Home / Pendidikan / ROMANTIKA SEMIOTIKA MUDIK DALAM LAGU SUMBAWA

ROMANTIKA SEMIOTIKA MUDIK DALAM LAGU SUMBAWA

samawarea.com (26/4/2020)

Oleh: Roy Marhandra

Charles Saunders Peirce mendefinisikan semiotika sebagai suatu hubungan antara tanda (simbol), objek, dan makna. Tanda mewakili objek referent) yang ada di dalam pikiran orang yang menginterpretasikannya (interpreter). Peirce menyatakan bahwa representasi dari suatu objek disebut dengan interpretant. Misalnya, ketika kita mendengar kata “mudik” maka pikiran kita akan mengasosiasikan kata itu dengan aktifitas atau fenomena tertentu. Kata “mudik” itu sendiri bukanlah sebuah aktifitas atau kegiatan, namun asosiasi yang kita buatlah (interpretant) yang menghubungkan keduanya. Elemen tersebut yaitu: 1) Tanda, yaitu kata “mudik” yang terdiri atas sejumlah huruf, atau singkatnya kata “mudik” adalah wakil dari tanda, 2) Referen (referent). yaitu objek yang tergambarkan oleh kata “mudik” yang terbentuk dalam pikiran kita yaitu berbagai aktifitas masyarakat yang menjadi tradisi tahunan pulang kampung untuk menjenguk keluarga pada saat moment idul fitri, 3) Makna, yaitu hasil gabungan tanda dan referen yang terbentuk dalam pikiran. Makna mudik bagi mereka yang menjadikan mudik ini sebagai sebuah tradisi melepas rindu dengan keluarga, kerabat pastinya menjadi moment yang membahagiakan. Berbeda halnya bagi mereka yang mengenal kata mudik ini hanya sekedar ritual masyarakat dan tidak menjadikannya sebagai suatu tradisi tahunan.

Ada beberapa kutipan syair lawas Sumbawa yang membangun narasi-narasi kerinduan akan kampung halaman yang menggambarkan suasana hati para pemudik. Ma mole andi ma mole, ma mole lako bale kita, pang rep kayu guger den saling asih (pulanglah adinda, pulanglah ke rumah kita, di teduhnya pepohonan daunnya berguguran saling mengasihi) . Lagu klasik sumbawa yang menyimbolkan kerinduan seorang kakak kepada adik, seorang kekasih terhadap kekasihnya yang nun jauh disana. Petikan syair lagu keberikutnya gubahan yuni sara, Ling palabu poto tano, ku notang ke ai mata, ku tari kanatang sia (di pelabuhan dermaga poto tano, aku merindu mu dengan genangan air mata, aku menunggu kedatangan mu). Pilihan beberapa kata didalam bait syair tersebut menjadi penanda suasana hati yang sedang rindu.

Berkaitan dengan mudik, saya menangkap pesan dari beberapa percakapan teman-teman di group Whatsapp, bahwa mudik sebenarnya berbicara tentang rindu, sama halnya dengan apa yang terkandung dalam bait lagu sumbawa diatas. Tanda-tanda yang dimunculkan dalam percakapan berupa kondisi gelisah, sedih, kesal, berbesar hati, dan berbagai macam kondisi lainnya menggambarkan seseorang yang rindu kampung halaman dan orang tua. Mudik bukan saja menjadi kebutuhan jasmani, tetapi juga menjadi kebutuhan rohani. Memenuhi kebutuhan rohani berupa silaturrahmi dengan keluarga, menjenguk orang tua sebagai tanda pengabdian, dan saling memaafkan dipenghujung ramadhan. Dalam teori Maslow (baca:Hierarki kebutuhan) menyebutkan bahwa pemuasan berbagai kebutuhan didorong oleh dua kekuatan yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) dan motivasi perkembangan (growth motivation). Motivasi kekurangan bertujuan untuk mengatasi masalah ketegangan manusia karena berbagai kekurangan yang ada. Sedangkan motivasi pertumbuhan didasarkan atas kapasitas setiap manusia untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun mudik tidak termasuk kebutuhan dasar (basic need), tetapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita harus menunggu waktu yang cukup lama, satu tahun bahkan dua atau tiga tahun, baru dapat terpenuhi. Motivasi kekurangan (deficiency motivation) dalam hal ini, ada sesuatu yang kurang ketika didalam satu tahun atau jangka waktu tertentu kita tidak memenuhi kebutuhan untuk mudik.

Kata mudik saat ini viral di medsos, semenjak presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan larangan mudik dengan tujuan memutus mata rantai pemularan covid 19. Hal ini patut kita dukung, karena   tentunya pemerintah telah melalui proses yang panjang mengeluarkan kebijakan tersebut dengan pertimbangan yang matang. Berbagai reaksi berdatangan, dan tidak sedikit yang  menolak dikarenakan berbagai alasan. Dari alasan ekonomi hingga   keinginan untuk berkumpul bersama keluarga.  Yang lebih viral lagi yaitu banyak yang mempertentangkan terminology mudik dengan pulang kampung. Jika kita berangkat dari teori semiotik maka kita akan coba menyambungkan fenomena tersebut melalui  tiga pendekatan yaitu: 1) semantik; 2) sintaktik; dan 3) pragmatik (Morissan 2017).

  1. Semantik

Semantik membahas bagaimana tanda berhubungan dengan referennya, atau apa yang diwakili suatu tanda, Semiotika menggunakan dua dunia yaitu “dunia benda” (world of things) dan dunia tanda (world of signs) dan menjelaskan hubungan keduanya.’ Jika kita bertanya, “Tanda itu mewakili apa?” nmaka kita berada di dunia semantik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mudik berarti berlayar atau pergi. Secara epistemologi mudik berarti pulang ke kampung halaman. Jadi mudik adalah suatu perjalanan pulang ke kampung halaman dalam kurun waktu tertentu untuk bertemu dan berkumpul dengan sanak keluarga dan terjadi saat momentum khusus

  1. Sintaktik

Wilayah kedua dalam studi semiotika adalah sintaktik (syntactics) yaitu studi mengenai hubungan di antara tanda. Dalam hal ini tanda tidak pernah sendirian mewakili dirinya. Tanda adalah selalu menjadi bagian dari sistem tanda yang lebih besar, atau kelompok tanda yang diorganisasi melalui cara tertentu. Sistem tanda seperti ini disebut dengan kode (code). Kode dikelola dalam berbagai aturan, dengan demikian tanda yang berbeda mengacu atau menunjukkan benda berbeda, dan tanda digunakan bersama-sama melalui cara-cara yang diperbolehkan. Menurut pandangan semiotika, tanda selalu dipahami dalam hubungannya dengan tanda lainnya. Dalam hal ini memungkinkan terjadinya ruang perselisihan pendapat tentang makna mudik dan pulang kampung. Ketika dalam situasi tertentu sistem kode yang memberi ruang hubungan antara tanda yang satu dengan tanda yang lain. Kata mudik adalah istilah yang dibentuk oleh beberapa tanda di dalamnya, sementara pulang kampung adalah dua kata atau dua tanda yang membentuk sistem kode dari kata mudik itu sendiri.

  1. Pragmatik

Wilayah ketiga dalam studi mengenai semiotika adalah pragmatik yaitu bidang yang mempelajari bagaimana tanda menghasilkan perbedaan dalam kehidupan manusia, atau dengan kata lain pragmatik adalah studi yang mempelajari penggunaan tanda serta efek dihasilkan tanda. Aspek pragmatik dari tanda memiliki peran penting dalam komunikasi khususnya untuk mempelajari mengapa terjadi pemahaman (understanding) atau kesalahpahaman (misunderstanding) dalam berkomunikasi.” Dari perspektif semiotika, kita harus memiliki pengertian yang sama tidak saja terhadap setiap kata dan tata bahasa yang digunakan, tetapi juga masyarakat dan kebudayaan yang melatarbelakanginya agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik. Sistem hubungan di antara tanda harus memungkinkan komunikator untuk mengacu pada sesuatu yang sama.” Kita harus menmiliki kesatuan rasa (sense of coherence) terhadap pesan, jika tidak maka tidak akan ada pengertian dalam komunikasi.

Pernyataan Presiden Jokowidodo tentang pelarangan mudik bisa saja ditafsirkan berbeda oleh para penerima pesan, dikarenakan tidak adanya kesatuan rasa. Seorang perantau yang tinggal dan menetap di Jakarta menggunakan kata mudik sebagai sebuah aktifitas pulang kampung datang menjenguk keluarga dan setelah itu balik lagi ke Jakarta. Seorang Mahasiswa yang tinggal di Jakarta menetap untuk sementara di Jakarta, menggunakan kata mudik sebagai sebuah aktifitas pulang kampung datang menjenguk keluarga dan setelah itu kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan tugasnya sebagai Mahasiswa, tetapi statusnya tidak permanent. Sementara istilah pulang kampung dapat muncul dua persepsi yang berbeda yaitu pulang kampung untuk selamanya dan bisa juga pulang kampung dan untuk selanjutnya kembali lagi.

Terkait polemik istilah mudik dan pulang kampung yang saat ini berkembang didalam masyarakat, nampaknya perlu kita persatukan melalui satu lagi bait lagu yang mengundang kerinduan yang mendalam terhadap Ramadhan dan syawal.

Ramadhan tangko leng syawal

Takbir umat sajagad

Tendri diri ai mata

Totang ka palangan jangi

Selamat berjuang kepada kawan-kawan di rantauan. Tanpa mudik atau pulang kampung, semangat dan silaturrahmi kita tetap ditautkan dalam bingkai BERSATU MELAWAN CORONA. (*)

 

Lihat Juga

Tanpa Riwayat, Mahasiswi UTS Terpapar Covid

SUMBAWA BESAR, samawarea.com (8/7/2020) Dua kasus baru positif Covid asal Kabupaten Sumbawa yang dirilis Gugus ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *