Home / Kesehatan / PENYEBARAN COVID-19 YANG MENGAKIBATKAN LEMAHNYA EKONOMI MASYARAKAT

PENYEBARAN COVID-19 YANG MENGAKIBATKAN LEMAHNYA EKONOMI MASYARAKAT

Oleh: Gita Cahya Sudarmin Putri (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Mataram)

OPINI, 31 Juli 2020

Bermula dari kota Wuhan di Tiongkok, virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) menyebar ke berbagai negara di dunia dan menyebabkan timbulnya penyakit COVID-19 di mana-mana. Pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Kondisi ini jelas tidak boleh diremehkan karena hanya ada beberapa penyakit saja sepanjang sejarah yang digolongkan sebagai pandemi.

Pandemi adalah sebuah epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkiti banyak orang. Sementara, epidemi merupakan istilah yang digunakan untuk peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi di area tertentu. Istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan tingkat keparahan suatu penyakit, melainkan hanya tingkat penyebarannya saja. Dalam kasus saat ini, COVID-19 menjadi pandemi pertama yang disebabkan oleh virus corona.
Sebelum adanya pandemi tersebut, telah terjadi berbagai pandemi influenza di dunia. Di mana salah satunya adalah flu babi yang merebak pada tahun 2009. Penyakit ini terjadi ketika strain influenza baru (H1N1) menyebar ke seluruh dunia. Sementara itu, kasus pandemi influenza terparah di dunia terjadi saat pandemi flu Spanyol pada tahun 1918, yang menyebabkan 50 juta kematian di seluruh dunia.

Penyebaran virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab pandemi Covid-19 menjadi kegelisahan dan kekhawatiran banyak kalangan, termasuk Indonesia. Meski pemerintah sudah mengambil berbagai langkah strategis, tapi peran kaum muda untuk aktif memastikan advokasi kesehatan masyarakat disebut penting. Kaum muda menjadi kelompok masyarakat sipil yang memiliki jangkauan luas dan sumber daya potensial untuk mendorong kebijakan yang efektif dalam memastikan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di berbagai daerah di Indonesia. Untuk mendorong peran kaum muda ini, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Solidaritas Berantas COVID-19 (SBC), telah menerima aplikasi dari 267 kaum muda dari seluruh Indonesia.

Aplikasi tersebut akan memperkuat pendataan dan pengolahan materi advokasi agar kaum muda dapat ikut menyuarakan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah, terkait pencegahan dan pengendalian Covid-19. Per Senin (6/4/2020), tercatat 62 perwakilan organisasi kaum muda dan individu dari 23 provinsi tergabung dalam koalisi Gerakan #GardaMudaBerantasCOVID19. Ada pun, perwakilan organisasi kaum muda tersebut bergerak dalam dua batalion yang memiliki beberapa misi. Mulai dari pemetaan kasus dan kondisi implementasi kebijakan efektif di daerah, analisa rekomendasi kebijakan, serta kampanye kreatif. Senior Advisor on Gender and Youth to the WHO DG, Diah Saminarsih menyampaikan bahwa peran kaum muda dalam situasi darurat kesehatan tidak dapat dikesampingkan. Menurut dia, kaum muda memiliki kapasitas dan kesempatan untuk menciptakan lingkungan pemungkin (enabling environment) dalam situasi apa pun, termasuk dalam situasi darurat kesehatan. “Mereka memiliki kecepatan, ketangguhan, kecerdasan, serta jejaring untuk menginisiasi inovasi berbasis teknologi sehingga memudahkan masyarakat bahkan pengambil keputusan atau kebijakan di daerah masing-masing,” kata Diah dalam diskusi online bertajuk “Pelibatan Kaum Muda dalam Respon Darurat COVID-19 di Indonesia”, Senin (6/4/2020).

CISDI berperan sebagai focal point yang memiliki jejaring ke organisasi profesi kesehatan, peneliti, laboratorium, hingga pemerintah pusat. Menurut Diah, kesempatan ini menjadi salah satu aset yang harus kita optimalkan bersama agar tidak terjadi kesenjangan informasi antara kaum muda di satu daerah dengan daerah lainnya. Direktur Program CISDI, Egi Abdul Wahid mengatakan bahwa organisasi mahasiswa menjadi kelompok strategis yang dapat menghimpun suara masyarakat serta meneruskannya kepada pada para pembuat kebijakan di daerah masing-masing. Koordinasi dan konsolidasi telah dilakukan dengan perwakilan organisasi mahasiswa di beberapa daerah agar mereka memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengambil peran di masyarakat. Tujuan utamanya untuk mengaktivasi upaya pencegahan serta melakukan komunikasi risiko di masyarakat. “Salah satu agenda utama pertemuan (daring) hari ini adalah peningkatan kapasitas terkait situasi nasional, serta pemetaan kebutuhan advokasi agar kaum muda terlibat lebih jauh dalam perumusan kebijakan di daerah,” ujar dia.

Konsolidasi ini diharapkan dapat memberikan temuan-temuan baru mengenai implementasi kebijakan di daerah dan mendorong kontribusi kaum muda dalam pencegahan dan penanganan Covid-19.

Coronavirus adalah keluarga besar virus yang bisa menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit pernapasan paling parah, seperti Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS). Sejak pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019, wabah ini telah berkembang sangat cepat. WHO lalu melabeli wabah virus corona Covid-19 ini sebagai pandemi global.
Gejala khas corona Covid-19 sendiri termasuk demam, batuk, kesulitan bernapas, nyeri otot hingga kelelahan. Pada kasus yang lebih parah, virus ini bisa menyebabkan pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut, sepsis dan syok septik. Kabar baiknya, 80 persen orang dengan positif corona Covid-19 ini berhasil pulih dan hanya 6 persen yang mengalami penyakit kritis. Meski begitu, hingga kini jumlah orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 ini masih meningkat setiap hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus corona (Covid-19) sebagai pandemi. Pandemi ditandai dengan penyakit baru yang belum dikenali dan menjangkiti banyak negara dalam waktu yang bersamaan. Kemudian, memiliki jejak epidemologi, yaitu jejak jumlah penderita yang cukup besar dari setiap negara.

Dalam keadaan ini, pemerintah menyarankan bagi individu-individu yang merasa dirinya merupakan Orang Dalam Pemantauan (ODP), untuk melakukan mekanisme Isolasi Mandiri untuk mencegah penularan penyebaran virus Corona. Selama 14 hari tersebut, seorang ODP sebaiknya memisahkan dirinya dari keluarganya, termasuk penggunaan kamar mandi dan barang-barang. Makan pun diusahakan memakai barang yang terpisah atau berada di ruangan yang terpisah. Kalaupun harus berada dalam satu ruangan yang sama, jagalah jarak dengan anggota keluarga yang lain setidaknya satu meter. Jangan lupa juga untuk selalu memakai masker bedah ketika berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain. Bersihkan juga alat makan dan pakaian yang kamu gunakan terpisah dengan anggota keluarga yang lain. Bersihkan benda yang kamu sering pakai, dan pergunakan sarung tangan karet saat membersihkan rumah ataupun kamar mandi. Cuci tangan dengan sabun dan air secara teratur, terutama sebelum dan setelah makan, bersin, dan batuk. Bila gejala semakin memburuk, pergilah ke klinik kesehatan terdekat, tanpa menggunakan transportasi publik. Bila terpaksa harus menggunakan transportasi publik, jaga jarak dengan penumpang lain.

Bila kamu mempunyai binatang peilharaan, tahanlah dirimu untuk tidak memegang atau mencium hewan-hewan tersebut selama masa isolasi mandiri. Ungsikan juga anggota keluarga yang terhitung sudah manula. Bukalah ventilasi udara di rumahmu, agar sinar matahari dan udara dapat masuk dengan bebas. Mari bersama-sama mencegah penularan virus Corona dimulai dari kesadaran akan kondisi tubuh, serta penahanan diri untuk tidak merugikan orang lain.

Jumlah positif Covid-19 di NTB terus bertambah. Berdasarkan data kasus terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat melalui laman resmi covid19.go.id bahwa ada 4 kasus positif baru di Provinsi Nusa Tenggara Barat per 12 April 2020 pukul 12.00 WIB.Sejauh ini, jumlah total kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi di NTB tercatat menjadi 37 orang.Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat 2 pasien yang telah sembuh dari Covid-19 hari ini. Sedangkan 2 pasien dilaporkan meninggal dunia.

Hingga saat ini, akumulasi jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19 di Imdonesia sendiri telah mencapai 4.241 orang. Angka tersebut bertambah 399 orang dari hari sebelumnya. Sementara itu, jumlah pasien yang berhasil sembuh dari Covid-19 sebanyak 359 orang. Sedangkan pasien yang meninggal akibat virus corona yakni mencapai 373 orang.
Diimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang, menghindari keramaian, menjaga kesehatan dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat, serta mengurangi aktivitas di luar rumah. Pemerintah Provinsi juga menyediakan laman resmi Satgas Pemerintah Provinsi NTB Penanganan Covid-19 melalui laman http://corona.ntbprov.go.id dan untuk Layanan Provincial Call Centre (PCC) Penanganan Penyebaran Pandemik Covid-19 di NTB 0818 0211 8119. (*)

Lihat Juga

Sosialisasi Sanksi Denda Tak Pakai Masker, Pengendara Dihukum Push-up  

LOMBOK BARAT, samawarea.com (8/8/2020) Pasca disahkannya Perda tentang Penanggulangan Penyakit Menular atau Covid-19 oleh Dewan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *