak yang kurang mampu?

Ya permasalahan ini bisa menjadi PR pemerintah untuk bagaimana menyelaraskan pembelajaran agar anak-anak yang kurang mampu bisa mengikuti pembelajaran via daring/online.

Kuota Internet Gratis Dari Pemerintah

Apabila kita mengenal daring/ online tentu hal ini tidak terlepas dari yang namanya paket data. Nah kebutuhan untuk tetap online itu juga menguras kantong. Mereka yang kaya bakal tidak khawatir dengan paket data mereka sendiri, bahkan mereka bisa membeli paket data sebanyak yang mereka kehendaki.

Harga mahal pun tidak menjadi masalah bagi mereka, tapi bagi mereka kelas menengah ke bawah atau orang kecil yang biaya hiduppun masih perlu di perjuangkan apalagi untuk membeli kuota setiap bulannya. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Ketika pemasukan orangtua mereka menurun drastis, malahan ditambah lagi dengan pengeluaran mereka meningkat karena tuntutan paket data.

Pemerintah memang sudah mendengar keluhan masyarakat dan berjanji akan memberikan bantuan kuota kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Kabar mengenai kuota gratis ini membuat mereka bisa bernafas lega dan gembira. Namun satu hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah yaitu ketepatan sasaran penerima kuota bantuan. (*)

 

 

iklan bapenda