Home / Kesehatan / Keluarga Balita Positif Covid Bantah Tudingan Tidak Jujur

Keluarga Balita Positif Covid Bantah Tudingan Tidak Jujur

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (26/5/2020)

Keluarga balita berumur 4 tahun yang positif Covid yang tercatat sebagai warga Kelurahan Seketeng Kecamatan Sumbawa, memberikan klarifikasi. Klarifikasi ini untuk meluruskan terkait adanya tudingan pihak RSUD Sumbawa yang menyatakan bahwa mereka tidak jujur dan tidak terbuka terhadap tenaga medis terkait riwayatnya sehingga menjadi penyebab puluhan tenaga medis di RSUD termasuk dokter spesialis dan dokter umum diisolasi.

Juru Bicara Keluarga, M Ridwan SP yang merupakan kakek buyut balita tersebut kepada samawarea.com, Selasa (26/5/2020) sore, membantah tudingan tersebut. Dalam keterangan pihak rumah sakit keluarga balita ini tidak jujur dari awal, sehingga ditangani secara pasien umum. Setelah ada gejala mengarah ke covid barulah terungkap jika korban tinggal serumah dengan pamannya yang baru datang dari Jakarta.

Menurut Ridwan yang juga anggota DPRD Sumbawa ini, paman balita tersebut sudah berada di Sumbawa dari Jakarta sejak sebulan lebih atau 34 hari yang lalu. Ketika tiba di Sumbawa, paman balita yang memiliki rumah di Kelurahan Seketeng melaporkan diri ke Puskesmas Seketeng atau Gugus Tugas Kecamatan. Pamannya pun melakukannya isolasi mandiri sesuai dengan anjuran dan waktu yang ditentukan yakni selama 14 hari. Setelah itu paman balita ini pulang ke rumahnya di Lantung. Di rumah itu ada balita ini. Meski di kartu KK beralamat di Seketeng, tapi secara fisik balita tersebut tinggal di Kecamatan Lantung. Saat di Lantung, paman balita selalu menjaga jarak dengan keponakannya itu. Bahkan pamannya rela tinggal di kolong rumah (kebetulan rumah panggung). Padahal masa karantina mandiri sebenarnya sudah selesai, tapi demi menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan, pamannya tetap melanjutkan isolasi mandiri. Namun ketika balita ini sakit perut setelah banyak makan jambu, dengan terpaksa pamannya membawa ke rumah sakit. Ini dilakukan karena situasi emergency. “Itupun sudah 20 hari pamannya jaga jarak dengan balita ini, ditambah 14 hari saat berada di Seketeng,” ujar Ridwan.

Sehingga ketika pertamakali dibawa ke RSUD Sumbawa, keluarga merasa tidak perlu untuk menyampaikan terkait pamannya itu. Sebab dari prosedur kesehatan sesuai anjuran gugus tugas, sudah dilaksanakan, bahkan jauh melebihi waktu yang ditentukan untuk melakukan isolasi mandiri. Selama dalam perawatan, kondisi balita ini sedikit memburuk karena tidak makan. Bahkan gejala lain menyerang seperti pilek dan batuk. Karena dinyatakan usus buntu atau gangguan usus, ungkap Ridwan, buyutnya inipun dirujuk ke Mataram untuk menjalani operasi. Tiba di Mataram, malamnya langsung dioperasi. Selama beberapa hari, balita ini tidak makan, ditambah dengan ruangan yang tidak sehat dan penanganan yang kurang maksimal dari petugas medis disana, membuat kondisi balita itu kian lemah. Mendapat khabar itu, Ridwan mengaku turun tangan menghubungi petugas di sana sembari mengancam akan melaporkan cara penanganan mereka kepada Gubernur NTB. Sejak itulah balita ini tertangani dengan baik dan kondisi berangsur-angsur pulih. “Hampir setiap menit petugas di rumah sakit itu menghubungi saya terkait progress kesehatan buyut saya ini,” aku Ridwan.

Ia menduga, balita tersebut tidak terjangkit Covid di Sumbawa. Besar kemungkinan terpapar saat dalam penanganan di Mataram, karena awal penanganan yang kurang bagus. (JEN/SR)

Lihat Juga

Menghadapi New Normal Tempat Wisata di KSB Mulai Dibuka dari Mantar

SUMBAWA BARAT, samawarea.com (26/6/2020) Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) resmi membuka pariwisatanya. Ini dimulai ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *