Sabaruddin Bahagia, Dibebaskan Jaksa Sebelum Diproses Pengadilan

oleh -8 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (10/9/2020)

Sabaruddin (50) sangat bahagia. Betapa tidak, tersangka kasus penganiayaan ini tak menyangka bisa dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Warga Dusun Mekar Jaya Desa Suka Mulya Kecamatan Labangka ini dibebaskan pihak Kejaksaan Negeri Sumbawa, padahal kasusnya belum sempat diadili di Pengadilan Negeri Sumbawa. Sabaruddin pun menghirup udara segar, Kamis (10/9/2020) sore, setelah Kajari Sumbawa didampingi para Kasi menyerahkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) kepadanya. “Alhamdulillaah, saya sangat bersyukur,” ucap Sabaruddin saat dicegat samawarea.com ketika hendak meninggalkan Kantor Kejaksaan di Jalan Manggis 7 itu.

Ia mengaku telah menjalani masa penahanan hampir tiga bulan lamanya sejak kasusnya diproses di kepolisian hingga belum lama ini dilimpahkan ke Kejaksaan, menyusul berkas perkaranya lengkap (P21). Namun tanpa diduga, kejaksaan membebaskannya. “Ini hadiah dari kejaksaan yang tidak saya duga. Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Kajari dan para jaksa. Terima kasih kepada keluarga korban, kepala desa dan semua pihak yang telah memudahkan proses ini,” ucapnya lirih, seraya menyatakan tidak akan mengulangi lagi perbuatan tindak pidana apapun, karena tidak ingin kembali mendekam di balik jeruji besi.

Untuk diketahui, Sabaruddin melakukan penganiayaan terhadap korban Ramli Leo pada Bulan Juni 2020. Ini berawal dari permasalahan tanah. Antara pelaku dan korban masih berhubungan ipar, karena adik kandung korban adalah istri pelaku. Persoalan tanah ini sempat dimediasi kepala desa setempat. Dalam mediasi itu, korban meminta tanah yang dibukanya pada Tahun 1997 lalu itu yang sedang digarap pelaku. Namun pelaku menolaknya sehingga korban mengeluarkan kata-kata yang cukup menyinggung. Karena itu pelaku memukul korban dengan tangan mengepal mengenai pipi korban. Kasus inipun dilaporkan ke Polsek dan diproses sehingga Sabaruddin dijadikan tersangka dan ditahan, dijerat pasal 351 ayat (1) KUHP. Dalam perjalanannya, korban dan pelaku berdamai. Sebab sejak pelaku masuk penjara, semua kebutuhan hidup isteri dan anak pelaku ditanggung korban. Kasus pelaku inipun memenuhi syarat bagi kejaksaan untuk menerapkan sistem restorative justice. Karena itu pelaku dibebaskan dari tuntutan dan kasusnya tidak dinaikkan ke proses peradilan.

Baca Juga  Pemda KSB Tegaskan Blok Batu Nampar Tanah Negara

Hal ini diakui Kajari Sumbawa, Iwan Setiawan SH., M.Hum dalam jumpa persnya, Kamis (10/9/2020). Restoratif justice ini ungkap Kajari, lebih menekankan pemulihan seperti semula terhadap korban, bukan mengedepankan penerapan hukuman atau pembalasan terhadap tersangka. Ini merupakan implementasi Peraturan Kejaksaan nomor 15 tahun 2020. Penyelesaian perkara tindak pidana dengan mengedepankan keadilan restoratif ini juga menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan keseimbangan perlindungan dan kepentingan korban dan pelaku tindak pidana yang tidak berorientasi pada pembalasan. Di samping itu restorative justice ini untuk mengefektifkan proses penegakan hukum yang diberikan oleh Undang-Undang dengan memperhatikan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, serta menetapkan dan merumuskan kebijakan penanganan perkara untuk keberhasilan penuntutan yang dilaksanakan secara independen demi keadilan berdasarkan hukum dan hati nurani.

Disebutkan Kajari, ada dua perkara yang ditangani kejaksaan saat ini yang masuk kriteria restorative justice. Selain kasus penganiayaan dengan tersangkas Sabaruddin, ada kasus pencurian ternak di Kecamatan Moyo Hulu, Juli 2020. Namun pada kasus pencurian ternak ini yang dibebaskan ada tiga orang yang berperan sebagai pengangkut ternak hasil pencurian dan yang membeli ternak tersebut. Ketiganya sudah berdamai dan mengganti kerugian yang dialami korban. Ancaman hukumannya pun hanya 4 tahun penjara, dan tersangka baru pertamakali melakukan tindak pidana tersebut. “Kami masih mengidentifikasi perkara tindak pidana lainnya. Jika memenuhi syarat maka akan diajukan untuk dilakukan restoratif justice,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda