Kampanye di Desa Kemuning, Masyarakat Keluhkan Roster Kerja Karyawan Tambang

oleh -6 views
bankntb

SUMBAWA BARAT, samawarea.com (6/10/2020)

Banyak masukan, harapan dasn keluhan masyarakat yang disampaikan kepada Calon Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Syaifuddin ST saat melakukan di Desa Kemuning Kecamatan Sekongkang, belum lama ini. Salah satunya keluhkan roster kerja karyawan yang bekerja di tambang yang terlalu lama dan berat.

amdal

Ibu Hasti—salah satu istri karyawan PT Machmahon mengeluhkan penerapan loster kerja karyawan yang bekerja di tambang yang terlalu lama. Sebab selama dua bulan, ia harus terpisah dengan suami, hanya Hari Minggu waktu yang bisa dimanfaatkan untuk bertemu keluarga. “Anak kami butuh bimbingan seorang ayah, kalau kita ingin ketemu di luar hari libur kita diberikan waktu di Hari Minggu saja hanya saling lihat dari balik pagar serasa di penjara. Jadi saya kasian sekali melihat suami saya harus bekerja keras seperti kerja rodi, yang harus terpaksa bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup anak istrinya tanpa menikmati pekerjaannya. Lewat momen ini kami sangat berharap kepada Bapak Calon Wakil Bupati Sumbawa Barat yang juga masih menjabat Wakil Bupati untuk roster kerja karyawan di berikan kelonggaran,” pintanya.

Ketika roster kerjanya tidak bisa dirubah, lanjut Hasti, ia berharap masa karantina dua minggu di Mataram ini diubah tempatnya yaitu di rumah mereka sendiri. “Kami akan berkomitmen dalam kurun waktu dua minggu jadwal karantina yang ditetapkan perusahaan akan benar-benar kami terapkan dengan sistem karantina di Lombok saat ini, yang penting bisa bertemu dengan keluarga, agar suami saya tidak stres dalam bekerja,” tukasnya.

Baca Juga  Bupati Gelontorkan Bantuan 1,2 M di Tarano

Menanggapi hal itu Calon Wakil Bupati Sumbawa Barat mengatakan apa yang menjadi harapan masyarakat KSB dengan pemerintah daerah, sama. Ketika perusahaan akan menerapkan roster kerja baru 8-2-2 dan melakukan karantina di Mataram, pihaknya mengajukan protes keras. Dalam tawaran yang diberikan pihaknya dipaksa memilih roster kerja 8-2-2 karena ini yang paling ringan. Sebab kalau dipersempit lagi maka akan ada kekosongan dalam bekerja atau ada waktu yang berbenturan. “Sehingga kami menawarkan kembali untuk Karantina jangan di Lombok, manfaatkan fasilitas yang ada di KSB, kalau dengan jumlah karyawan yang terlalu banyak. Untuk karyawan lokal diminta untuk dikarantina mandiri di rumah masing-masing walaupun dengan aturan yang ketat itu juga kita ditolak. Bahkan perusahaan balik menawarkan kalau karyawan tidak setuju dengan roster kerja tersebut kami menawarkan untuk karyawan dirumahkan dengan menerima hanya gaji pokok. Tapi karyawan banyak yang memilih untuk mengikuti roster kerja 8-2-2,” beber Bang Fud—akrab figure ramah ini disapa.

Sebagai bentuk protes pemda terhadap kebijakan perusahaan terkait karantina di Mataram, ungkap Bang Fud, dengan menyetop kapal yang ingin menyeberang membawa karyawan ke Lombok untuk dikarantina sampai ada kesimpulan dari permasalahan tersebut. “Tapi kami tidak punya kekuatan lebih karena ini bukan kewenangan pemerintah daerah, sehingga kami sangat sulit untuk mencari celah untuk menekan perusahaan. Sakit hati ini sama dengan perasaan ibu-ibu sekalian dengan sikap perusahaan. Tapi kami mau bilang apa, jadi untuk saat ini kita jalani saja dulu sembari kami di pemerintah mencari ruang ruang yang bisa kami intervensi,” tandasnya. (HEN/SR)

iklan bapenda