Terapkan Kurikulum Merdeka, FEB UTS Optimalkan Youtube

oleh -14 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (21/9/2020)

Sejak dicanangkan awal Tahun 2020 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, Program Kampus Merdeka telah banyak memberi perspektif baru dalam pengelolaan pendidikan tinggi di Indonesia. Meski demikian, banyak pengelola Perguruan Tinggi merasa kesulitan untuk menerapkan kebijakan Kampus Merdeka tersebut, baik karena alasan kerumitan administratif, maupun ketidak-siapan sumber daya manusia (SDM). Berbeda dengan banyak perguruan tinggi tersebut, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mencanangkan dirinya sebagai universitas pertama yang akan menerapkan program Kampus Merdeka di bawah pimpinan Rektor Chairul Hudaya, PhD.

Kemampuan beradaptasi adalah kunci sukses UTS dalam menerapkan Program Kampus Merdeka. Sejak dicanangkan pertamakali, setiap unit kerja di UTS menerapkan berbagai program inovatif untuk merespon program itu. Secara serentak, seluruh program studi melakukan penyesuaian kurikulum, kesempatan belajar mahasiswa di luar kelas dalam bentuk bina desa dan magang bersertifikat dikembangkan, hingga metode pembelajaran online yang sesuai dengan kondisi kesiapan mahasiswa dan dosen diterapkan. Salah satu unit kerja yang paling maju dalam adaptasi teknologi guna implementasi program Merdeka ini adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Upaya adaptasi terhadap program Merdeka di UTS sempat mengalami kendala akibat meluasnya pandemi covid-19. Meski demikian, kemampuan adaptasi yang tinggi yang dimiliki oleh para pengelola UTS, khususnya di FEB membuat kendala itu dapat diatasi dengan baik dan bijak. Pada masa awal pandemi, FEB UTS menerapkan metode pembelajaran online dengan memanfaatkan platfom video conference seperti zoom, cloudX, google meet, dan lain sebagainya. Namun setelah dievaluasi, media pembelajaran online berbasis video conference tersebut tidak efektif dan kurang cocok dengan kondisi mahasiswa di Sumbawa karena jaringan internet tidak stabil, kuota internet mahasiswa terbatas, dan banyak mahasiswa tidak memiliki perangkat elektronik yang memadai dan compatible dengan aplikasi video conference tersebut. Akibatnya, banyak mahasiswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Selain itu, penggunaan aplikasi video conference tersebut juga menyulitkan fakultas untuk memonitor pelaksanaan perkuliahan oleh dosen.

Baca Juga  Siswa MAN 1 Sumbawa dan MIN Tarano Wakili NTB di KSM Nasional

Belajar dari hasil evaluasi tersebut, pada semester baru ini, FEB UTS menggunakan metode asinkron sebagai teknik pembelajaran online. Setiap dosen diharuskan untuk membuat video pembelajaran yang harus di-upload di channel Youtube paling lambat satu hari sebelum jadwal kuliahnya berlangsung setiap pekan. Setiap dosen kemudian diharuskan untuk mengirimkan link video pembelajaran itu ke Ketua Program Studi sebagai laporan. Jika tidak mengupload video pembelajaran, dosen tersebut dinyatakan tidak menghadiri atau dengan sengaja mangkir dan melalaikan tugasnya untuk mengajar. Pada sisi yang lain, mahasiswa juga diwajibkan untuk menonton video pembelajaran tersebut pada jadwal kuliah yang telah ditetapkan. Sebagai bukti kehadiran dalam perkuliahan, mahasiswa diwajibkan untuk menuliskan komentar di kolom komentar video Youtube tersebut. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran dapat dipantau dengan baik oleh pengelola FEB UTS. “Cara ini dipilih karena mahasiswa dapat mengakses youtube pada jam dan tempat tertentu secara bebas yang jaringan internetnya cukup kuat dan stabil. Selain itu, mahasiswa juga dapat menonton video pembelajaran secara berulang-ulang agar materi ajar dapat ditangkap dengan baik. Adapun untuk memfasilitasi diskusi lebih dalam mengenai materi ajar itu, setiap kelas telah dibuatkan group whatsapp sebagai media diskusi terarah antara mahasiswa dan dosen” kata Muhammad Nurjihadi yang akrab disapa Mas Jihad, Dekan FEB UTS memberi penjelasan.

Dikatakan Jihad selaku inisiator metode pembelajaran berbasis Youtube ini, dunia berubah semakin cepat setiap hari. Jika tidak mampu beradaptasi dengan cepat, maka akan terus tertinggal. Meski nampak sederhana, optimalisasi Youtube sebagai media pembelajaran online di FEB UTS ini dianggap sebagai cara terbaik untuk menyiasati kondisi pembelajaran di Sumbawa. Selain karena jaringan internet yang tidak stabil di Sumbawa, penggunaan Youtube sebagai media pembelajaran juga relatif lebih hemat kuota, lebih mudah digunakan, dan lebih baik dalam mengontrol kinerja pengajaran dosen. “Kita terkadang latah dan terjebak menggunakan perangkat-perangkat mutakhir dalam pembelajaran, seperti penggunaan zoom, dan lainnya, padahal itu tidak cocok dengan kondisi kita di daerah yang jangkauan internetnya masih terbatas. Kita memiliki banyak alternatif pembelajaran online lain yang nampak lebih sederhana, tapi jauh lebih efektif dan efisien, itulah yang kita lakukan di FEB, membuat yang biasa jadi tidak biasa,” tutup Mas Jihad. (SR)

 

iklan bapenda